Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Tuesday, May 16, 2017

This year is beating the crap out of me already

Ini bulan apa sih?
Masih bulan Mei kan?
Kayaknya berita terus-terusan menggempur gw...

Kondisi politik bikin gw down...
Pak Ahok dipenjara...
(Iya gw dukung Pak Ahok dan masih dukung Pak Ahok sampai sekarang. Bagi yang beda pendapat, let's just agree to disagree.)
Isu makar...
Isu rusuh...
Sekarang isu ransomware wannacry bikin was-was juga di kantor...

Dan hari ini, the cherry on top, gw baru dapat kabar kalau Avi Kaplan akan mundur dari Pentatonix... Kalau kata Kevin Olusola sih cuma hiatus, jadi suatu hari mungkin akan balik lagi... Tapi cukup sedih juga buat gw waktu kepikir, for just a little while, ngga akan ada Avi dalam musiknya Pentatonix...

Yah gw juga cuma bisa kasih support, baik untuk Avi maupun anggota Pentatonix yang lain. Semoga proyek dan kehidupan mereka masing-masing terus lancar, sukses, dan bahagia.

Ini curhat aja sih... Pengen sebenernya gw nulis lebih panjang lagi, tapi sementara ini susah, karena internet kantor lagi dimatikan sementara (sebagai respon pencegahan ransomware wannacry). Jadi ini ditulis juga pakai hape... Harapan gw, semoga dari sekarang sampai akhir tahun, dan tahun-tahun depan, hantamannya bisa mereda...

Tuesday, April 19, 2016

"We plan, we get there, all hell breaks loose"

Sebelumnya, gw mau bilang dulu, walau gw ngambil quote dari Harry Potter sebagai judul post, yang mau gw omongin ini ngga ada hubungannya dengan Harry Potter.

Gw tipe orang yang otaknya ngga bisa berhenti mikir. Selalu ada ide atau alur pikiran yang ada di kepala gw, yang suka ngalor-ngidul ngga jelas dari satu topik ke topik lain. Saking banyaknya hal yang ada di pikiran gw (dari yang trivial sampai yang penting), seringkali gw ngga sadar apa yang ada di sekeliling gw. Seringkali gw ngga sadar kalau gw udah jalan sekian ratus meter, dan gw sama sekali ngga ingat gw ngapain aja sepanjang jalan itu, karena isi kepala gw udah ke mana-mana dan kaki gw udah kayak autopilot mode. Sederhananya, I often get lost in my head.

Salah satu yang gw lakukan dalam kepala gw adalah membayangkan sekian banyak skenario yang mungkin terjadi, dan merencanakan bagaimana gw harus bertindak. Tapi kemarin ada satu kejadian, di mana sesuai judul: I plan, I get there, then all hell breaks loose.

Kalau naik kendaraan umum, satu hal yang suka gw rencanakan adalah apa yang terjadi kalau terjadi kecelakaan atau tindak kriminal. Salah satu skenario yang pernah terlintas di kepala gw dan gw rencanakan apa yang harus gw lakukan adalah kalau busnya mogok di atas rel kereta api.

Dan ternyata, ngga terduga, kemarin ini benar-benar kejadian bus Transjakarta yang gw tumpangi mogok di atas rel kereta api. Waktu itu macet, jadi bus ngga bisa jalan dengan kecepatan yang cukup, sementara penumpangnya memang lebih padat dari biasanya. (Gw aja sampai harus nempel, senempel-nempelnya sama tiang, karena di belakang gw ada orang lagi, dan di belakangnya ada lagi orang. Padat banget busnya.) Akibatnya, di perlintasan KA Grogol yang relnya agak nanjak, busnya bisa naik setengah jalan, tapi setelah itu mogok.

Setelah bapak supir mencoba menyalakan bus dan tancap gas beberapa kali, dan gagal terus, mendadak terdengar bunyi lonceng palang kereta api. Ini persis seperti skenario yang gw pernah bayangin itu. Seharusnya it's fine kan?

Tapi ternyata nggak. Semua orang langsung panik, dan gw ngga pernah memperhitungkan itu sama sekali. Semua rencana yang pernah gw buat, semuanya ngga bisa dipakai. Gw ngga terlalu panik saat itu. (Walaupun setelah keluar dan sampai di trotoar, gw baru shock berat dan agak sedikit seperti catatonic. Wkwkwk...) Orang di sebelah gw udah langsung pecahin kaca pakai kaki, tapi orang lain udah mulai dorong-dorongan ke pintu yang dibuka duluan, yaitu pintu belakang. Gw mau ngapain lagi coba? Akhirnya daripada gw ikut dorong-dorongan, gw biarin gw kebawa arus orang-orang itu aja, asal jaga keseimbangan dan jangan jatuh aja. Toh gw dorong-dorong pun gw ngga lebih cepat sampai ke pintu.

Pelajaran apa yang gw bisa ambil kali ini? Mungkin fleksibilitas yah. Kita harus fleksibel dan mudah beradaptasi kalau-kalau sesuatu yang kita ngga duga terjadi. Paling itu aja. Gw sendiri nulis cerita ini karena mau cerita aja sih. Dan karena setiap kali gw lihat bus atau lihat orang-orang yang waktu itu satu bus sama gw pas kejadian, gw langsung ingat lagi kejadian ini, dan jadi ada sedikit rasa takut kalau bus terlalu penuh. Gw mengharapkan dengan gw bercerita, gw bisa sedikit-sedikit mengurangi rasa takut gw.

Biar gimana kan John Watson juga disarankan psikiaternya nulis blog untuk mengatasi traumanya, jadi... Yah, dicoba aja lah... Hehehehehe...

Saturday, September 12, 2015

pieces of my heart

MELLOW ALERT!
Jangan baca kalau ngga nahan baca tulisan mellow dan galau... Hehehe...

So... I'm 21 and I've finally felt my first heart break... The kind that felt like your heart is shredded and tossed into the garbage can. And it hurts so much.

Gw bilang ke orang-orang kalau gw fine2 aja. That I'm already over it. And I truly think that I was fine. (Sorry yah jadi pake Bahasa Inggris, tapi hal2 kayak gini somehow gw lebih nyaman pake Bahasa Inggris)

But it just hit me like a bullet today that I'm not fine at all, at least not yet. My heart still feels like it's being repeatedly stabbed with a rusty knife. Is it wrong that I feel this way? Is it a foolish thing?

I need help, actually. I need someone who can coax the story out of me... (It's really hard to coax a story out of me, even though I really want to tell them)

Maybe, after all the glass shards have been removed, I can finally start picking up the shattered pieces of my heart...

Sunday, August 23, 2015

(Not Responding)

Pernah ngerasain ngga, gimana rasanya kalau lagi ngerjain dokumen penting banget, di program yang ngga ada autosave-nya, belom sempat di-save, lalu suddenly, komputer itu nge-hang, "Not responding" katanya... (Oh Tuhan gw ngetik di device yang ngga bisa break row... Barulah gw ngerasain pentingnya tombol Enter itu).        Inilah yang gw lagi rasain sekarang. Just this one part of my life, rasanya kayak not responding. Stagnan. Gw ngga tahu harus ngapain: nunggu sampe programnya responding lagi, atau just restart the device -- starting over.   From scratch.   Dan somehow, for some reason, it hurts. It really hurts me.    I guess it's time for me to say that......... I need help?                         Yup. Please help.

Wednesday, August 19, 2015

Life is Ever Changing, But I'm Still Me.

Life is ever changing. And time pass by like the wind. Setuju ngga?

Waktu pertama buat blog, rasanya gw masih anak SMP atau SMA. Hidup gw full cuma berkutat sama yang namanya sekolah. Setiap hari cuma pergi pagi ke sekolah, pulang sore dari sekolah. Paling-paling gw ikut satu choir di Gereja Stella Maris.

And now, gw baru aja lulus-lulusan kuliah, tinggal tunggu wisuda, sambil kerja. Dan yang tadinya cuma ikut satu choir, sekarang gw aktif di tiga choir, dua di antaranya gw jadi pelatih. Di samping itu, masih ngerjain banyak hal lagi di Gereja, sampe rasanya badan capeeek banget. Tapi fun sih hanging out sambil pelayanan di Gereja. Hehehehe...

Ngga berasa banget rasanya empat-enam tahun, mungkin lebih, udah lewat. Dan banyak hal dari gw yang berubah. Berubah kesibukan, berubah kebiasaan, bahkan berubah taste. Perubahan-perubahan ini pun juga cepat banget terjadinya. Dalam selang seminggu aja, bisa terjadi perubahan besar dalam diri gw.

But what's interesting is, whatever is changing in life, deep down, I'm still the same ol' me.

Kita lihat yang paling gampang. Dulu, gw anti banget sama K-Pop. Di saat kanan-kiri gw lagi ngeributin Big Bang, Shinee, SNSD, 2PM, atau apapun grup K-Pop lain yang ngetrend, gw anteng aja sendiri dengan Regina Spektor. Tapi sekarang, gw ngga segitu antinya sama K-culture. Gw nonton Running Man, kadang nonton K-Drama. Dan gw keranjingan dengerin Kim Jong Kook.

But that's it.

Gw masih ngga peduli sama Big Bang, Shinee, atau grup-grup K-Pop lain yang gw tulis di atas (yang gw juga cuma tahu dari Running Man). Taste gw masih lagu-lagu slow, ballad, yang tenang menghanyutkan.

I'm changing, but deep down, I'm still the same. I'm still me.

Kalau kalian gimana? Are you changing? But are you still you? 


Gw waktu awal-awal buat blog

Gw tahun lalu (cari foto tahun ini jarang yang bagus)
 

Wednesday, March 19, 2014

Rolling on the floor laughing my butt off...

Buat yang kenal sama gw bisa jadi langsung bilang, "What? Sisi bisa ngomong 'butt'??" Atau, bisa jadi gw cuma mendramatisir kemungkinan yang terjadi, dan mereka cuma bilang, "Oh."

Oke, cukup basa basinya, gw akan mulai topik bahasan gw kali ini.... Kenapa sih judul post ini ROTFLM A BO?

Jawabannya: "'Coz that's exactly what I'm doing right now." :D

Baru tadi siang gw nyadar, betapa berubahnya selera film gw setelah beberapa tahun terakhir. Dulu, gw cuma nonton film horor aja, and comedy is just about the last thing you'll ever catch me enjoy. Tapi sekarang? Jangan harap gw mau diajak nonton Insidious malam-malam. Apalagi sendirian. Nonton bertiga siang-siang aja, malamnya bisa ngga bisa tidur... X_X

And now, I'm rolling on the floor, laughing my butt off, karena saat gw melihat ke belakang, gw jadi sadar, betapa seringnya gw 'makan' omongan gw sendiri... Apa yang gw bilang, "I won't ever do that or be like that ever in my life," malah seringkali gw lakuin sendiri di masa depan, karena emang ada perubahan-perubahan yang ada dalam diri gw.

Jadi, apa inti dari post gw yang muncul secara tiba-tiba kali ini?

Jangan gampang bilang men-judge orang. Karena semua orang bisa berubah, termasuk lo, dan ngga tertutup kemungkinan kalo lo suatu hari malah akan jadi sama persis dengan orang yang lo judge.

When that happens, you'll only be someone who's rolling on the floor, laughing your butt off, over your own words. Like me.

Wednesday, June 15, 2011

Grand Graduation of SMAK PENABUR Jakarta

Kali ini gw cuma mau cerita nih...

Kemarin ini, hari Selasa, 14 Juni 2011, gw menghadiri acara Grand Graduation of SMAK PENABUR Jakarta, atau bahasa Indonesianya: Wisuda Akbar. Acaranya di Plenary Hall JCC.
Sebagai apa gw di sana? Tentu sebagai wisudawati dong... Hehe...

Acara ini disebut Wisuda AKBAR, karena acara ini dihadiri oleh 1586 wisudawan dan wisudawati. Saking banyaknya, acara ini sampai masuk MURI! W.O.W!
Dibanding teman-teman sekelas gw di SMAK 6, gw termasuk yang datang paling awal. Itu karena gw termasuk para juara (sombong dikit boleh lah yaah... hehe...)... Gw sebagai juara 2 dari kelas XII IPA SMAK 6 PENABUR Jakarta... Yang juara 1 di kelas gw namanya Denny, yang juara 3 namanya Revin... Kita bertiga perginya bareng-bareng sama juara dari kelas XII IPS, Meidilia dan Meidiria... Kita semua pagi-pagi dateng ke sekolah sudah pake kebaya (buat yang cewek-cewek) dan jas (buat yang cowok-cowok)... Sayangnya, ternyata kita di sana dateng pagi-pagi malah nganggur... Jalan-jalan dah kita ke WC JCC, lobby, dan tempat-tempat lainnya. Kita bahkan masih sempat foto-foto bareng kenalan kita yang ada di SMAK lain...

Setelah berapa lama, barulah teman-teman kami datang pake bus... Setelah busnya datang, kami segera keluar ke lobby, lalu menerima jatah konsumsi dan medali kami... Setelah kami makan cepat-cepat di luar, barulah kami masuk kembali ke ruangan...
Setelah itu, sebelum acara dimulai, anak-anak yang termasuk para juara dipanggil keluar ruangan untuk bersiap-siap sebelum prosesi... Bangga juga sih ikut prosesi... Kayak orang penting gitu... Hehe...
Baru setelah itu acara dimulai... Orkestranya keren banget!! Empat jempol (2 di tangan, 2 di kaki) deh buat Pak Dominikus Catur yang memimpin orkestra dan paduan suara dengan sedemikian rupa, dan juga untuk para pemain orkestra dan anggota paduan suaranya... Dari lagu Kami Puji Dengan Riang (nama lainnya: Ode to Joy), How Great Thou Art, Hallelujah-nya Handel, the Prayer, sampai He's a Pirate (kalo nggak salah)-nya Pirates of the Carribean, sukses dibawakan... Cuma satu kali saja tubanya meleot sampai-sampai anak-anak ketawa semua... Tapi sisanya sukses... Lagi-lagi, W.O.W!!

Terus lagi, yang bikin gw seneng adalah pas acara pengumuman juara dan wisuda... Bangga gitu deh pas dipanggil: "Juara 2 Program IPA, Prisilia, putri dari Bpk. Gan Asep Megawan dan Ibu Selijhiati..." Hehehe... Seneng banget!! Hehe... Terus pas acara wisudanya, gw dipanggil lagi ke depan buat terima ucapan selamat... Hehe...

Ngomong-ngomong lagi, gw jadi makin bangga jadi siswa SMAK 6, gara-gara ternyata si Denny itu jadi peraih nilai UN tertinggi se-PENABUR... Nilai UN tertinggi ternyata malah diraih siswa dari sekolah baru yang paling tidak terdengar itu... :D Senangnyaaa.... Sayangnya, di sebuah koran online, malah ditulis peraih nilai UN terbaik se-PENABUR adalah siswa SMAK 1... Jadi sedikit keki... Huh...

Well, this is the end of story gw... Pokoknya, acara kemaren itu keren abis!! Two thumbs up buat panitia dan semua orang yang terlibat!! Keren keren keren!!

Saturday, January 15, 2011

Jasa "musuh bebuyutan"

"Musuh bebuyutan" mana ya yang gw maksud? Tentu maksud gw adalah Malaysia, yang saat ini memang dalam suasana yang sedikit panas dengan Indonesia.
Tentunya saat ini gw perlu mengingatkan, bahwa sebenarnya gw juga tidak suka menggunakan istilah di atas, tapi pada kenyataannya memang frasa itulah yang tepat menggambarkan hubungan Malaysia dan Indonesia yang sering cekcok dari dahulu kala.

Ayo kita flashback masalah apa aja yang akhir-akhir ini memicu kembali pertengkaran bak anjing dan kucing yang sempat rukun ini:
  1. Sebutan "Indon" yang digunakan masyarakat Malaysia bagi masyarakat Indonesia pada kenyataannya tidak dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, malah memiliki konotasi yang buruk. Padahal sebenarnya, seperti yang gw baca dari post seorang warga Malaysia di facebook, hal itu karena mereka dipanggil "orang Malay" daripada "orang Malaysia", maka mereka berpikir orang Indonesia lebih suka dipanggil "orang Indon".
  2. Adanya isu perebutan dan pencurian budaya Indonesia oleh negara Malaysia. Dalam hal ini yang dipersengketakan adalah budaya seperti batik, angklung, tari Pendet, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, dan lain-lain.
  3. Karena masalah "pencurian budaya", akhirnya orang Indonesia pun membuat julukan-julukan baru bagi orang Malaysia.
  4. Ditambah dengan kasus penangkapan petugas RI oleh Malaysia karena menangkap beberapa nelayan Malaysia yang melanggar batas wilayah RI (karena GPS rusak). Hal ini semakin parah karena hal itu bertepatan dengan euforia orang Indonesia menjelang tanggal 17 Agustus.
  5. Terakhir, yang terbaru, adalah "insiden laser di Bukit Jalil", yang KATANYA menjadi penyebab kekalahan Indonesia terhadap Malaysia 3-0 di ajang Piala AFF 2010.
Ini saja baru yang akhir-akhir ini, bagaimana kira-kira kalau ditulis semua (kasus dari zaman Bung Karno)?

Menurut gw, ada satu hal yang menarik perselisihan Indonesia-Malaysia ini. Apa itu? Reaksi bangsa Indonesia.
Indonesia adalah negara yang rasa nasionalisme-nya dalam keadaan normal tergolong cukup "parah", menurut gw. Berapa banyak orang Indonesia yang hafal Pancasila? Hafal "Indonesia Raya"? Lagu wajib nasional? Gak semua gw rasa, malah cukup banyak yang nggak hafal. Padahal ada loh orang bule yang menggunakan "Indonesia Raya" sebagai ringtone hape-nya, tandanya lagu "Indonesia Raya" nggak kalah bagus sama lagu-lagu di luar negeri. Indonesia juga termasuk negara yang unik. Budayanya seabrek-abrek. Bayangkan, suku di Indonesia ada ratusan, mungkin ribuan, dan mereka memiliki budaya masing-masing. Tapi sayangnya, banyak orang Indonesia yang malah nggak bangga jadi bangsa Indonesia, banyak yang berbondong-bondong pengen tinggal di luar negeri, pengen keluar dari negeri Indonesia. Yang diinget cuma "boroknya" aja.
Tapi herannya, kalau lagi ngomongin Indonesia-Malaysia, orang Indonesia jadi "Indonesia banget". Waktu batik diaku oleh Malaysia, berbondong-bondong orang pakai batik, padahal sebelumnya nggak segitunya. Waktu Reog dipasang di salah satu situs Malaysia, berbondong-bondong orang Indonesia protes. Waktu Timnas Indonesia melawan Timnas Malaysia di putaran final, berbondong-bondong orang Indonesia nonton, bahkan dengan tertib dan tanpa tawuran, padahal biasanya menghancurkan image bangsa sendiri dengan tawuran antar suporter klub sepak bola. Entah kenapa, kalau Indonesia "diusik" sama Malaysia, rasa nasionalisme kita jadi sejuta persen.

Inilah yang saya maksud dengan "jasa". Kita selama ini gak sadar, bahwa kita sebenernya perlu berterima kasih sama mereka. Tanpa mereka,
KAPAN ORANG INDONESIA SADAR KALAU MEREKA ITU ORANG INDONESIA?? KAPAN MEREKA AKAN MULAI MELIHAT KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA DAN MENSYUKURINYA??
Memang, yang mereka lakukan juga bukannya benar, tapi ada kebaikan sebagai imbas perbuatan buruk tersebut yang tidak pernah diungkit sebelumnya.

Karena itu,
THANKS MALAYSIAN, FOR MAKING ME REALIZE THAT I AM A TRUE INDONESIAN,
AND I AM PROUD OF BEING A TRUE INDONESIAN

Curhat #1 gw di blog

Sekarang ini udah banyak banget orang yang ngomongin tentang facebook. Bener gak?

Jejaring sosial buatan Zuckerberg (sori kalau salah) satu ini memang fenomenal, karena saat ini facebook adalah salah satu jejaring sosial paling "laku". Betul?

Gw ada cerita nih tentang apa yang terjadi ke gw di dunia facebook sejak satu-dua minggu yang lalu:
Gw itu tipe pengguna facebook yang selalu meng-approve orang-orang yang meng-add gw sebagai temannya. Kenal ga kenal, pokoknya approve dulu, kan facebook itu tentang mencari teman. Ya kan?
Semua pilihan pasti punya akibat. Nah, akibat dari sikap saya ini, terkadang gw meng-approve orang-orang yang "salah". Contohnya sekitar dua minggu lalu, ada seseorang yang kelihatannya dari negeri nun-jauh-di-sana meng-add gw. Sebut saja namanya A. Seperti biasa, gw langsung meng-approve tanpa bertanya-tanya. Mendadak saat itu juga dia ngajak ngobrol via chat dan langsung nanya nomor hape gw. Gw pun menolak dengan keras karena gw punya pengalaman buruk dengan membagi-bagi nomor hape via facebook. Tapi dia juga keukeuh, sampai akhirnya chat terputus dengan gw log out (karena urusan gw di facebook memang udah selesai). Di situ gw udah berasa lega.
Ternyata, beberapa hari kemudian, ada lagi orang lain yang meng-add gw. Dilihat dari namanya, gw pikir ini orang (sebut aja B) temennya "orang yang kemaren" itu. Tapi seperti biasanya, gw langsung approve, karena gak tega meng-ignore orang. Dan seperti kejadian kemaren, orang ini juga ngotot minta nomor hape gw. Tentunya gak gw ladenin.
Yang lebih parah baru dua hari yang lalu. Gw pas online facebook, barengan sama si B. Dan dia ngajak chat lagi. Kali ini gak tanggung-tanggung, dia langsung nembak gw. WHAT?! Dengan ribuan alasan, akhirnya gw mengelak, mengelak, dan mengelak, sampai akhirnya dia mendadak appear offline. Gw kemudian gak "nafsu" lagi online facebook dan langsung log out.

Saat ini gw cuma bisa bilang, "ASTAGA!!" Manusia sekarang bisa berani banget nembak orang yang gak dia kenal lewat facebook. Kayaknya dia gak nyadar sama sekali kalau itu malah jadi nilai minus, mengesankan kalo dia lagi buru-buru pengen dapet pacar.

Well, sebelum curhat ini kepanjangan, gw cut di sini deh.

Apa yang bisa kita petik dari sini? Kalo menurut gw, kita bisa lihat bahwa inilah gaya hidup manusia sekarang. Pertama, sebegitu terikatnya kita dengan facebook, sampai-sampai urusan cari jodoh yang semestinya dilakukan di dunia nyata, malah dilakukan di facebook. Kedua, sebegitu gampangnya manusia sekarang (dalam hal ini cowok-cowok, no offence) bilang cinta. Gak heran banyak banget kasus kawin-cerai di dunia ini.

Well, here's my story. Semoga kejadian di atas gak kejadian sama kalian-kalian yang sedang membaca post ini.

Monday, August 9, 2010

Cerita Angkatan Pertama

Okay, begini nih jadinya kalau ga ngeblog berbulan-bulan... Ide numpuk, n sekali ngeblog, langsung dua-tiga artikel...

Artikel yang ini, tentang suka duka jadi angkatan pertama. Entah jadi angkatan pertama itu adalah sebuah momok atau justru sebuah kebanggaan bagi kalian.

Sekolah gw tahun ini baru memasuki tahun yang ketiga. Demikian pula gw sekarang adalah siswa tahun ketiga, alias kelas XII. Itu berarti, gw adalah angkatan pertama dari SMAK 6 PENABUR Jakarta. Dan kabar lainnya, gw masuk OSIS sejak tahun pertama gw di sekolah ini.

Lewat OSIS-lah gw bisa merasakan suka dan duka jadi angkatan pertama.

Pertama nih, karena kita angkatan pertama, kita ngga punya kakak kelas. Jadi, kita adalah "forever senior"-nya sekolah ini.
Dukanya, kita dari OSIS ngga punya contoh dari kakak kelas, jadi kita ngga bisa ngekor administrasi dari angkatan lain, malah kita yang harus kerja keras ngurusin administrasi supaya bisa dipakai angkatan berikutnya. Lalu, karena cuma satu angkatan, jumlah siswa kita cuma sedikit, bahkan ngga nyampe seratus orang. Akibatnya, dana OSIS kita cuma sedikiiiiiit banget. Bikin acara ke luar juga susahnya setengah mati, soalnya gedung sekolah kita kecil dan, ehm, bobrok (walaupun bobrok, tapi tetap jadi sekolah tercinta)...
Kemudian karena sekolah kita masih baru, orang-orang suka memandang sebelah mata SMAK 6. Dan mereka bahkan ngga tahu SMAK 6 itu PENABUR yang ada di mana... Pernah gw ikut acara PENABUR, dan pas gw bilang dari SMAK 6, yang pertama mereka tanyain adalah: "SMAK 6? Ada ya? SMAK 6 tuh adanya di mana?". Parahnya, yang nanya malah dari lingkungan PENABUR sendiri.
Lalu ada lagi duka kita yang muncul gara-gara kita angkatan pertama. Yearbook kita jatuhnya harganya akan jadi mahal banget, soalnya harga nyetak 500 eksemplar dan 100 eksemplar, kata guru gw, sama... Udah gitu panitia kita jadi sedikit, karena anak-anak angkatan kita juga udah berkurang...
Yang lebih parah, ijazah kita, booo..... Ijazah kita gak bisa ditandatangani oleh Kepsek kita... Bahkan yang seharusnya pake kop PENABUR, cap PENABUR, ada kemungkinan gak bisa, karena kita disuruh menginduk ke SMAN 111... Tentunya ini sebuah kekecewaan bagi anak-anak angkatan gw, karena biar gimana juga, bersekolah di PENABUR itu bukan main-main, karena gw akuin, standarnya tinggiiii banget... Terutama untuk mapel MaFiABio-nya...
Sebenernya guru gw juga lagi berusaha supaya kita bisa menginduk ke SMAK 5 aja... Doain ya, supaya berhasil...

Dukanya banyak, ya? Jangan salah, ada juga sisi baik dari "menjadi pioneer"...

Karena jumlah siswa yang sedikit, kita lebih gampang mengkoordinir siswa dan siswi SMAK 6 PENABUR... Jadi kalau ada acara ke dalam (acara yang ngga mengundang pihak luar), kita lebih gampang mengatur anak-anak... Kedua, karena ngga ada kakak kelas, kita jadi punya kesempatan untuk berkreasi... SMAK 6 kan belum punya image apa-apa, jadi kita bisa membentuknya sesuka kita... Mau bikin SMAK 6 jago di bidang OR, bisa... Mau bikin jago di bidang seni budaya, boleh... Mau bikin SMAK 6 jago di bidang IT, juga bisa... Inilah asyiknya...
Selain itu, kita jadi mandiri... Soalnya, semua acara yang urus kita dengan bantuan dari guru, jadi kita sudah terbiasa bekerja total. Ini pasti berguna bagi kita pas kuliah atau kerja...
Dan yang terakhir, yang paling penting... Sekolah bukan cuma sarana belajar, tapi juga sarana mencari teman dan bersosialisasi. Gw yakin, persahabatan yang terjalin antara gw dengan orang di sekitar gw saat ini gak akan bisa gw rasain kalo gw masuk ke sekolah besar macam SMAK 1, yang satu angkatan bisa 8 kelas, dengan persaingan yang sangat tinggi. Bayangin aja, menghafalkan nama anak-anak sejumlah 8x40 anak, pasti bukan sesuatu yang mudah...

Ya, jadi inilah plus-minusnya jadi angkatan pertama. Bagi yang mikir jadi angkatan pertama itu momok, coba pikir lagi... Jadi angkatan pertama berarti mengambil kesempatan untuk berkreasi lebih daripada angkatan berikutnya, sekaligus melatih kemandirian kita, soalnya setahu gw selama ini, kalau kakak kelas kita udah rajin, biasanya kita jadi kebawa santai...
Terus untuk yang ngerasa kalau jadi angkatan pertama itu adalah sesuatu kebanggaan, jangan sampai lupa kalau jadi angkatan pertama itu juga adalah sebuah tanggung jawab. Kalian adalah penentu akan jadi apa organisasi kalian itu di masa depan...

Never you worry about being a pioneer,
but don't be arrogant if you're one...

Saturday, February 6, 2010

Are they selfish, or am I??

Ini cuma sekadar sumbang pikiran buat semua yang baca ya...

Pernah ngga, mikir orang lain banyak nuntut dari kita? Atau mungkin ada orang yang dengan seenaknya --atau seenggaknya kita pikir mereka seenaknya-- nyuruh kita ini-itu?? G pernah...

Kadang-kadang g mikir, "Apaan sih, nyuruh-nyuruh?? Emang ngga bisa sendiri apa??" Dan biasanya pikiran kayak gitu bisa bikin kita bete, atau bahkan ngerasa perlu mem-blacklist orang itu kalau sudah keseringan. Nggak enaak banget...

Tapi kok g biasanya mau-mau aja ya ikutin ini-itu sesuai kata-kata mereka? Kok mau?

Jadi sebenarnya ini bagian dari isi otak g yang sudah langsung muncul kalau g mikir kayak yang di atas... Istilahnya, ya... Alam bawah sadar, kalau kata Romy Rafael... Jadi, ada satu pikiran yang otomatis muncul tepat setelah g mikir nggak enak disuruh-suruh atau diminta-mintain sesuatu... Isinya, seperti judul post ini, "Are they selfish, or am I?? Sebenernya yang egois itu mereka, atau jangan-jangan g yang lebih egois dari mereka??"

Isi pikiran itu, entah kenapa, selalu bisa membuat g langsung pulih dari mood g yang ancur beberapa detik sebelumnya... Entah kenapa, g lebih bisa menerima perlakuan itu, karena g yakin, pasti g juga secara tidak sadar sering seperti itu... Mungkin g secara tidak sadar sering nyuruh-nyuruh orang, atau mungkin g bersikap bossy, dan mungkin juga mereka nggak suka itu... Jadi sebagai gantinya, bukankah lebih enak kalau g turutin aja apa mau mereka?? Tentunya dengan menyortir apakah permintaan mereka itu masuk akal n berakibat baik atau ngga... Kalau mereka minta g bawa ini-itu untuk tugas, kan maksud mereka baik... Tapi kalau mereka nyuruh g terjun ke Kali Angke, masa g ikut turutin juga??


Jadi intinya, sebelum kita marah-marah atau melakukan aksi tutup mulut karena kesal gara-gara berpikir orang laen egois, alangkah baiknya kalau kita refleksi diri dulu, sebenernya mereka yang egois, atau kita yang egois?? Karena selain bisa membantu kita berpikir positif (think positive is great for health, you know?), mood kita juga nggak bakal terlalu ambles...



So, "Are they selfish, or are you?"

Who Wants to be A Humble Bee??

G baru aja balik dari Bina Iman (dulu disebut retret sama sekolah) SMAK 6 kemaren. G jadi panitianya bersama-sama dengan 5 orang siswa SMAK 6 kelas XI lainnya dan 4 orang guru. Tadinya jujur aja, saya sedikit pesimis acara ini akan berhasil. Kenapa? Karena panitia kali ini tidak memakai jasa vendor untuk mempersiapkan berbagai permainannya. Ternyata kita berhasil.


 Sekian saya berbicara mengenai pengalaman saya menjadi panitia Bina Iman. Sekarang saya akan mulai berbicara mengenai isinya. Tema Bina Iman SMAK 6 kali ini adalah Humble Bee. Kenapa Humble? Dan kenapa Bee?

Pertama, tema dari PENABUR untuk tahun ajaran ini adalah kerendahan hati. Karena SMAK 6 hanyalah salah satu cabang dari PENABUR, tentunya kita harus mengikuti tema utama dari PENABUR ini. Hal ini masih mudah dipahami.


Untuk pertanyaan kedua, kenapa harus Bee? Kenapa lebah yang kita pakai dalam tema kita? Dalam ibadah pembuka Bina Iman kemarin, Pdt. Bonnie bercerita bahwa secara keseluruhan, lebah terbagi menjadi tiga. Lebah ratu, lebah pekerja, dan lebah jantan. Masing-masing memiliki tugas yang penting bagi komunitas, tapi tidak ada yang menyombongkan diri. Semuanya akhirnya berjalan dengan baik.



Apa aja sih yang menjadi pembicaraan dalam Bina Iman ini?

Dalam sesi pertama oleh Pdt. Bonnie yang bertajuk "Why Should I??" sempat ditunjukkan apa yang terjadi apabila kita menjadi orang yang tidak rendah hati. Ada orang pekerja bangunan yang sedang melempar batu bata ke bawah. Ketika orang yang menerima lemparan batu bata menoleh sebentar saja, batu bata itu jatuh mengenai kepalanya. Ada juga kesalahan-kesalahan konyol yang dilakukan pemain-pemain sepak bola, padahal beberapa dari mereka adalah pemain papan atas seperti David Beckham, dll. Ada juga orang tua yang sedang berorasi, karena sangat bersemangatnya, gigi palsunya copot.

Dia juga mengatakan, bahwa Allah dan teman-teman kita tidak suka orang yang sombong. Apabila kita memiliki teman yang sombong, biasanya kita menjauhinya, kan? Ternyata Allah juga begitu. Rupanya hal itu karena orang sombong tidak mensyukuri penyertaan dan berkat Allah, dan mereka menganggap diri mereka penyebab keberhasilan.

Jadi apa intinya? Ketika kita melakukan sesuatu karena kebiasaan, keahlian, dsb, kita sering merasa: "Ah, gampang... Sudah biasa...", dan itu menjadi awal mula kesombongan dan menjadi awal mula kegagalan. Tidak ada kan, yang mau menjadi kegagalan?

Di sesi kedua, Pdt. Izack mengingatkan kita tentang cara-cara menjadi rendah hati, dan ternyata untuk memulainya itu tidak sulit. Kita bisa memulainya dengan berdoa, tidak narsis, menghargai setiap orang, mendahulukan orang lain, bersikap sopan, mengalah, menerima celaan, dan tidak iri hati, serta tidak ketinggalan mengasihi dengan tulus.

Terakhir, Pdt. Riani dalam Dedication Service mengajak siswa untuk menonton sebuah film yang telah diedit agar menjadi lebih pendek, berjudul "Facing the Giants". Ini kali ketiga saya menontonnya, tapi saya tetap terharu ketika saya menontonnya. Apa yang ditunjukkan dalam film itu?

Ada sebuah tim futbol di sebuah sekolah bernama Shiloh Christian Academy. Tim ini selalu gagal menjadi pemenang. Sang pelatih yang bernama Grant Taylor pun akhirnya selalu memarahi tim tersebut. Ditambah lagi dengan persoalan-persoalan pribadi yang dialami sang pelatih membuatnya mulai mengalami kejatuhan. Tetapi ketika dia mulai berserah kepada Tuhan, dan mulai mengajak timnya untuk juga berserah kepada Tuhan, sebuah perubahan signifikan terjadi.


Timnya mendadak mendapat kemenangan di kejuaraan daerah, lalu permasalahan-permasalah pribadinya dapat terselesaikan. Yang lebih lagi, ia menjadi pembawa berkat dengan menjadi awal dari pertumbuhan iman siswa sekolah Shiloh Christian Academy. Betapa kerendahan hati dapat membuat seseorang menjadi sukses dan membawa berkat bagi orang lain.


Dari sesi-sesi itulah saya mendapatkan motivasi untuk menjadi lebih rendah hati lagi. Sekarang ini saya ingin mengajak orang-orang yang membaca tulisan saya ini untuk mulai merenungkan, apa kita mau mulai berubah untuk menjadi lebih rendah hati?






Jadi, who wants to be a humble bee?

Why don't I commit a suicide?

Hidup...




Untuk apa kita hidup? Kita sering menanyakan makna hidup kita sendiri. Kalau kita sudah mulai depresi, biasanya kita menanyakan hal itu. Biasanya alasan kita depresi karena hidup ini banyak masalah lah, karena diputus pacar lah, karena tmen kita mengkhianati kita, atau yang paling simple, karena tugas kita banyaaak banget, sampai kita mikir: "Buat apa bikin tugas-tugas ini? Ujung-ujungnya paling kumpulin ke guru, terus membusuk deh di rak buku..." Tugas kita sendiri, hasil karya kita, bisa membuat hidup kita nggak ada maknanya.


Jujur aja, saya juga bukannya nggak pernah mikir mau mati aja. Sering malah. Tapi apa yang bikin saya survive? Apa yang bikin saya masih mau bertahan hidup? Apa rahasia urat nadi saya belum saya potong? Apa?

Satu saja, hanya satu. Tuhan. Just a few minutes ago, saya mengomentari status salah satu teman saya di facebook. Saya tulis:

"Every sunrise LORD gives us, gives us one more day to help people
Every sunrise LORD gives us, gives us one more day to solve our problems
Every sunrise LORD gives us, gives us one more day to forgive
Every sunrise LORD gives us, gives us one more chance to have salvation"

Jadi cuma satu hal aja. Saya cuma menyadari kalau hidup ini anugerah Tuhan. Tuhan, yang sudah menciptakan saya, Dia menyayangi saya dengan begitu besarnya. Kalau saya sudah kehabisan alasan untuk hidup, maka saya akan berusaha untuk mulai berpikir:

"Tuhan masih menginginkan saya hidup. Dia belum menutup saluran pernafasan saya sampai saya tersedak. Dia belum meremas jantung saya sampai meledak. Dia sudah memberi saya semua yang saya butuhkan pada waktu saya memiliki banyak alasan untuk hidup. Apa salahnya kalau saya menyenangkan hati-Nya dengan memenuhi keinginan-Nya, yaitu saya tetap hidup?"

Jadi semua tetek-bengek yang saya tulis di atas hanya ada satu kesimpulan, jika cinta, pertemanan, keluarga, sahabat, atau yang lain sudah tidak lagi menjadi alasan hidup kita, tetaplah hidup, setidaknya untuk Tuhan.





--this post is dedicated for my friend, who thinks her life has no meaning--
--hope she'll have one more reason to live after she reads this post--

Hello, World!

Kawan-kawan semua, akhirnya saya hijrah juga ke blogspot...

Salah satu temen saya kasih saran, katanya, mendingan saya bikin blognya di blogspot, karena jadi hak milik saya...

Jadi ya, sebelumnya saya uda punya blog yang sampai sekarang masih ada... Saya waktu itu pake friendster blogroll... Judulnya sama dengan blog ini, tapi postnya jauh lebih banyak, soalnya gak semua posts di blog lama saya dipindahin ke sini...

So, here it is, enjoy...