Thursday, March 31, 2016

Song of the Day: Infection by Chihiro Onitsuka

"In the night, I sit down
As if I'm dead
[...]
When, I wonder,
did I become this weak?"
Lirik lengkap dari jpopasia.com
(Go ahead and click it! The meaning of this song doesn't disappoint.)

Mungkin seminggu-dua minggu yang lalu gw menemukan (kembali) Chihiro Onitsuka. Dan kemarin ini gw sempat mikir mau buat post tentang lagu Gekkou (Chihiro Onitsuka). Tapi beberapa hari yang lalu gw nemuin lagu Infection ini, dan akhirnya malah lagu ini yang lebih nempel di kepala gw daripada Gekkou.

Lagu Infection ini sejauh yang gw pahami, isinya mengungkapkan rasa frustasi seseorang akan kelemahan yang munculnya tiba-tiba. Kelemahan ini bisa diartikan berbagai macam: bisa jadi sebuah penyakit (kalau kita ambil makna lagu ini secara harfiah), bisa jadi kecelakaan, bisa.... macam-macam. Bahkan ada yang berpendapat juga, kalau lagu Infection ini bisa jadi tentang perasaan seseorang yang frustasi karena orang yang disukainya tidak merasakan hal yang sama, dan begitu kuatnya rasa frustasi itu hingga "menggerogoti" dirinya.

Yang menarik dari lagu ini (secara makna) ada di bagian bridge-nya.

"Growing more and more to fear
Every little fever that comes along
I may have little chance
But, still, I must wake up
"

Gw sengaja bold italic bagian lirik yang menarik.
"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi tetap, aku harus bangkit"
Lebih kurang itu terjemahan bagian yang gw highlight. Bagian-bagian lain menceritakan seberapa hancur hatinya, tapi bagian itu menunjukkan bahwa dia masih mau berusaha bangkit. Walaupun mungkin kemungkinan dia bisa kembali seperti semula sangat kecil, dia tetap harus berusaha bangkit.

Kembali kita kaitkan dengan makna lagu keseluruhan yang agak buram tadi, kita bisa ambil banyak makna:
Untuk yang sakit: Walaupun kemungkinan sembuh kecil, aku harus tetap semangat
Untuk yang kecelakaan: Walaupun kemungkinan aku kembali seperti dulu, aku harus tatap masa depan
Untuk yang patah hati: Walaupun hatiku hancur berkeping-keping, aku harus move on 

Banyak makna yang bisa kita tarik, tergantung apa yang kita sedang alami sebagai seorang pendengar. Tapi intinya tetap: Berusahalah untuk tetap bersemangat dan bangkit.

Gw sejauh ini baru dengar beberapa lagu dari Chihiro Onitsuka. Ada Infection (yang kali ini gw bahas), Gekkou (yang tadinya mau gw bahas), Rasen (lagu Chihiro Onitsuka yang pertama gw dengar beberapa tahun lalu), dan Memai (yang baru kemarin gw dengar). So far, gw suka lagu-lagunya. Makna lagu-lagunya mungkin nggak se-puitis Regina Spektor, tapi ada sesuatu yang khas dari Chihiro Onitsuka yang bikin gw sangat tenang kalau lagi dengerin lagu-lagu tadi. Mungkin suatu hari gw akan bahas lagu-lagu Chihiro Onitsuka lagi. Mungkin Gekkou.

(Ya. Gw tahu gw udah keseringan bilang "Mungkin lain kali akan bahas ......", tapi karena ngga bisa post tiap hari, jadinya agak susah untuk keep up dengan perbendaharaan lagu gw yang lagi expand lagi, jadi... yah... beginilah... Wkwkwk...)


Tuesday, March 15, 2016

Song of the Day: Open by Regina Spektor

"I am in a room I built myself
Four straight walls, one floor, one ceiling,
And day after day I wake up feeling,
And day after day I wake up feeling, feeling,
Potentially lovely,
Perpetually human,
Suspended in open,
Open, open, open"

Salah satu hal yang gw suka dari Regina Spektor adalah keberagaman topik yang bisa diangkat dalam lagu-lagunya. Kadang Regina bicara tentang waktu, tentang cinta, tentang kemanusiaan, tentang agama, dan ada kalanya dia bicara tentang nemuin dompet di pinggir jalan. (?) (-__-)
(Trust me, lagu tentang nemu dompet itu lebih bagus dan lebih bermakna dari kedengarannya.)

Dari pertama gw dengar lagu Open, hal pertama yang ada di kepala gw adalah tentang kamp konsentrasi Nazi. Dan memang banyak juga orang yang bilang kalau lagu ini menurut mereka adalah tentang kamp konsentrasi Nazi itu. Dengan pemahaman ini, maka bridge lagu ini menjadi sangat indah.

"Di malam hari, salju mulai turun
Dan semua orang menatap lampu jalan
Lewat jendela kamar mereka
Terlalu indah untuk dilihat"

Bayangkan orang yang sedang dikurung dalam penjara. Mungkin jendela mereka kecil sulit diraih. Tapi suatu hari mereka semua melihat pemandangan musim dingin lewat jendela sel mereka yang kecil itu, dan menurut mereka itu sangat indah. Sesuatu yang biasanya saja menurut orang kebanyakan, yaitu lampu jalan di musim dingin, jadi sangat indah, terlalu indah, untuk mereka, karena mereka jarang melihat itu.

Tentunya di sisi lain, ada juga yang bilang kalau ini cerita tentang ketika tentara Nazi meninggalkan semua tahanan dalam kamp waktu musim dingin tanpa peduli kalau mereka akan mati kedinginan atau kelaparan. (-__-)

Anyway, gw juga suka banget lagu ini karena seakan-akan lagu ini didesain dengan sebegitu rupa sehingga seruan "Open, open, OPEN" benar-benar terasa... open. Terasa lega, luas. Sementara itu, untuk bagian bridge lagu, yang menceritakan tentang keindahan pemandangan malam di musim dingin, membuat gw otomatis membayangkan pemandangan salju yang berkilauan turun pelan-pelan di malam hari. Bener-bener membuat gw hanyut dalam makna lagu ini.

Menurut gw, ini luar biasa. Manusia itu makhluk visual. Artinya, kita lebih mudah menangkap sesuatu yang kita lihat dibanding yang kita dengar. Jadi ketika ada orang yang bisa benar-benar menggambarkan sesuatu ke kita hanya lewat audio aja, menurut gw itu luar biasa banget. Ngga banyak lagu yang bisa begini. Ngga banyak lagu yang notasi, komposisi, dan aransemennya bisa dengan sempurna menggambarkan isi lagu itu.

Masih banyak sebenarnya yang bisa digali dari lagu ini selain bridge dan komposisinya. Tentang lirik "Potentially lovely, perpetually human" misalnya. Ini lirik yang ngga umum kita jumpai dalam lagu-lagu pop saat ini kan? Tapi, mungkin sementara ini gw bahas tentang ini dulu aja. Mungkin suatu hari nanti, gw akan buat lagi tulisan berjudul "Open by Regina Spektor (part 2)". Hehehe... :D

Akhir kata, ini gw attach lagu Open dari Regina Spektor yang direkam untuk the Live Room. Enjoy!

 

NB: Versi studio recording lagu ini menggunakan orkestra yang lebih full, dan membuat bagian Open menjadi terkesan lebih mengena daripada versi the Live Room. Go check it out! :D

Sunday, February 28, 2016

Song of the Day: Mamotte Agetai by Yuzu

"I want to protect you, even if trials are waiting for us
Since the first time we met, our destiny become one
Don't forget, when you turn around
I'm always by your side"
translation dari http://chrisk69.exteen.com/20140113/12422-12378-yuzu-23432-12387-12390-12354-12370-12383-12356-m dengan sedikit perubahan

Udah lama gw ngga ngepost.
Ada banyak banget yang gw harus lakukan akhir-akhir ini, dan kadang kalau ada waktu kosong, akhir-akhir ini gw sering pakai untuk nonton anime lama sambil cari lagu baru untuk didengar.

Ceritanya gw nemuin lagu ini sebenernya ngga sengaja. Gw suka nonton anime Hunter x Hunter, dan kebetulan ada soundtrack Hunter x Hunter yang gw suka. (Ngga. Soundtrack itu bukan lagu ini.) Jadi gw browse di youtube tentang penyanyi lagu itu. Dan asal play aja playlist lagu-lagu band Yuzu ini. Ternyata ada lagu ini di antara daftar lagu itu.

Mengenai lagu ini, tahu ngga apa yang lucu? Gw suka banget sama lagu ini, tapi di antara lagu-lagu Yuzu yang gw dengerin, lagu ini salah satu yang paling jarang gw dengerin. Nah loh? Kenapa?

Karena lagu ini bisa bikin gw nangis.

Lagu ini sekilas kita dengar biasa aja. Secara irama dan komposisi, ngga kayak lagu-lagu Regina Spektor yang nyeleneh deh. Tapi yang bikin gw nangis pertama adalah video klipnya (nanti gw attach di bawah) yang seperti mini-movie. Video klipnya menceritakan tentang seorang perempuan yang miskin, mungkin yatim piatu juga, dengan boneka beruangnya.

Video klip ini sangat connect banget sama gw, karena gw juga punya satu boneka beruang kesayangan yang selalu jadi teman gw setiap gw lagi sedih atau dalam masalah. Gw orangnya tertutup, jadi seringkali ketika gw ada masalah, atau lagi nangis, yang menemani gw yah boneka beruang itu. Karena itulah lagu ini bisa bikin gw nangis. Setiap gw denger, gw jadi ingat video klipnya... Hehehe...

Arti lagu ini juga bagus banget.

Di tengah trend lagu (di luar lagu rohani) yang isinya kalau ngga bertema rebellious, tentang patah hati, atau tentang "You're so perfect, I love you so much", gw nemuin sebuah lagu yang malah isinya "Aku ingin melindungimu."

Kalau dipikir-pikir, kebanyakan lagu sekarang isinya self-centric, lebih bercerita tentang "gw mau have fun", "gw sakit hati", "lo nyakitin gw". Kadang ada lagu yang "You're so perfect, I love you so much", tapi entah kenapa ada banyak yang gw denger liriknya terdengar kayak gombal. (Yes, I'm talking about you: One Direction and Bruno Mars) Opini pribadi sih, tapi opini pribadi ini cukup untuk membuat gw jauh-jauh dari lagu "That's What Makes You Beautiful" dan "Just the Way You Are". (Eh sebut merek deh)

Tapi lagu ini entah kenapa beda. Mungkin banyak yang akan bilang, kalau lirik lagu ini sama gombalnya dengan lagu-lagu yang disebut di atas. Tapi entah kenapa, ketika gw baca lirik ini, yang ada di pikiran gw pertama-tama bukan kata "gombal", tapi "devotion".

Aku ingin melindungimu. Aku selalu ada di sampingmu. Ketika kamu sedang sedih, sedang dalam masalah yang berat, jangan lupa kalau aku selalu siap. Aku ingin mewujudkan impianmu, agar kamu bisa tersenyum dan bersinar. Dengan segenap kekuatanku, aku ingin selalu melindungimu.

Lagu ini ngga bicara tentang betapa sempurnanya orang itu sehingga si penyanyi jatuh cinta, seakan-akan itu ngga penting. Itu makna mendalam yang gw tangkap. Itu makna yang menurut gw ngga membuat lagu ini jadi gombal.

Selain lagu ini, banyak juga ternyata lagu-lagu Yuzu yang bagus. Baik secara komposisi yang kreatif, berani mix genre dengan (misalnya) folk atau (mungkin) salsa (gw ngga terlalu paham genre-genre lagu), atau maknanya yang bagus. Yuzu sangat worth listening. Untuk kalian yang belum pernah denger lagu Yuzu, gw sangat recommend lagu-lagu mereka, selain lagu "Mamotte Agetai" ini. Gw terutama suka lagu "Reason" dan "Nagareboshi Kirari" (soundtrack Hunter x Hunter), dan juga "Ame Nochi Haleluya". Mungkin kapan-kapan kalau ada waktu gw cerita lagi tentang lagu Yuzu, kalau lagu Regina Spektor lagi ngga nyantol di kepala. Hehehe...


Video klip Mamotte Agetai dari official account Yuzu

Monday, November 9, 2015

Song of the Day: You by Sachiko Kumagai

"In the wind, smile
Even if it's hard, smile
Even if just once, smile"

Lagi-lagi song of yesterday sebenernya... Hehehe...

Sebenarnya tulisan di bawah gw post di facebook kemarin malam, tapi lagi malas copy-paste ke blognya, karena mobile device di rumah suka error ketika mau coba ngetik di blog, harus pakai laptop, dan laptop gw itu... Ehm.. Udah ada error di hardware-nya kayaknya, jadi susah untuk connect ke Internet.

Hari ini pun agak malas juga untuk edit isi post ini, jadi yah, anggap aja tulisan di bawah di-post jam 12 malam kemarin yah. Hehehe...
(Bener-bener blogger yang buruk, udah lama ngga nge-post, giliran nge-post malah malas... Ckckck...)


Lagu ini adalah soundtrack anime lintah air mata yang pernah gw tonton duluuuuu banget, judulnya "Akachan to Boku", diterjemahkan jadi "Baby and I".

Jujur gw lupa sama anime ini sampai tadi siang. Begitu gw ingat, gw langsung coba cari lagu ini pas senggang dikit di kantor untuk gw taruh di playlist. Alhasil, gw hampir nangis di kantor.

Gimana ngga berasa mau nangis? Lagunya sendu banget, bikin gw langsung ingat sama Takuya (yes gw ingat namanya hari ini, kemarin lupa) dalam cerita ini yang begitu sayang sama adiknya, Minoru, dan ngerawat adiknya itu sejak kecil karena Mamanya udah meninggal dan Papanya harus kerja. Dan in return, Minoru juga sayang banget sama si Kokonya ini.

Dan bomnya, gw coba cari arti lirik lagu ini tadi barusan, dan artinya bangus dan dalam banget. Gw bisa bayangkan seorang kakak yang sayang sama adiknya mencoba nenangin adiknya yang lagi nangis pakai lagu ini.

Bisa dibilang, ini adalah Song of the Day gw. Lagu ini punya nilai sentimental, nilai makna, dan cocok sama selera musik gw yang lebih prefer lagu-lagu slow dan sendu. Sangat recommended untuk dengerin lagu ini. Daripada dengerin lagu galau tentang putus cinta tanpa alasan yang jelas, lebih baik lagu ini deh. Hehehe...


Thursday, September 24, 2015

Song of the day: O Noble Youth Who Has Left Me, by Julie Fowlis


Kali ini gw ngga bisa posting liriknya. Hehehe... Jadi langsung taruh videonya aja dulu di atas.

Gw seneng banget dengerin lagu-lagu Julie Fowlis. Ada energi yang berbeda dari lagu ini yang membuat gw asik nari-nari kayak faerie aneh di kamar gw sendiri... Wkwkwkwk...

Mungkin ngga ada nilai moral tertentu yang akan gw bahas dari lagu ini. Makna lagunya aja masih dalam proses mencerna. Tapi seenggaknya, gw sangat mengapresiasi nilai budayanya.

Setiap kita harus bisa mencoba untuk membawa nilai budaya kita. Kita ngga harus jadi total sukanya dangdut yang NB adalah produk asli Indonesia, atau nari tradisional masing-masing daerah. Menurut gw pribadi, yang penting kita berusaha untuk membawa salah satu atau lebih dari nilai budaya kita ke dalam identitas kita masing-masing. Ini kembali ke kemampuan dan selera kita masing-masing.

Gw sendiri, contohnya, mencoba untuk mempelajari dan menekuni bermain angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat. Adik gw, dulu belajar kolintang, dan sekarang arumba. Ada orang lain yang memilih sasando. Orang lain lagi belajar pencak silat. Pringkilan budaya inilah yang kemudian suatu hari nanti bisa kita bawa untuk mengenalkan orang lain pada budaya Indonesia.

Budaya Indonesia apa yang kalian junjung?

Monday, September 21, 2015

Song of the day: Firewood by Regina Spektor

"The piano is not firewood yet
But the cold does get cold, so it soon might be that
.......
Love what you have, and you'll have more love
You're not dying
Everyone knows you're going to love
Though there's still no cure for crying"

Piano ini masih belum dibakar. Tapi karena dingin, mungkin sebentar lagi piano ini akan jadi kayu bakar.

Begitu kata Regina Spektor. Emang siapa yang mau bakar piano?
Sebenarnya ini adalah cara Regina untuk bilang, nasi belum jadi bubur.
Masih ada waktu. Masih ada kesempatan.
Tapi waktu berlalu dengan cepat, jadi jangan buang waktu.

Keseluruhan lagu ini berbicara tentang hal yang sama: waktu.

Jangan buang waktu untuk bermalas-malasan.
Jangan buang waktumu, waktu bisa segera habis.
Jangan buang waktumu, nanti kamu akan menyesal ketika kamu sadar bahwa kamu kehabisan waktu.

Jangan buang waktumu untuk menyayangi sesuatu yang tidak menyayangimu.

Cintai apa yang kamu punya, dan kamu akan semakin dicintai.

Ini bagian lain yang gw suka renungkan dari lagu ini.
Kita sering mengeluh karena harus melakukan sesuatu yang tidak kita suka. Padahal, semakin banyak kita mengeluh, semakin kita benci dengan hal itu, semakin kita menderita. Sebaliknya, jika kita berusaha menyukai hal itu, berusaha melewati semuanya dengan suka hati, hidup kita akan semakin berbahagia.

Ada pengalaman pribadi yang gw alami sendiri tentang ini.
Gw pernah nangis-nangis minta pindah jurusan kuliah. Waktu itu gw sepet banget sama desain interior, dan pengen pindah ke jurusan bahasa aja. Tapi akhirnya karena ngga tega sama Mami n Papa yang jadi stress gara-gara itu, gw ngalah. Gw tetap di desain interior, berjuang untuk bisa melibatkan hati di bidang ini. Dan ngga diduga, justru desain gw semakin membaik (menurut standar gw) sejak gw mencoba sepenuh hati di bidang desain ini.

I tried to love what I have, and I surely feel more love now.

Coba deh kalian renungkan, mungkin hal serupa pernah terjadi untuk kalian. Atau mungkin kalian memakai dari sudut pandang lain (tentang cowok, misalnya *ehem*). Tapi rasanya prinsip live what you have ini akan tetap berlaku.


On another side, gw suka lagu ini secara artistik. Apa lagi interlude solo pianonya. Regina oh Regina. Dan kita belum ngomongin Braille yang solo pianonya lebih menghanyutkan lagi...



Sunday, September 20, 2015

Song of the day: One More Time With Feeling by Regina Spektor

"Hold on one more time with feeling
Try it again, breathing just a rhythm
Say it in your mind until you know that the words are right
This is why we fight"

Jangan bosen-bosen yah liat nama Regina di blog gw. Orang satu ini memang lagunya bagus-bagus, mempunyai multi-layered interpretation dan artistic value yang tinggi. Hehehe... Menurut gw doang sih...

Okay, ini sebenernya bukan soundtrack hari ini (or yesterday). Lagu ini adalah lagu yang memberi gw kekuatan selama gw ngerjain tugas akhir dulu.

Kadang kita ngerasa capek, putus asa, bosan, mentok, dan sebagai-bagainya waktu lagi mengejar sebuah tujuan. Dalam kasus gw, yaitu ketulusan kuliah. Tapi kita ngga boleh nyerah. Kita harus coba lagi, coba lagi.

Dosen mungkin boleh aja bilang hasil kerja kita kurang bagus sampai berkali-kali. Buat penulis, mungkin banyak yang bilang tulisannya jelek. Performers, ngga menarik dan ngga ada nilai jual. Setiap kali kita berusaha, pasti kita akan tetap dapat kritik negatif dari orang-orang yang punya selera berbeda dengan kita. Tapi kita ngga boleh nyerah kalau kita mendengar kritik negatif atau cibiran orang lain. Kita harus terus bertahan, coba lagi terus sampai berhasil. Malah, kalau kita mendengar kritik itu, kita harus lebih lagi mencurahkan hati kita ke hasil karya kita, karena hasil karya yang dibuat dengan penuh perasaan dan sukacita akan jauh lebih mengenal dan berhasil daripada hasil karya yang dibuat sambil menggerutu.

Hold on. Do it one more time, with more feeling. It's just the rhythm of life.



Saturday, September 19, 2015

Song of the day: Touch the Sky by Julie Fowlis


"I will hear their every story
Take hold of my own dream
Be as strong as the seas are stormy
And proud as an eagle's scream
I will ride, I will fly
Chase the wind and touch the sky
I will fly
Chase the wind and touch the sky"

Liriknya spirit-lifting banget kan?

Lagu ini emang bener-bener cocok untuk membangkitkan semangat yang udah down. Gw suka banget iramanya yang rada Celtic dan cheerful. Bahkan gw pernah nyanyi lagu ini di pinggir jalan sambil jalan pulang dari kantor karena ngga nahan sama iramanya yang asyik... Hehehe...

#builtinmp3playerinmyhead

Kalau kita bener-bener baca liriknya full, lagu ini isinya bagus banget, terutama di bait kedua. Isi bait keduanya, walaupun hidup kita ini banyak tantangannya, kita tetap harus semangat, maju terus, dan gigih mengejar mimpi kita.

Mungkin segini aja ulasan song of the day hari ini. Soalnya isi liriknya pretty straightforward sih, jadi ngga perlu banyak penjelasan. Jadi... Enjoy!


Friday, September 18, 2015

Song of the day: Fidelity by Regina Spektor

"Suppose I never ever met you
Suppose we never fell in love
Suppose I never ever let you
Kiss me so sweet and so soft
Suppose I never ever saw you
Suppose you never ever called
Suppose I kept on singing love song
Just to break my own fall"

Ada banyak alasan kenapa gw suka lagu ini.

Satu.
Ini salah satu lagu pertama yang mengenakan gw pada penyanyi favorit gw, yaitu Regina Spektor. Jadi, ini nilai sentimental.

Dua.
Gw paling suka sama hal-hal yang bermain dengan bunyi. A capella, phonetic-linguistic, itu gw suka. Ini salah satu hal yang gw suka dari Regina Spektor. Dia suka banget main bunyi dan aksen. Dia pernah niruin suara dolphin di lagunya, chair-drumming, faux French horn, faux bass drum...
Eh jadi ngelantur.
Intinya, gw suka banget penggunaan epiglotal stop di bagian refrain.
"And it breaks my hea-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-art...."
Ini nilai artistik.

Tiga.
Yang paling penting.
Ada bagian yang bisa dimaknain lebih dalam.
"Suppose I..... Suppose we..... Suppose you....."
What if.
Frase yang cukup berbahaya tanpa kita sadari.
"Seandainya begini, pasti ini ngga akan terjadi."
Intinya, keluhan dan penyesalan.

Kita semua pasti pernah gagal karena kesalahan kita sendiri. Kita lupa melakukan sesuatu, kita pernah mengambil keputusan yang salah. Atau kadang kesalahan orang lain, tapi kita yang kena imbalan. Dan biasanya kalau udah begitu, kita suka bilang, "Coba tadi........(fill in the blanks)........"

Kenapa gw bilang frase ini berbahaya?
Frase "What if" bisa menyeret kita berlarut-larut dalam ketidakpuasan yang ngga ada akhir kalau kita ngga bisa move on dari masalah itu.
Bukan berarti berandai-andai itu ngga berguna. Sebenernya cukup berguna dalam kadar yang kecil. Cukup untuk cari tahu kesalahan kita dia mana supaya kita ngga salah lagi. Tapi kalau lebih dari itu, kalimat itu cuma buat kita bad mood, putus asa, dan masalah kita ngga selesai-selesai.

Jadi baiknya, jangan terlalu banyak berandai-andai tentang masa lalu yang udah lewat. Cukup jadikan pelajaran, lalu move on dan jalani kehidupan dengan lebih baik lagi.

Now here's the clip of my song of the day...


Wednesday, September 16, 2015

Song of the Day: "On the Radio" by Regina Spektor

"So this is how it works:
You're young until you're not
You love until you don't
You try until you can't
You laugh until you cry
You cry until you laugh
And everyone must breathe
Until their dying breath"


Hari ini, entah kenapa, lirik lagu di atas menembus kuping gw bak peluru. Padahal lagu ini adalah salah satu lagu yang dulu sering gw dengerin, tapi ngga pernah liriknya sampe senancep ini.

Bagian yang paling kena di hati gw adalah "You laugh until you cry, you cry until you laugh..." Di tengah suasana gw yang lagi down, mendadak lirik ini jadi kekuatan buat gw.

As time goes, everything will heal.

Seberapa hancurnya pun hati gw, suatu hari nanti gw akan bisa ngelewatin masalah ini dengan hati yang sembuh. Ngga selamanya hati kita akan sedih, dan ngga selamanya juga hati kita bahagia. Sedih itu wajar dan akan berlalu.

But.....

Kita harus dan putusin dulu: mau move on, atau masih mau berlarut-larut dalam kesedihan.

Move on itu perlu usaha, perlu kemauan, dan kebulatan hati. Kita ngga akan bisa move on kalau masih ada bagian hati kita yang masih kecanduan sama masalah itu. Ibarat kata, walaupun tangan kita udah dijulurin di atas tong sampah, kita ngga bisa naruh sampah kalau kita ngga bersedia ngebuka jari-jari tangan kita. Nah setelah kita buka telapak tangan kita, tinggal gaya gravitasi dan waktu yang akan membuat sampah itu masuk ke tong sampah.

Jadi, move on itu pasti bisa kalau kita mau usahakan, itulah bagian dari roda kehidupan kita.