Showing posts with label Watch List. Show all posts
Showing posts with label Watch List. Show all posts

Monday, October 30, 2017

Watch List: Thor Ragnarok (2017) [NON SPOILER]

Gw paham kalau film ini baru banget rilisnya, jadi gw mengusahakan untuk tidak spoiler ke kalian mengenai jalan ceritanya.

Overall, menurut gw film ini entertaining. Marvel never disappoint me in that aspect. Secara visual, film ini (seperti film-film Marvel lainnya) sangat memanjakan mata. Untuk tone-nya, baik secara visual, setting, dan humor, film ini jauh lebih mirip dengan film Guardians of the Galaxy (2014) dan sekuelnya (2017) dibandingkan dengan film the Avengers (2011) dan kedua film Thor sebelumnya (2011 dan 2013).

Tapi menurut gw, masalahnya adalah film ini terlalu banyak bercanda. I think this is quite a problem, soalnya gw adalah salah satu orang yang selama ini ngga terlalu masalah dengan hujan jokes di film-film Marvel selama ini. Jadi waktu gw bilang film ini terlalu banyak bercanda, maksud gw adalah film ini bener-bener kebanyakan bercanda. Ini sudah bukan hujan jokes lagi, tapi sudah jadi banjir bandang.

Menurut gw ini sayang banget, karena sebenernya banyak banget hal yang menurut gw bagus dalam film ini. Mulai dari hubungan kakak-adik Thor dan Loki yang digali cukup dalam di film ini, hubungan pertemanan antara Banner - Thor - Hulk (Thor's not a being a great friend to either of them in this movie), juga ada tentang moral dan pengorbanan. Gw bahkan bisa belajar sesuatu dari salah satu karakter sampingan one-off di film ini. Tapi masalahnya, semua itu tertutup dengan jokes yang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Salah satu kekecewaan gw di bagian story telling adalah adanya setback dari karakter Thor yang sudah berkembang selama ini. Gw ngga baca komiknya, jadi gw ngga tahu apa ini karena mereka mau ikutin komiknya atau gimana, tapi karakter Thor yang di film pertama mengalami reform dari egotistical dan sombong jadi noble dan humble, lalu dikembangkan lagi di film-film Marvel setelahnya ke arah yang cukup konsisten, entah kenapa di film ini karakternya kayak mulai berbalik arah lagi. Ini cuma opini gw, mungkin akan ada yang ngga setuju, but I'm getting that vibe dari keputusan-keputusan dan perilaku Thor dalam film ini. Mungkin juga ini karena becandaan yang tidak pada tempatnya.

Akhirnya, buat gw, walaupun film ini judulnya Thor, gw ngga ngerasa karakter Thor menjadi tokoh yang paling berkesan buat gw. Sayang banget kan? Padahal Thor adalah salah satu karakter favorit gw di Marvel... :(
Tapi film ini tetap sangat menghibur sih. Gw ngga berhenti ketawa waktu nonton filmnya.

Mungkin sampai sini aja ceritanya. Soalnya filmnya baru rilis, kalau dilanjutin nanti malah jadi spoiler. Selain itu gw juga masih harus cicil review Merlin yang baru keluar part 1 dan belum sempat dilanjutin karena kerjaan kantor lagi penuh akhir-akhir ini. Akhir kata, di bawah ini gw attach salah satu klip yang dirilis early oleh Marvel sebelum filmnya rilis, dan jadi salah satu adegan favorit gw dalam film ini.


Thor: Ragnarok clip - Get Help

Sunday, July 16, 2017

Watch List: Merlin (2008-2012) part 1

Wah, pakai part 1 segala. Kenapa nih?
Jadi, gw mencoba menulis post ini sudah lamaaaaaa banget, tapi bingung banget karena cerita panjang, dan banyak yang bisa diangkat. Selain itu, kalau mau bahas lengkap bakal banyak spoiler di mana-mana...
Setelah tulis-hapus-tulis-hapus berkali-kali akhirnya gw putuskan, baiknya gw pecah jadi beberapa part aja... Part 1 ini adalah review keseluruhan yang NON SPOILER, the other parts lebih mengangkat topik-topik dan karakter-karakter secara spesifik, dan bagian itulah yang akan hujan spoiler. Jadi langsung lanjut yah ke bagian intinya... :D


PART 1: OVERVIEW (NON-SPOILER)

Merlin, atau judul lengkapnya the Adventures of Merlin, adalah serial TV BBC yang tayang tahun 2008 sampai 2012. Saat ini ceritanya sudah tamat, dengan total 65 episode, 5 series (kalau di Amerika disebut seasons) masing-masing 13 episode. Cerita ini adalah salah satu inkarnasi cerita King Arthur yang terbaru. Bedanya, cerita ini tidak menjadikan King Arthur sebagai tokoh paling utama seperti sebagian besar cerita mengenai King Arthur, tetapi malah menyorot kehidupan Merlin.

Cerita yang diangkat serial ini tergolong ringan, dengan banyak komedi dan jokes yang ditebar di mana-mana, kalimat-kalimat yang kadang terdengar cheesy (terutama dari para tokoh antagonisnya), dan CGI yang sebenarnya sub-standard. Kedengarannya seperti serial TV yang asal-asalan yah?

Secara visual memang kelihatannya serial ini bukan serial yang big-budget, dan gw rasa pasti banyak juga orang yang langsung malas nonton ketika muncul karakter naga yang CGI-nya, jujur aja, jelek menurut gw. Tapi ada sesuatu hal di serial ini yang membuat gw bener-bener jatuh hati.

Apa itu?
Penulisan dan pengembangan karakternya.

Karakter yang diangkat dalam serial ini tidak digambarkan hitam-putih. Sepanjang gw nonton serial ini, gw ngerasa paham kenapa para tokoh antagonis mengambil peran itu. At some level, gw bahkan bisa bersimpati dengan mereka. Di sisi lain, gw juga bisa melihat ketidaksempurnaan dari tokoh-tokoh protagonis. Ketidaksempurnaan ini juga cukup kompleks. Those are REAL flaws, not just clumsy or simply 'they're too nice'.

Semua kecacatan tersebut membuat karakter-karakter ini terasa real. Karena seperti kita manusia di kehidupan nyata, baik dan jahat adalah masalah perspektif. Orang yang kita anggap jahat, mungkin melakukan hal-hal yang dianggap jahat itu karena ia merasa terdesak atau terpaksa. Atau mungkin juga orang tersebut menjadi seperti itu karena pola asuh dan ajaran yang salah dari orang tuanya. Di sisi lain, diri kita sendiri, yang menjadi tokoh protagonis dalam cerita kehidupan kita masing-masing, juga tidak sempurna kan? Kita juga sering membuat keputusan yang salah, atau pertimbangan yang salah.

In the end, orang yang kita anggap jahat, bisa jadi adalah tokoh penolong dalam sudut pandang orang lain. Sementara itu, kita bisa jadi adalah tokoh antagonis dalam cerita kehidupan orang lain. Ini salah satu yang gw suka dari penulisan karakter-karakter dalam cerita ini.

Kedua, mengenai pengembangan karakter. Salah satu isu utama yang diangkat dalam serial ini adalah apakah Pangeran Arthur dapat tumbuh menjadi raja yang baik dan bijak. Sedikit spoiler, di awal cerita, kita akan bertemu dengan Pangeran Arthur yang ternyata adalah seorang tukang bully. Di sisi lain, kita juga diberitakan mengenai adanya ramalan yang mengatakan bahwa Arthur akan menjadi raja besar yang bijak dan membawa Kerajaan Camelot ke puncak kejayaannya. Pertanyaannya, apakah Arthur bisa tumbuh menjadi seperti itu?

Kalau gw lanjutin bahasan ini, bisa jadi malah banyak spoiler akan mulai bertebaran (walaupun sebenarnya siapapun yang tahu tentang legenda Raja Arthur juga pasti tahu jawabannya). Pada intinya, sepanjang perjalanan cerita kita bisa melihat perkembangan dari karakter Arthur dan berbagai kejadian yang membentuk pribadi Arthur di kemudian hari.

Bukan cuma karakter Arthur, karakter-karakter lainnya juga berkembang dengan sangat baik, menurut gw. Kalau kita asal lihat sifat karakter di awal cerita, lalu skip langsung lihat sifat karakter di akhir cerita, sebagian besar karakter utama mengalami perubahan dan perkembangan yang cukup drastis di permukaannya. Akan tetapi, jika kita melihat lebih ke dalam, inti dari sifat setiap karakter tetap konsisten.

Bingung? Yah, nonton deh serialnya. Atau kalau malas nonton serialnya, tunggu yah post bagian-bagian berikutnya yang membahas mengenai karakter, dan hubungan antar karakter. Untuk sementara, sampai di sini dulu post bagian pertama.



Trailer BBC's Merlin.
Kalau liat tangal uploadnya 8 tahun lalu, jadi kangen nostalgia...


PS: Maaf yah lama ngga nge-post... Ini cari waktunya susah.. Hahaha... Ini post satu aja ada kali beberapa minggu mengendap di draft...

Tuesday, October 18, 2016

Watch List: The Conjuring 2

Kayaknya semua orang sudah tahu yah mengenai fanchise film horor yang satu ini. Seenggaknya pernah dengar lah kalau film ini pernah rilis. Tapi baiknya tetap di-attach aja trailer-nya supaya lebih jelas lagi.

Trailer the Conjuring 2

Karena filmnya udah turun dari bioskop sejak... yah lumayan lama juga, jadi gw ngga terlalu merasa bersalah kalau ada sedikit spoiler di post ini. Yah, ngga terlalu spoiling juga sih, karena karakter yang mau gw bahas ini sebenernya juga udah keliatan di trailer di atas. Jadi, kalau ada yang ngerasa ke-spoiler gara-gara post ini, gw cuma bisa bilang, "I'm sorry. I'm so sorry." (I wonder how many people get that reference. Haha.)

Karakter yang mau gw bahas, tidak lain dan tidak bukan, adalah main villain dalam film ini, yaitu Valak.

Ada banyak gambar Valak di mana-mana saat ini karena kepopuleran the Conjuring, jadi rasanya ngga perlu yah membuat post ini tambah mengerikan dengan memasang fotonya Valak. Ahahaha...

Ketika pertama menonton film ini (dulu ngga terlalu perhatiin trailer-nya), gw sempat mikir, sebagai seorang Katolik, "Should I be offended?" Untuk catatan, gw ngga offended sih, karena gw punya pemikiran, kita positive thinking aja, ketika mereka memutuskan untuk pakai desain kostum ini, tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan Gereja Katolik, ataupun biarawan-biarawati pada umumnya. They just thought it's cool. Bukan berarti ini bener juga, tapi menurut gw itu artinya mereka ngga paham aja, dan ini bukan sesuatu yang pantas untuk diributkan dan dibesar-besarkan.

Kembali ke topik, gw sempat mikir waktu menikmati film ini, "Should I be offended?" Karena mereka mengambil sebuah simbol yang bisa dibilang exclusively Katolik, yaitu pakaian biarawati, lalu digunakan untuk karakter iblis.

Pikiran itu berlalu (atau lebih tepatnya tenggelam) dan mendadak teringat lagi baru-baru ini. Should I be offended? Tapi kali ini, ada lanjutan yang muncul di kepala gw. "Kalau serigala bisa berbulu domba, iblis juga bisa pakai pakaian orang suci untuk mengelabui manusia."

Gw rasa ini penting untuk kita sadari. Ada banyak orang dalam Gereja yang berpakaian suci, tapi berkelakuan tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Contohnya, kasus pelecehan seksual oleh pastor. Bukan cuma dalam Gereja Katolik, gw rasa juga banyak orang-orang di semua agama yang mengaku sebagai pemimpin agama, tapi ternyata kehidupannya jauh dari Tuhan. Kita sebagai awam beragama, harus dapat mencermati ajaran-ajaran dan perilaku para pemimpin agama kita. Apakah sesuai dengan ajaran agama yang kita percayai? Apakah pantas untuk menjadi contoh perilaku kita?

Gw ngga bermaksud mengajak kita semua untuk menjadi sok tahu akan ajaran agama masing-masing. Terutama sebagai seorang Katolik, ini bukan ajakan untuk kita semua mulai menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab sendiri-sendiri. Biar bagaimana juga, kita sebagai awam kan tidak belajar teologi secara khusus. Bahkan orang yang belajar teologi menurut ajaran Gereja Katolik juga paham bahwa otoritas mereka tidak sampai menginterpretasikan ayat atau bahkan membuat ajaran. Coba aja lihat dalam situs katolisitas.org, jawaban-jawaban yang diberikan para teolog di sana selalu didukung oleh kutipan-kutipan dokumen Gereja, ayat Alkitab, atau tulisan dari orang kudus. Ini artinya mereka mengakui, bahwa mereka hanya perpanjangan tangan Gereja.

Gw ingin mengajak kita semua untuk bijak dan mencoba mempelajari ajaran agama masing-masing dengan kerendahan hati. Bukan supaya kita menjadi hebat, tapi supaya kita dapat memahami, mana perilaku yang sesuai dengan ajaran Gereja, dan mana perilaku yang tidak sesuai ajaran Gereja, siapa pun pelakunya, baik awam, biarawan-biarawati, imam, uskup, atau bahkan Bapa Suci kita di Vatikan. Dan tentu saja terutama, supaya kita tahu bagaimana kita harus bersikap sebagai orang beriman dan menjadi semakin dekat dengan Tuhan.

Akhir kata, Venerable Fulton Sheen pernah berkata, "Judge the Catholic Church not by those who barely live by its spirit, but by the example of those who live closest to it." Hanya orang yang hidup sesuai dengan semangat dan ajaran sebuah agama lah yang dapat menjadi cerminan dari agama tersebut.

Mungkin tulisan ini bisa menjadi refleksi aja bagi kita yang beriman dan beragama. Untuk mereka yang ateis dan agnostik, yah... Mungkin bisa lupakan saja semua curhatan dalam post ini, dan hiduplah berdasarkan moral yang kalian percayai benar.

Thursday, August 25, 2016

Song of the Day: Perfect by Simple Plan

"Nothing's gonna change the things that you said
Nothing's gonna make this right again
Please don't turn your back
I can't believe it's hard just to talk to you
And you don't understand

'Cause we've lost it all
Nothing last forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late
And we can't go back
I'm sorry I can't be perfect"

Gw sempat bingung tadi, bait mana yang mau ditampilin sebagai pembuka post ini, karena sebenarnya semua bagian dari lagu ini seperti satu rangkaian surat yang saling berkaitan. Tapi akhirnya, gw settle dengan bagian bridge dan refrain dari lagu ini aja.

Gw sebenarnya tadinya ngga merencanakan nulis tentang lagu ini. Tadinya gw mau nulis tentang lagu Buildings atau Somedays dari Regina Spektor yang akhir-akhir ini sering gw dengerin. Tapi mendadak pagi ini, lagu Perfect dari Simple Plan ini hit me like a ton of bricks.

Lagu ini secara keseluruhan berbicara mengenai kekecewaan seorang anak akan hubungannya dengan ayahnya yang merenggang karena perbedaan sifat dan pandangan. Si anak ingin menekuni hal-hal yang dia sukai, tetapi sang ayah tidak merestui. One thing leads to another, ada pertengkaran hebat, dan akhirnya mereka putus hubungan.

Yang membuat lagu ini benar-benar ngena hari ini, adalah ketika otak gw mendadak menarik garis merah antara lagu ini dengan beberapa film yang gw tonton akhir-akhir ini, yaitu Alice Through the Looking Glass dan Facing the Giants. (Kalau ada yang belum nonton Alice Through the Looking Glass, minor spoiler warning ahead.)

Dalam Alice Through the Looking Glass, kita bisa melihat bahwa hubungan Mad Hatter dengan ayahnya persis seperti di lagu ini. Mereka berbeda jauh. Hatter ingin membuat topi-topi yang fun dan unik, sementara ayahnya merasa profesi pembuat topi harus ditekuni dengan serius dan tidak main-main.

Lalu dalam Facing the Giants, ada seorang supporting character (namanya Matt) yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya, persis juga seperti lagu ini. Dia merasa ayahnya terlalu otoriter dan tidak supportive akan pilihan-pilihan hidupnya. Dia merasa tidak didengarkan oleh ayahnya.

Tapi yang menarik adalah, dalam kedua film ini, pada akhirnya mereka bisa saling akur. Bagaimana bisa?

Kita lihat dalam Alice Through the Looking Glass, seberapa pun berbedanya filosofi Mad Hatter dan ayahnya mengenai profesi topi, ayah Mad Hatter ternyata sangat bangga akan hasil karya anaknya. [minor spoiler] Ia memang bertengkar dengan Mad Hatter kecil dan membuang topi pertama yang dibuat Mad Hatter, tapi ketika semua orang sudah pergi, diam-diam ia mengambil topi kecil itu dari tong sampah dan menyimpannya [minor spoiler].

Di film Facing the Giants, hubungan Matt dan ayahnya membaik drastis ketika Matt akhirnya berkata kepada ayahnya, "I'm sorry. [...] Whatever you say goes." Maaf. Mulai sekarang, aku akan ikuti kata ayah. Ketika mendengar itu, ayah Matt tertegun dan hubungan mereka membaik. Bahkan akhirnya, ayah Matt pun mulai mencoba untuk mendengarkan dan mendukung Matt, baik di sekolah, di pertandingan football (ini American football yah), maupun di kehidupan sehari-hari.

Dalam kedua cerita di atas, kita bisa melihat, bahwa betapa pun buruknya hubungan antara orang tua dan anak, rasa kasih itu tetap ada. Yang seringkali menghalangi kita berelasi dengan baik dengan orang tua adalah keras kepala dan tidak mau mendengar, baik dari pihak orang tua maupun pihak anak. Ayah Mad Hatter akhirnya memutuskan untuk mulai mendengar dan menghargai aspirasi Mad Hatter dalam membuat topi. Matt akhirnya memutuskan untuk mulai mendengarkan apa kata ayahnya.

Komunikasi yang ideal adalah komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah yang ideal adalah ketika yang satu memberikan informasi dan yang satu mendengar, secara bergantian. Inilah yang perlu kita ingat dalam hubungan kita dengan orang tua. No, scratch that. Inilah yang perlu kita ingat dalam hubungan kita dengan semua orang di sekitar kita. Sekali-kali, cobalah untuk diam, mendengar, dan memahami terlebih dahulu, sebelum kita ingin dipahami. Maka komunikasi akan menjadi lebih baik.

Perfect by Simple Plan, versi akustik

Sedikit curhat, hari ini gw senang banget karena waktu shuffle playlist di handphone, ternyata dapat lagu-lagu yang bagus bertubi-tubi, dari lagunya Lee Jin Ah, lagunya Yuzu, lagunya Regina Spektor, soundtrack-soundtrack Hunter x Hunter dan Corrector Yui, bahkan gw sempat ngintip, lagu berikutnya setelah gw stop playlist adalah salah satu lagu favorit gw dari film Anastasia, If I can learn to do it. Semoga hari ini bisa sebagus playlist gw pagi ini. Amin.

Thursday, May 31, 2012

SOEGIJA

Okay, it's official: I'm the worst blogger of all time! How long has it been since my last post? Almost a year!
Well, mau gimana lagi juga ya, akhir-akhir ini jadwal gw dipenuhi sama bikin tugas... Jadi, sejak lulus SMA, gw  belajar di FSRD Universitas Tarumanagara Program Studi Desain Interior... Dan tugasnya "lumayan" banyak juga...


Sekarang balik ke topik: SOEGIJA. Biasanya gw seneng banget nyari judul yang grande, yang aneh-aneh, yang heboh lah... Tapi kali ini, gw ngga bisa cari judul yang grande, aneh-aneh, dan heboh itu... Gw udah lihat trailer filmnya, dan gw speechless, ngga bisa ngomong apa-apa lagi kecuali bilang: A Must Watch!


Film ini disutradarai oleh Garin Nugroho, dan dibintangi oleh (di antaranya) Nirwan Dewanto, Olga Lydia, Annisa Hertami, dan Butet Kartaredjasa... Film ini juga didukung oleh beberapa aktor dari luar negeri, seperti Wouter Zweers, Wouter Braaf, dan Nobuyuki Suzuki... Film ini katanya adalah film termahal Garin Nugroho...


Ini dia trailernya:


Cerita ini berfokus pada kehidupan masyarakat di sekitar Mgr. Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama di Indonesia... Beliau adalah termasuk orang yang disegani oleh Soekarno... Lewat perjuangan beliau, Vatikan menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia... Hebatnya juga, beliau dengan berani menolak membiarkan tentara Jepang menggunakan Gereja Randusari Semarang sebagai markas mereka, walaupun konsekuensinya besar sekali... (bisa dilihat dalam trailer)


Oke, jadi sebenarnya walau film ini diberi judul SOEGIJA, film ini lebih merupakan cerita perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan sampai awal masa merdeka... Saat itu kemerdekaan Indonesia belum banyak yang mengakui, bahkan masih banyak yang mencoba merebut kembali kedaulatan Indonesia, baik dari Belanda maupun dari Jepang... Film ini mengisahkan sebuah titik dalam sejarah yang sangat krusial bagi kemerdekaan Indonesia...


Ngga panjang-panjang lagi, sekarang gw mau ngajak semua yang baca post ini untuk nonton film ini... Untuk orang-orang Katolik, inilah kesempatan kita mengenal sosok uskup pribumi kita yang pertama, yang memiliki slogan terkenal "100% Katolik, 100% Indonesia"... Sementara untuk yang lain, kesampingkan dulu fakta bahwa beliau adalah seorang Katolik, dan lihat beliau sebagai seorang pahlawan nasional... Film ini tidak ada hubungan sama sekali dengan SARA... Film ini adalah film tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dari sudut pandang Mgr. Albertus Soegijapranata dan orang-orang yang berada di sekitarnya...


"Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya. Berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semuanya merupaken satu keluarga besar."

Monday, August 9, 2010

El Orfanato -- Film Horor yang Smart

Siapa suka nonton film horor?

Gw suka banget nonton film horor, asli. Tapi bener-bener deh, film horor yang satu ini pantes banget untuk ditonton.
Selama ini gw sering banget nonton film-film horor yang tujuannya cuma untuk hiburan semata, tapi yang satu ini beda!

Judulnya "El Orfanato". Pernah denger? Rasanya cuma sedikit yang pernah nonton...
Film ini berbahasa Spanyol, dan judulnya dalam bahasa Inggris adalah "the Orphanage". Kira-kira isinya tentang perjuangan seorang ibu untuk mencari anaknya yang hilang. Gak kedengeran horor ya? Tunggu dulu...

Agak sedikit lebih jauhnya begini... Ada seorang ibu bernama Laura yang anak angkatnya menderita HIV. Anak ini bernama Simon, dan ia memiliki teman-teman khayalan. Suatu hari, ketika bermain di pantai bersama Laura, Simon "membawa pulang" teman-teman khayalan baru, yang ternyata adalah hantu. Awalnya Laura tidak begitu mempedulikan teman-teman baru Simon, sampai suatu hari, saat diadakan acara pembukaan kembali panti asuhan yang akan dikelola oleh Laura, Simon mendadak menghilang. Sejak saat itu, Laura terus berusaha mencari Simon, bahkan sampai ke dunia orang mati.
Gw ga akan melanjutkan, karena takutnya malah menjadi spoiler.

Gw impressed banget sama film ini, karena gak kaya film-film horor lainnya yang menempatkan manusia sebagai korban dan hantu-hantu sebagai penjahatnya, hantu-hantu di film ini ternyata memang benar-benar ingin bersahabat dengan Simon, bahkan tidak ada intensi untuk menculik Simon sama sekali. Semuanya terjadi akibat kelemahan-kelemahan manusia. Ya yang ceroboh lah, yang panikan, yang khawatir, dan lainnya.

Selain itu, titik-titik kejut di film ini juga bukan cuma sekadar perangsang saraf kejut. Bukan cuma adegan setan serem muncul tiba-tiba. Bagian ini cuma bisa dipahami kalau sudah nonton.


Sebenernya selain mengulas tentang isi film ini, ada dua hal lagi yang mau gw kritisi.

Pertama, sebegitu dominankah Hollywood dalam dunia perfilman, sampai-sampai film sebagus ini tidak bisa bertahan lama di bioskop. Waktu tahun 2008, tahun ketika film ini dirilis, gw juga sempet tertarik banget sama poster film ini, sampe-sampe gw tiap hari liat koran cuma buat ngecek filmnya masih diputer ato ngga. Begitu kecewanya gw, ketika gw tahu film ini cuma seminggu-dua minggu bertahan di pasaran.

Kedua, tentang perfilman Indonesia. Gw sering banget liatin perkembangan film-film di Indonesia, dan sayangnya, yang gw temuin sebagian besar tentang seks dan horor, yang juga dicampur masalah seks, contohnya "Suster Keramas"-lah, dll... Kayak ngga ada genre lain, gitu... Memang sudah mulai ada 3-4 film yang bagus, tapi bisa dihitung pake jari tangan. Mungkin sudah saatnya perfilman Indonesia beranjak dari film horor gak jelas ke film horor smart, yang ngga cuma memberdirikan bulu kuduk, tapi juga memiliki alur yang unik dan bermakna...

Saturday, February 6, 2010

Derita Emily, Refleksi Kita

"People say GOD is dead, but how can they think that if I show them the Devil?"




Kalimat itu hanyalah sebaris dari surat Emily Rose kepada Father Moore yang dibacakan di pengadilan. Dan sekaligus sebaris kalimat yang saya kutip dari film Exorcism of Emily Rose yang baru saya tonton Halloween 2009, dini hari.

 
Film ini bercerita mengenai pengadilan mengenai kematian seorang gadis bernama Emily Rose yang dituduh menderita epilepsi. Cerita ini berpusat tentang bagaimana seorang pengacara bernama Erin Bruner berusaha untuk membebaskan Father Moore dari penjara. Ia kemudian mengungkap sebanyak mungkin bukti yang menunjukkan bahwa Emily dirasuki Iblis dan Father Moore berusaha mengusirnya. Dari bukti-bukti tersebut, dapat diketahui apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sendiri sebenarnya tidak melihat seluruh filmnya, tapi setidaknya saya tidak melewatkan bagian-bagian terpenting dari film itu. Ada adegan mengenai exorcism yang dilakukan oleh Father Moore pada tanggal 31 Oktober. Dalam adegan ini terungkap bahwa Iblis yang merasuki Emily bukan hanya satu, tapi enam sekaligus. Demikian kata-katanya:


"(in Hebrew) I am the one who dwelt within Cain!
(in Latin) I am the one who dwelt within Nero!
(in Greek) I once dwelt within Judas!
(in German) I was with Legion!
(in Assyrian Neo-Aramaic) I am Belial!
(in English) And I am Lucifer, the Devil in flesh!"
*) Diambil dari http://www.imdb.com/title/tt0404032/quotes

Lalu ada juga bagian di mana dibacakan surat yang ditujukan kepada Father Moore, isinya adalah kesaksian bahwa ia melihat Bunda Maria menawarkan dia pilihan: Pertama, ikut ke surga dan mengakhiri penderitaannya. Kedua, tetap di bumi di dalam tubuhnya, di mana setan-setan tidak akan meninggalkannya, tapi menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan dan Iblis itu ada.

Lalu apa keputusannya? Ia memilih untuk tinggal di bumi, menanggung penderitaan, untuk mewartakan kemuliaan Tuhan.



Hal ini menjadi refleksi bagi kita. Kisah Emily Rose (based on true story about Anneliese Michel) membuat kita berfikir: Sebegitu besarnya penderitaan seorang gadis yang taat pada Tuhan. Banyak orang yang berfikir: jika kita hidup dalam Tuhan, semua akan menyenangkan. Timbullah sebuah pertanyaan: Apakah Tuhan tidak melindungi Emily sehingga ia disiksa sedemikian rupa oleh iblis?


Kita harus kembali melihat ke belakang. Santo-Santa sebagian besar mengalami penderitaan-penderitaan untuk Tuhan. Mereka juga manusia seperti kita, tapi mereka memiliki iman yang begitu kuat dan entah mengapa iman tersebut membuat mereka kuat dalam menjalani hidup untuk Tuhan. Anneliese Michel dari Jerman, yang menginspirasi film ini, begitu kuat dalam menjalani cobaan. Padahal dia adalah gadis muda berusia sekitar 20-23 tahun.

 


Hal ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita. Banyak manusia yang rela menderita demi Tuhan. Penderitaan Anneliese Michel yang divisualisasikan di film ini dan penderitaan Yulia Kim (mendapat stigmata) hanya sebagian kecil dari penderitaan manusia-manusia yang menderita karena tetap di jalan Tuhan. Kita hanya mengalami penderitaan-penderitaan kecil. Tapi kadang kita sudah lari dari Tuhan.

Sekarang saatnya kita mulai berfikir,

"Apakah kita akan tetap bertahan untuk Tuhan di tengah keadaan seperti Emily, atau Anneliese? Apa kita sudah cukup beriman pada Tuhan?"




Mungkin ada yang menganggap tulisan ini gak jelas, ngalor-ngidul, lari-lari dari main ideanya. Untuk pertama kalinya, saya menulis dengan sedemikian emosionalnya sehingga saya sendiri kesulitan menjaga tulisan saya agar tetap sesuai guide line. Karena itu, untuk lebih memahami isi tulisan ini, saya merekomendasikan film Exorcism of Emily Rose kepada semua pembaca yang tertarik. Film ini sangat menginspirasi betapa sulitnya seseorang mewartakan kebenaran sekaligus betapa sulitnya kita harus menahan cobaan untuk Tuhan.




Philippians 2:12 said "Work out your own salvation, with fear and trembling."

Supernatural: Welcome to the brotherhood...

"Dean: "Bitch."
Sam: "Jerk""




My personal favorite quote from the TV series. Supernatural tahun ini sudah memasuki season yang kelima. Tidak terasa tahun ini sudah menjadi tahun kelima the Winchester boys membantai Iblis. Masalah sudah semakin rumit sekarang dengan bangkitnya Lucifer. Tapi masalah berat tidak usah diungkin-ungkit di sini, oke??
Mari kita tilik saja "masa-masa bahagia" para Winchester di season 1 dan 2, di mana masalah tidak seberat pada season 3 dan seterusnya. Pada season 1, diceritakan bahwa Sam mengikuti Dean berburu pada awalnya adalah untuk membantu mencari sang ayah, John, yang menghilang. Tapi kemudian ia ikut berburu untuk melampiaskan dendamnya pada makhluk yang membunuh Jessica Moore, pacarnya, dan Mary Winchester, ibunya.

Tidak terdengar seperti hubungan kakak adik yang baik, bukan? Sang adik adalah mahasiswa jurusan pre-law Stanford yang berprestasi dan dipenuhi rasa dendam, sementara sang kakak adalah playboy jalanan yang berkeliaran di USA untuk membantai supernatural creatures...

Tapi justru perjalanan yang panjang tersebut membuat mereka akrab dengan cara yang lain. Kutipan "panggilan sayang" di atas adalah salah satu perwujudannya. Kata-kata yang awalnya dilontarkan dengan nada kesal pada episode Pilot (season 1) malah menjadi kata-kata yang ditunggu Dean untuk menjadi pelipur laranya (eps. What is and what should never be, season 2)...


Selain itu, terlihat juga betapa besarnya kasih sayang sang kakak pada adiknya. Pada akhir season 2, kita melihat upaya Dean untuk membangkitkan kembali Sam yang dibunuh oleh rivalnya, Jake. Ia bahkan sampai menjual jiwanya kepada Iblis hanya agar adiknya kembali bangun dan sembuh seperti sedia kala. Padahal ia tahu, resikonya adalah ia akan dijemput ke neraka dalam waktu satu tahun, itu pun jikalau ia tidak meninggal sebelum satu tahun...
Selain itu adiknya juga bukannya tidak menyayangi kakaknya. Begitu mengetahui bahwa kakaknya menjual jiwanya untuk menyelamatkan dia, Sam melakukan segala cara untuk membebaskan kakaknya dari belenggu perjanjian, walaupun taruhannya adalah nyawa.




Hubungan kakak dan adik dalam TV series ini memang aneh, namun patut dicontoh. Walaupun "kerjaan" mereka untuk mengungkapkannya adalah dengan "Bitch and jerk thing", namun yang lebih penting dari itu adalah hatinya, bukan begitu?

Nilai Kristiani dalam the Lord of the Rings

Sekuel ketiga the Lord of the Rings, yaitu the Lord of the Rings: the Return of the King, dibuka dengan adegan pembunuhan Déagol oleh Sméagol untuk merebut cincin yang ditemukan Déagol di dasar sungai. Lalu karena dipengaruhi cincin tersebut, perlahan-lahan Sméagol berubah menjadi makhluk menjijikan yang disebut Gollum. Hal ini adalah menggambarkan manusia yang berubah akibat pencobaan dan dosa (dikutip dari buku Bolehkah Orang Kristen Nonton Film? karangan Arie Saptaji).

Pada sudut pandang lain, kita bisa mencontoh sifat-sifat dari kesembilan tokoh utama. Kita bisa melihat Aragorn, si Penjaga Hutan yang ternyata adalah keturunan raja-raja agung. Dia melindungi bangsa yang bahkan tidak mengetahui pekerjaannya selama bertahun-tahun tanpa mengeluh. Kita juga bisa melihat persahabatan antara Legolas, si peri dari Mirkwood, dan Gimli, si kurcaci. Persahabatan mereka sangat akrab sampai-sampai disebut oleh J.R.R. Tolkien dalam buku the Lord of the Rings: the Return of the King yang telah diterjemahkan sebagai “lebih kental daripada persahabatan mana pun yang pernah ada antara Peri dan Kurcaci” (2004:435).

Tentunya kita juga bisa menilik sifat setia dari Samwise Gamgee. Di akhir the Lord of the Rings: the Fellowship of the Ring, ada bagian di mana Frodo Baggins hendak melakukan perjalanan ke Mordor sendirian, akan tetapi Sam memaksa untuk mendampingi majikannya tersebut, apapun yang terjadi, walaupun Frodo sudah melarangnya untuk mengikuti Frodo. Tentunya butuh rasa kasih yang sangat besar untuk membuat Sam meninggalkan sebagian besar kawanannya yang terdiri dari orang-orang hebat (Aragorn, Legolas, dan Gimli) hanya untuk mendampingi majikannya yang bertubuh kecil dan hanya membawa sebuah pedang warisan pamannya.



 Masih banyak yang bisa dipetik dari trilogi ini. Tulisan Arie Saptaji dalam bukunya, Bolehkah Orang Kristen Nonton Film? malah lebih mendalami lagi isi dari cerita ini. Saya merekomendasikan buku itu bagi orang-orang yang ingin lebih mendalami nilai-nilai Kristiani yang bisa didapat dari film-film.