b: of a kind or style no longer current : old-fashioned
2of a plant or animal part: indistinct or imperfect as compared with a corresponding part in related organisms : vestigial
(Sumber: https://www.merriam-webster.com/dictionary/obsolete, dikutip tanggal 11 Juli 2018)
Pagi ini di perjalanan menuju kantor, gw dengerin lagu ini dalam keadaan ngantuk, kecapean karena kurang tidur akibat sakit beberapa hari terakhir, dan dengan keadaan otak yang kosong. Dan mendadak, gw akhirnya paham isi dari lagu ini.
Pernah ngga kita merasa kosong? Kita merasa ngga berguna?
Gw rasa, semua orang pernah ngerasain itu. Dan bagi gw, ketika gw lagi merasa ngga berguna, lagi ngerasa kosong dan hampa, ada satu perasaan lain yang juga dominan, yaitu rasa kesendirian.
Loneliness.
Dan dalam lagu ini, gw sangat takjub dengan cara Regina Spektor mengolah rasa kesendirian dan kesepian menjadi sesuatu yang audible. Padahal ngga seperti lagu lain yang menggambarkan kesendirian dengan aransemen lagu yang minimal, aransemen lagu ini terdengar full, dengan berbagai macam instrumen yang terlibat dan rhythm lagu yang cukup padat di background-nya.
It's like we're alone in a very loud and noisy place.
We're drowning, and lonely, and useless, and confused, and HURT... HURT... HURT...
but everything around us just keep going and keep moving. And we're obsolete.
"Bind up these broken bones Mercy bend and bring me back to life But not before You show me how to die Lord, not before You show me how to die" Show Me, by Audrey Assad
Untuk pertama kalinya tahun ini, gw terlibat secara langsung dengan acara tablo di paroki gereja. Kalau ada yang belum tahu, tablo adalah visualisasi atau dramatisasi kisah sengsara Tuhan Yesus. Gw ngga tahu kalau di paroki lain, tapi kalau di paroki gw biasanya tablo ini dilakukan sambil ibadah jalan salib. Jadi setelah adegan yang mendramatisasi satu perhentian selesai, biasanya kami akan berhenti untuk berdoa sebentar, lalu melanjutkan dramatisasi sambil berarak dan berdoa ke perhentian berikutnya.
Bagi gw, pengalaman ini memberikan kesan yang sangat dalam bagi gw. Terutama di penutup perhentian ke-12, biasanya dinyanyikan,
"Biji mati menghasilkan buah yang berkelimpahan Wafat-Mu menghidupkan"
dan rasanya sediiiiih banget setiap sampai di sini.
Lagu Show Me dari Audrey Assad memberikan kesan yang sama bagi gw seperti lagu yang dinyanyikan di tablo dan jalan salib.
Gw percaya, bahwa untuk masuk dalam kehidupan yang baru, terlebih
dahulu kita harus "mati". Setiap kali latihan tablo, gw merasa
seperti Tuhan sedang menunjukkan langsung di hadapan mata gw sendiri,
beginilah cara untuk "mati". Dengan berkorban, dengan menyangkal diri,
dengan memikul "salib", dan dengan menyerahkan semua diri kita kepada
Tuhan. Setelah kita "mati" itulah, rahmat Tuhan akan membawa kita ke kehidupan yang baru.
Tablo jalan salib di paroki gw saat ini tentunya masih dalam tahap latihan dan persiapan. Gw berharap dan berdoa kalau tablo tahun ini bisa memberikan rahmat dan berkat bagi orang-orang yang mengikuti tablo nanti, baik yang ikut hadir sebagai umat, maupun bagi semua pemain dan panitia tablo. Amin.
"She shuffles around, turning the lights on Goes to the kitchen, gets the champagne Opens the window and wrapped in a blanket Begins to count and wait Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one Happy new year, happy new year"
~New Year, by Regina Spektor
"We could be kings of the world
On top of the nation
It's a celebration of the moments to come
The city's on fire
We're holding up lighters
Raising them higher and we've only begun"
~New Year's Day, by Pentatonix
Lagu New Year adalah salah satu lagu favorit gw dari album terbaru Regina Spektor, Remember Us to Life. Lagu ini sangat tenang, menggambarkan seseorang yang merayakan tahun baru sendirian di rumahnya. Kalau gw pribadi, gw menginterpretasikan lagu ini sebagai perasaan seorang yang sedang sakit kronis pada perayaan tahun baru. "She's just glad she got to be around to see another spring comes to this town." Bisa merayakan tahun baru sekali lagi saja, dia sudah bahagia. Rasanya sangat bittersweet.
Yang gw suka dari lagu ini adalah bagaimana menggambarkan suasana cerita, bukan hanya dari liriknya, tapi juga dari aransemennya. Setiap kali gw mendengar countdownten to one di lagu ini, diikuti dengan "Happy new year, happy new year," yang tergambar di kepala gw adalah seseorang yang sambil menikmati coklat panas, menyaksikan kembang api dari kejauhan.
Kebalikannya, lagu New Year's Day dari Pentatonix sangat hidup, dan menggambarkan riuhnya perayaan di kota pada saat perayaan Tahun Baru. Aransemennya yang full, upbeat, dan dilihat dari liriknya, sangat digambarkan kegembiraan kota tersebut menyambut tahun yang baru. "Tomorrow morning when we wake, this town will be a different place. The past will wash away like coffee stains."
Kedengarannya dua lagu ini sangat bertolak belakang, tapi entah kenapa, gw selalu membayangkan kedua lagu ini sebagai sebuah kesatuan cerita. Menjelang tahun baru, New York City pasti mulai mengadakan berbagai perayaan. Banyak orang berkumpul untuk merayakan tahun baru bersama-sama. Tapi di pinggir kota, ada sebuah rumah yang hanya berisi seorang saja, merayakan tahun baru sendirian sambil berjuang melawan sakitnya.
It's like two sides of the same coin, dan gw rasa ini sangat menarik. Kenapa? Because it's exactly like the real life. Hal yang sama juga terjadi di dunia nyata. Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda dalam melihat sebuah cerita. Masing-masing cerita itu indah, ekspresif, impactful, dan penting bagi masing-masing orang. Akan tetapi, bagi gw cerita itu akan lebih indah, jika kita melihat dari perspektif orang lain juga. Setelah itulah, semua perspektif itu terjalin menjadi sebuah cerita yang utuh dan kompleks, ada keindahan, ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada kemarahan, ada ketenangan, semuanya terjalin menjadi satu.
Di tahun yang baru ini, semoga kita semua bisa belajar untuk sedikit melepas ego kita, dan mulai melihat sebuah masalah dari berbagai perspektif. Karena dari situlah, kita bisa mendapat solusi yang lebih baik atas berbagai masalah yang kita hadapi.
Happy belated New Year!
New Year dari Regina Spektor
New Year's Day dari Pentatonix
She shuffles around
Turning the lights on
Goes to the kitchen
Gets the champagne
Opens the window
And wrapped in a blanket
Begins to count and wait
Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one
"And I have troubles everyday But it turns out fine It turns out fine And I fight to keep them all away But it turns out fine It turns out fine"
Lagu ini adalah salah satu lagu dari EP berjudul Sage and Stone yang akan rilis Juni nanti.
Avriel & the Sequoias? Itu band apa yah? Baru dengar...
Sejauh yang gw pahami, Avriel & the Sequoias sebenarnya bukan band. Itu bisa dibilang adalah "nama panggung" yang dipakai oleh Avi Kaplan, the soon-to-be-ex Pentatonix. (Buat yang belum tahu, Avi Kaplan berencana untuk mundur dari Pentatonix setelah semua jadwal tur selesai.) Sejauh ini, dari dua lagu yang di-upload di akun Youtube Avi Kaplan, gw menangkap style musik Avi yang tenang, ringan, dan menghanyutkan, tapi di saat yang bersamaan sangat heartfelt. Kalau kata Kevin Olusola, you can hear Avi's heart in these songs.
Yang gw sangat suka dari lagu Quarter Past Four, selain melodinya dan iringan gitarnya (yang setahu gw dimainkan oleh Avi Kaplan sendiri), adalah liriknya. Lirik lagu ini tidak perlu analisa yang dalam untuk dicerna, tapi tetap sangat bermakna.
I have troubles everyday - Setiap hari aku menghadapi masalah I fight to keep them all away - Aku berjuang agar masalah itu tidak menggangguku But it turns out fine - Tapi ternyata semuanya berakhir baik It turns out fine - Semuanya berakhir baik
Semuanya akan baik-baik saja.
Gw rasa itu yang Avi Kaplan mau sampaikan dalam lagu ini. Walaupun masalah yang kita hadapi terus menghadang hingga menjadi sebuah pergumulan, tetaplah yakin bahwa semuanya akan berakhir baik.
Banyak yang mengaitkan dua single yang dirilis Avi Kaplan akhir-akhir ini dengan keputusan Avi mundur dari Pentatonix. Lagu Fields and Pier katanya adalah seperti lagu perpisahan, sementara Quarter Past Four adalah pesan Avi untuk para penggemarnya dan penggemar Pentatonix bahwa everything is gonna be alright.
Tapi menurut gw, lebih dari itu, lagu-lagu ini menceritakan pengalaman dan pergumulan Avi Kaplan sendiri. Oleh karena itulah, lagu-lagu ini terasa sangat heartfelt. This EP really is Avi's heart.
Mungkin segitu aja yang bisa gw ceritakan mengenai lagu ini. Seperti biasanya, gw attach video klip dari lagu ini di bawah. Enjoy!
PS. This video is visually appealing. Konsep videonya dan pemandangannya bagus banget. Coba deh tonton! :)
"The parade travelled on With the sun in my eyes You were gone But I knew even then In a crowd of thousands I'd find you Again"
Sebenernya, menurut jadwal gw, post berikutnya adalah tentang lagu the Light atau New Year dari album terbarunya Regina Spektor, tergantung dari yang mana yang selesai duluan direnungkan. Tapi tiba-tiba lagu ini muncul di hadapan gw dan terngiang-ngiang sepanjang hari.
Lagu ini adalah salah satu lagu dalam stage musical adaptation dari cerita Anastasia. Buat yang belum tahu, atau yang lahirnya tahun 2000-an, Anastasia adalah film animasi musikal yang disutradarai Don Bluth dan Gary Goldman, rilis tahun 1997. Film ini menceritakan pencarian putri Tsar Nicholas II yang menurut rumor berhasil lolos dari eksekusi keluarganya ketika terjadi Revolusi Bolshevik di Rusia, sekitar tahun 1916. Cerita ini kemudian diadaptasi menjadi lebih realistis (tokoh antagonis Rasputin si penyihir dalam film diganti menjadi Gleb Vaganov, jenderal rezim Bolshevik yang bertugas untuk membunuh Anastasia) dan diangkat menjadi stage musical.
Seiring proses perubahan cerita ini, lagu-lagu yang mengiringi cerita pun ada yang dihilangkan dan ditambahkan. Tapi bagi penggemar film Anastasia, tidak perlu takut, karena yang menggarap lirik dan musik untuk stage musical ini adalah Lynn Ahrens dan Stephen Flaherty, orang-orang yang sama yang telah menggarap lirik dan musik film Anastasia. Rest assured, suasana dan spirit dari lagu-lagu baru di pentas ini pasti sama bagusnya dengan lagu-lagu lama yang kita nikmati di film Anastasia. Gw sendiri pengen banget nontonnya, tapi mereka pentasnya di Broadway. Berat di ongkos, sodara sodarahhhh....
Lagu In A Crowd of Thousands ini adalah salah satu lagu baru dalam stage musical ini, dan dengan cepat lagu ini jadi salah satu lagu favorit di antara semua lagu yang sempat gw curi dengar dari musikal ini. Lagu ini dinyanyikan oleh karakter Anya (Anastasia yang hilang ingatan) dan Dmitry, saat ini diperankan oleh Christy Altomare dan Derek Klena, respectively. Keduanya bernyanyi dengan sangat baik dan penuh penghayatan, sampai semua emosi dan perubahannya bisa terbaca dengan baik ketika mendengar, dan menonton mereka bernyanyi.
Mendengar mereka nyanyi lagu ini membuat gw ngiler berat untuk mencari rekaman soundtrack untuk pentas ini, yang kabarnya akan rilis antara Juni atau Juli ini, gw lupa. Apalagi ketika mendengar Ramin Karimloo juga ikut dalam pentas ini menjadi Gleb Vaganov. Jujur gw juga termasuk newbie soal ngikutin drama-drama musikal seperti ini, dan mereka bilang masih banyak aktor aktris musikal legendaris yang ikut dalam pentas ini. Tapi kalau Ramin Karimloo, gw pernah dengar. Dia adalah salah satu pemeran the Phantom untuk pentas Phantom of the Opera di beberapa tahun terakhir. I quite like his performance and his voice as the Phantom, jadi gw cukup berharap banyak akan rekaman soundtrack ini.
Cukup sekian dari saya. Sekarang waktunya saya kerja lagi, dan semoga uangnya bisa dipakai untuk beli rekaman soundtrack-nya nanti, kalau misalkan rilis di Indonesia juga. Hehehe...
Rekaman Christy Altomare dan Derek Klena menyanyikan lagu My Petersburg, Once Upon a December, dan In A Crowd of Thousands.
"I'm just another drop in a bucket I'm just another song on the jukebox I'm just another face in the crowd Another fish in the sea Something to being one of the many Something to being one in the masses Something to being surrounded by others And not alone by yourself"
The One Who Stayed ---
"Something to being one of the many Who get to sing the songs on the jukebox Who get to stay awake all night And dream half of the day Something to waking up in a town Something to singing songs to a new crowd Something to being surrounded by others And not alone by yourself"
--- and the One Who Left, by Regina Spektor
Sesuai dengan judulnya yang dua bagian, rasanya ngga cukup kalau gw cuma kutip satu bagian lagunya. Kali ini gw kutip dua bagian, satu bagian untuk "The One Who Stayed" dan satu bagian untuk "The One Who Left".
Lagu ini adalah bagian dari album terbaru Regina Spektor yang rilis September 2016, yaitu Remember Us to Life. Dalam album tersebut banyak lagu bagus, dan mungkin nanti satu per satu judulnya akan muncul di sini, kalau ada waktu. Selain lagu ini gw suka juga lagu Black and White yang sekarang sudah ada music video-nya, lagu Sellers of Flowers yang maknanya dalam banget, lagu Grand Hotel yang isinya nyentrik, The Trapper and the Furrier yang maknanya kritik sosial, Tornadoland yang gw suka banget aransemen interlude-nya, New Year yang ceritanya mengharukan, the Light yang ceritanya menurut gw agak sedih, dan masih ada beberapa lagi yang bagus.
Wow, that's almost the whole album! Actually, seluruh lagu dalam albumnya unik dan mirip dengan gaya lagu Regina yang lama (waktu album awal-awal), dengan production yang lebih bagus dan apik. Bener-bener worth checking out menurut gw.
Ada dua hal yang sangat gw suka dari lagu ini. Yang pertama, tentu aja dari keindahan lagunya. Lagu ini terdengar sederhana, ngga banyak alat musik yang terdengar terlibat dalam lagu ini. Paling hanya piano, strings, dan sedikit bunyi gitar akustik kalau kuping gw masih bagus. Kesederhanaan aransemen lagu ini tidak hanya cocok untuk isi lagunya yang bermakna dalam.
Hal kedua yang gw suka dari lagu ini, tentu saja isinya. Menurut gw, lagu ini sangat menonjolkan keberagaman kepribadian manusia. Ada dua orang yang berasal dari tempat yang sama, bermain bersama, akan tetapi mereka memiliki passion dan jalan hidup yang berbeda. Ada yang memiliki passion di bidang musik, ingin berkeliling dunia, bernyanyi di depan sebanyak mungkin orang, dan ada juga yang lebih memilih menjalani hidup yang sederhana dan tenang, tidak menonjol, tidak menarik perhatian. Akan tetapi, walaupun berbeda kepribadian, passion, dan jalan hidup, kedua orang ini dapat tetap berteman baik meskipun harus terpisah lama karena mengejar mimpi dan kebahagian masing-masing.
Ini adalah pelajaran yang sangat baik bagi kita. Kepribadian dan passion orang memang berbeda-beda, unik satu sama lain. Namun jangan sampai perbedaan ini menjadi jurang pemisah di antara kita. Bagaimana agar kita tidak terpisah karena perbedaan? Berdasarkan pengalaman gw sendiri, yaitu pertama dengan mengakui adanya perbedaan itu, lalu dengan saling menghargai dan memaklumi. Sebagai contohnya aja ketika introvert berteman dengan ekstrovert, maka satu sama lain perlu paham dan memaklumi kebutuhan satu sama lain. Introvert akan perlu waktu recharge dengan menyendiri, sementara ekstrovert me-recharge dengan bersosialisasi, hangout, atau berpesta. Kalau yang dari gw baca-baca, itu ada hubungannya dengan cara kerja otak, ada yang bilang perbedaan alur stimulus dalam otak, ada yang bilang lain lagi, tapi karena gw bukan ahlinya, mungkin ada baiknya gw ngga bahas terlalu panjang di sini. Tapi intinya, kalau satu sama lain paham dan memaklumi kebutuhan masing-masing, tentunya tidak akan ada pertengkaran yang bunyinya begini:
"Kok lo ngga pernah mau ikut jalan-jalan sih?"
"Lo ngga paham yah gw butuh istirahat?"
"Lo egois! Ngga pernah mau pahami gw!"
In the end, gw tahu akhir-akhir ini banyak banget perpecahan di antara kita yang disebabkan oleh perbedaan. Di lingkup kecil, lingkup pertemanan, mungkin perbedaan kepribadian seperti contoh di atas. Gw rasa ini jenis perbedaan yang lebih mudah untuk dipahami. Yang jadi masalah adalah di lingkup yang lebih luas, perbedaan pandangan politik, agama, suku, dan ras.
Menurut gw, berhentilah mengangkat perbedaan itu menjadi sumber perpecahan. Jangan lupa guys, slogan kita di Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika.Jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa kalau orang yang berbeda dengan kita itu juga manusia, dan harus diperlakukan dengan pantas, sebagai manusia.Jangan sampai keluar makian kebun binatang hanya karena perbedaan. Jangan sampai kita memperlakukan orang lain seperti hewan, hanya karena perbedaan. Jangan sampai kita menganggap kita lebih hebat dan mulia dari orang lain, karena perbedaan itu. Jangan sampai kita kehilangan kemanusiaan dan keberadaban kita, hanya karena perbedaan. Gw bersyukur masih banyak orang yang saling menghargai, tanpa ada kotak-kotak perbedaan, tapi di sisi lain gw juga ngga bisa mengingkari kalau masih banyak orang yang sibuk membangun dinding pemisah karena perbedaan. Jadi sedih gw setiap kali kepikiran perpecahan ini.
Udahan sedih-sedihnya, dan ini post udah ngalor-ngidul juga, dari perbedaan kepribadian sampai keadaan yang lagi kacau sekarang. Langsung aja deh, di bawah ini gw attach video lagunya, seperti biasa. Enjoy!
The One Who Stayed and the One Who Left, by Regina Spektor
"Life inside the music box ain't easy The mallets hit, the gears are always turning And everyone inside the mechanism is yearning to get out And sing another melody completely So different from the one they're always singing I close my eyes and think that I have found me But then I feel mortality surround me I wanna sing another melody, so different from the one I always sing"
Lama ngga ngeblog... Rasanya kangen, tapi apa daya kerjaan di kantor lagi bejibun dan job nyanyi juga kemarin ini cukup banyak. Akibatnya susah nyolong waktu, dan ada waktu pun biasa dipakai untuk urus daftar lagu untuk job nyanyi. (Ini aja nulis post nya kemarin sepotong, hari ini sepotong... Ngga kerasa udah seminggu kayaknya, tapi belum selesai juga... Ahahaha...)
Kali ini gw mau bahas lagu Musicbox dari Regina Spektor.
Ada beberapa hal yang menarik dari lagu ini. Pertama, isi liriknya secara sekilas. Sebenernya kalau kita baca lirik satu lagu, lagu ini cukup morbid. Bagian tengah lagunya berupa cerita tentang orang yang sangat bosan, sampai-sampai dia "menyicipi" sabun cuci piring. Ini bukan pertama kali dan bukan terakhir kalinya Regina Spektor menulis lagu dengan struktur sebuah cerita. Contohnya, dari album pertamanya, 11:11 sudah ada lagu Braille yang bicara tentang aborsi dalam bentuk cerita.
Kedua, strukturnya. Struktur lagu ini sebenernya seperti sandwich, biskuit, ataupun burger. Yang gw tulis liriknya di atas itu adalah bagian pembuka, paling atas. Lalu bagian tengah adalah isi cerita seperti yang gw bilang sebelumnya. Yang menarik, bagian terakhirnya, (kayak bagian roti paling bawah di burger), adalah kebalikan dari bagian pembuka di atas.
"I feel mortality surround me I close my eyes and think that I have found me But life inside a music box ain't easy The mallets hit, the gears are always turning And everyone inside the mechanism is yearning to get out And sing another melody completely, is yearning to get out Is yearning to get out, is yearning to get out"
Bisa dilihat kan, strukturnya seperti mirrored. This structure truly amuse me to no end. Setiap kali denger lagu ini, rasanya bisa senyum-senyum sendiri ketika mengikuti struktur yang mirrored ini.
Ketiga, gw sangat suka perumpamaan yang dibuat Regina dalam lagu ini. Lagu ini mengibaratkan kehidupan kita seperti dalam sebuah musicbox. Kalian tahu kan cara kerja musicbox? Dalam kotak musik, ada banyak pin metal yang dipasang di sebuah roll. Ketika roll itu diputar, maka pin-pin tersebut akan memukul lempengan-lempengan metal sehingga mengeluarkan nada dengan frekuensi tertentu. Di sisi lain dalam musicbox, seringkali ada figurine kecil, biasanya berupa balerina atau sepasang orang yang sedang berdansa, yang akan keluar ketika musicbox mulai bermain.
Well, that's what life is like when you're a performer of some sort.
Di permukaan, yang orang lihat, hanya balerinanya yang menari dengan indah diiringi musik yang indah. Tapi di dalamnya, ternyata banyak persiapan yang dilakukan dan menyakitkan. Banyaknya problem dan persiapan yang bertubi-tubi, sementara waktu terus berjalan.
Mengutip kata-kata Merlin dalam BBC's Merlin (salah satu serial TV favorit gw, by the way):
"I'm like a swan. It seems like I'm not doing anything, but there's a lot of work going on underneath."
(Aku seperti angsa. Kelihatannya tidak melakukan apa-apa, padahal sebenarnya banyak yang dilakukan [di bawah air].)
Sedikit di luar konteks sebenarnya, tapi seperti itulah seorang performer. Di atas panggung harus terlihat effortless walaupun sebenarnya mati-matian latihannya. Bagian ini sangat ngena di gw yang akhir-akhir ini sering perform nyanyi untuk wedding. Hehehe...
Tumben gw ngga bicara makna lagu, karena sebenarnya ngga banyak yang gw bisa simpulkan dalam makna lagu keseluruhan. Jadi gw ambil aja bagian perumpamaan ini yang bener-bener paling menarik buat gw.
Hmmm... Gw sendiri sampai ngga tahu mau ngomong apa lagi, karena sebenarnya post ini sudah ditulis dari lama sedikit-sedikit, tapi baru bisa finishing hari ini... Hehehe... Jadi langsung aja berikut ini lagunya yah... Enjoy!
"Tell me what's wrong with society
When everywhere I look I see
Rich guys driving big SUVs
While kids are starving in the streets
No one cares
No one likes to share
I guess life's unfair
Is everybody going crazy?
Is anybody gonna save me?
Can anybody tell me what's going on?
Tell me what's going on?
If you open your eyes
You'll see that something, something is wrong"
Lagu ini udah tua sebenarnya, katanya albumnya release tahun 2004. Tapi gw yang katrok dan ketinggalan zaman ini baru denger lagu ini baru-baru ini. Hahahahaha...
Kemarin ini pas gw dengerin lagu ini dan bener-bener perhatiin liriknya, gw ngerasa lagu ini pantas dapat shoutout, karena apa yang dipertanyakan dalam lagu ini memang bener terjadi di masyarakat kita, dan kadang kita masih sering menutup mata akan kejadian-kejadian ini.
Keluarga broken home.
Perang.
Kesenjangan ekonomi.
Obsesi akan beauty dan uang.
Itu semua memang ada di masyarakat kita, bahkan kadang dianggap normal.
Kenapa sih bisa sampai masyarakat kita jadi begini? Kita jadi sebegini kebal dan berkulit badak sama masalah-masalah yang ada di sekitar kita. Dari mana sebenarnya kita bisa mulai memperbaiki kondisi ini?
Sejujurnya, gw juga ngga tahu harus mulai dari mana kecuali mulai dari diri kita sendiri. Masalahnya, sulit banget untuk satu orang berusaha membawa perubahan positif. Kita bisa lihat sendiri contohnya di perpolitikan sekarang. Muncul nama-nama yang mati-matian berusaha membersihkan pemerintahan kita, tapi mereka malah sering dijegal kanan-kiri. Bukan cuma dijegal orang-orang yang takut kehilangan harta dan kuasa, banyak juga orang-orang terlalu nyaman "hidup dalam kubangan lumpur", sampai-sampai ketika mereka dikasih kesempatan untuk hidup lebih layak, mereka memandang tangan yang kasih mereka kunci itu dengan kecurigaan dan penolakan.
Itu baru contoh di dunia politik. Di dunia entertainment, banyak banget tayangan-tayangan yang ngga jelas dan ngga bermutu. Sepertinya ngga ada niat dan upaya untuk coba belajar dari tayangan-tayangan luar negeri yang sukses dan laris manis di dunia internasional. Contoh yang paling gampang, kita bandingin aja serial TV yang sukses di luar negeri dan sinetron dalam negeri. Serial TV luar negeri yang sukses kebanyakan hanya sedikit episodenya per season, tayang mingguan, dengan jeda tayang per tahun atau per semester yang cukup lama. Dengan begitu, mereka bisa memproduksi tayangan yang memang benar-benar bermutu, baik secara visual, maupun secara produksi. Tapi di sini? Yah kita bisa lihat sendiri yah di TV keadaannya bagaimana. Kapan bisa berubah? Mungkin butuh satu orang nekad dan gila yang berani rogoh kocek untuk memulai trend baru.
Jadi agak ngelantur nih ke mana-mana, tapi intinya ini:
Kenapa yah, kita ngerasa nyaman hidup di kekacauan ini? Hmmm...
"I never minded being on my own Then something broke in me and I wanted to go home To be where you are But even closer to you, you seem so very far And now I'm reaching out with every note I sing And I hope it gets to you on some pacific wind Wraps itself around you and whispers in you ear Tells you that I miss you and I wish that you were here"
Gw udah kecanduan lagu ini sejak beberapa hari yang lalu, sampai-sampai gw yang tadinya mau nulis tentang lagu Somedays dari Regina Spektor memutuskan untuk tunda lagi bahas lagu itu.
Ada dua hal yang bikin gw suka banget dengan lagu ini. Pertama, liriknya yang puitis banget. Kedua, dari aransemennya yang menurut gw bagus.
Ingat ngga, gw pernah bilang kalau gw suka lagu Open dari Regina Spektor karena aransemennya bisa benar-benar menunjukkan kelegaan. Kali ini juga begitu. Waktu dengar lagu ini, rasanya seakan bisa membayangkan pantai yang berbatu-batu, lalu ada ombak yang menerpa batu-batu tersebut. Kita seakan mendengar sebuah lagu yang lagi dinyanyikan di pantai tersebut, dan setiap not lagunya terasa seperti terbawa angin di pantai tersebut.
Florence + the Machine memang udah lumayan lama masuk daftar favourite female Western singer gw, tapi karena masih kalah "ranking"-nya dari Regina Spektor di daftar gw, jadinya agak jarang gw bahas di mana-mana. Lagu-lagunya heartfelt dan puitis banget.
Nah, lagu ini, Wish That You Were Here adalah lagu barunya yang dijadikan soundtrack untuk film Miss Peregrine's Home for Peculiar Children, yang masih belum gw tonton (tapi sebenernya pengen banget nonton). Selain lagu ini, gw suka juga dengerin lagu Dog Days Are Over, Too Much is Never Enough, dan Never Let Me Go. Sangat recommended untuk orang-orang yang suka lagu-lagu yang lebih heartfelt dan ngga sekadar catchy aja.
Enjoy!
Wish That You Were Here, by Florence + the Machine
"Nothing's gonna change the things that you said Nothing's gonna make this right again Please don't turn your back I can't believe it's hard just to talk to you And you don't understand 'Cause we've lost it all Nothing last forever I'm sorry I can't be perfect Now it's just too late And we can't go back I'm sorry I can't be perfect"
Gw sempat bingung tadi, bait mana yang mau ditampilin sebagai pembuka post ini, karena sebenarnya semua bagian dari lagu ini seperti satu rangkaian surat yang saling berkaitan. Tapi akhirnya, gw settle dengan bagian bridge dan refrain dari lagu ini aja.
Gw sebenarnya tadinya ngga merencanakan nulis tentang lagu ini. Tadinya gw mau nulis tentang lagu Buildings atau Somedays dari Regina Spektor yang akhir-akhir ini sering gw dengerin. Tapi mendadak pagi ini, lagu Perfect dari Simple Plan ini hit me like a ton of bricks.
Lagu ini secara keseluruhan berbicara mengenai kekecewaan seorang anak akan hubungannya dengan ayahnya yang merenggang karena perbedaan sifat dan pandangan. Si anak ingin menekuni hal-hal yang dia sukai, tetapi sang ayah tidak merestui. One thing leads to another, ada pertengkaran hebat, dan akhirnya mereka putus hubungan.
Yang membuat lagu ini benar-benar ngena hari ini, adalah ketika otak gw mendadak menarik garis merah antara lagu ini dengan beberapa film yang gw tonton akhir-akhir ini, yaitu Alice Through the Looking Glass dan Facing the Giants. (Kalau ada yang belum nonton Alice Through the Looking Glass, minor spoiler warning ahead.)
Dalam Alice Through the Looking Glass, kita bisa melihat bahwa hubungan Mad Hatter dengan ayahnya persis seperti di lagu ini. Mereka berbeda jauh. Hatter ingin membuat topi-topi yang fun dan unik, sementara ayahnya merasa profesi pembuat topi harus ditekuni dengan serius dan tidak main-main.
Lalu dalam Facing the Giants, ada seorang supporting character (namanya Matt) yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya, persis juga seperti lagu ini. Dia merasa ayahnya terlalu otoriter dan tidak supportive akan pilihan-pilihan hidupnya. Dia merasa tidak didengarkan oleh ayahnya.
Tapi yang menarik adalah, dalam kedua film ini, pada akhirnya mereka bisa saling akur. Bagaimana bisa?
Kita lihat dalam Alice Through the Looking Glass, seberapa pun berbedanya filosofi Mad Hatter dan ayahnya mengenai profesi topi, ayah Mad Hatter ternyata sangat bangga akan hasil karya anaknya. [minor spoiler] Ia memang bertengkar dengan Mad Hatter kecil dan membuang topi pertama yang dibuat Mad Hatter, tapi ketika semua orang sudah pergi, diam-diam ia mengambil topi kecil itu dari tong sampah dan menyimpannya [minor spoiler].
Di film Facing the Giants, hubungan Matt dan ayahnya membaik drastis ketika Matt akhirnya berkata kepada ayahnya, "I'm sorry. [...] Whatever you say goes." Maaf. Mulai sekarang, aku akan ikuti kata ayah. Ketika mendengar itu, ayah Matt tertegun dan hubungan mereka membaik. Bahkan akhirnya, ayah Matt pun mulai mencoba untuk mendengarkan dan mendukung Matt, baik di sekolah, di pertandingan football (ini American football yah), maupun di kehidupan sehari-hari.
Dalam kedua cerita di atas, kita bisa melihat, bahwa betapa pun buruknya hubungan antara orang tua dan anak, rasa kasih itu tetap ada. Yang seringkali menghalangi kita berelasi dengan baik dengan orang tua adalah keras kepala dan tidak mau mendengar, baik dari pihak orang tua maupun pihak anak. Ayah Mad Hatter akhirnya memutuskan untuk mulai mendengar dan menghargai aspirasi Mad Hatter dalam membuat topi. Matt akhirnya memutuskan untuk mulai mendengarkan apa kata ayahnya.
Komunikasi yang ideal adalah komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah yang ideal adalah ketika yang satu memberikan informasi dan yang satu mendengar, secara bergantian. Inilah yang perlu kita ingat dalam hubungan kita dengan orang tua. No, scratch that. Inilah yang perlu kita ingat dalam hubungan kita dengan semua orang di sekitar kita. Sekali-kali, cobalah untuk diam, mendengar, dan memahami terlebih dahulu, sebelum kita ingin dipahami. Maka komunikasi akan menjadi lebih baik.
Perfect by Simple Plan, versi akustik
Sedikit curhat, hari ini gw senang banget karena waktu shuffle playlist di handphone, ternyata dapat lagu-lagu yang bagus bertubi-tubi, dari lagunya Lee Jin Ah, lagunya Yuzu, lagunya Regina Spektor, soundtrack-soundtrack Hunter x Hunter dan Corrector Yui, bahkan gw sempat ngintip, lagu berikutnya setelah gw stop playlist adalah salah satu lagu favorit gw dari film Anastasia, If I can learn to do it. Semoga hari ini bisa sebagus playlist gw pagi ini. Amin.
"My name is... No. My sign is... No. My number is... No. You need to let it go."
Gw ngga biasanya dengerin lagu pop. Apalagi lagu pop masa kini, karena banyak banget trashy pop saat ini. Tapi ngga semua lagu pop saat ini trashy pop, dan Meghan Trainor adalah salah satu penyanyi pop saat ini yang lagu-lagunya ngga trashy. Lagu-lagu Meghan Trainor menurut gw cukup smart. Ngga banyak penyanyi saat ini yang makna lagunya semenarik lagu-lagu Meghan Trainor (dan Regina Spektor. Ehem.)
Makna lagu ini cukup ngena di keseharian kita saat ini, terutama untuk para cewek.
Kenapa cewek harus selalu kasih alasan untuk bilang 'nggak'?
Sebel nggak sih, kalau kita udah bilang 'nggak', tapi tetaaaaap aja
dikejar-kejar terus dan ditanya, 'kenapa?'. Kadang kala, kita sampai dipaksa-paksa untuk ikutin maunya orang lain sampai kita bilang kenapa kita bilang 'nggak'. Padahal, setiap orang punya alasan
sendiri untuk bilang 'nggak', dan mungkin alasan itu bukan alasan yang
mau diumbar ke orang-orang. Mungkin juga, ada orang yang ngga mau bilang alasan kenapa mereka menolak karena mereka mau orang itu belajar sendiri kenapa permintaannya ditolak.
Gw jadi teringat video buzzfeed berikut:
Persis seperti pesan video buzzfeed di atas: WHY ISN'T NO ENOUGH?
Dalam lagu Meghan Trainor, kasus yang diangkat adalah ketika ada cowok yang ngejar cewek, dan cewek tersebut bilang nggak. Tapi sebenarnya, ini berlaku juga untuk semua orang dalam banyak kesempatan.
Misalnya, ketika diajak jalan-jalan, siapapun, baik cewek maupun cowok, berhak bilang nggak ikutan karena alasannya sendiri. Kadang kita memang lagi ngga mau keluar rumah. Kadang kita lagi ngga bisa keluar rumah karena ada sesuatu yang harus diurus di rumah. Kadang kita ngga bisa keluar rumah karena ngga dikasih izin. Kadang karena semua hal tersebut sekaligus. So what? Apakah cuma karena kita harus kasih alasan, kita harus berbohong dan bilang kita lagi sakit, karena ini alasan yang paling gampang diterima orang.
Kalau menurut gw, kita harus hormati keputusan seseorang untuk bilang 'nggak'. Tanya kenapa sekali boleh lah, tapi kalau orang itu ngga mau kasih alasannya, menurut gw ya sudah, jangan dipaksa dan jangan ditekan untuk kasih alasannya. Dari awal kan kita bertanya kepada orang itu, bukan menyuruh orang itu. Itu artinya dari awal kita memberi dia hak untuk menolak. Hargai privasi dan hak dia untuk bilang 'nggak'.
Seperti biasa, gw akan attach video lagu No, tapi kali ini, gw akan attach lagu cover versi Pentatonix. Entah kenapa, gw lebih enjoy dengerin cover versi Pentatonix. Mungkin karena Avi Kaplan dan Kevin Olusola? They did a very great job on the bass and percussion in this song. As usual. Haha. Tapi biar gimana juga, versi originalnya Meghan Trainor juga luar biasa. Go check that one out too!
"Did you know that the gravedigger's still getting stuck in the machine even though it's a whole other daydream It's another town, it's another world, where the kids are asleep, where the loans are paid, and the lawns are mowed Whad'ya think? All the gravediggers are gone? Just 'cause one song is done there's always another one Waiting right around the bend till this one ends then it begins squeaky clean and it starts all over again The weather report keeps on tossing and turning, predicting and warning, and warning, and warning of Possible leakage from news publications and, possible leakage from news TV stations That very same morning right next to her coffee she noticed some bleeding and heard hollow coughing and National Geographic was being too graphic when all she had wanted to know was the traffic 'The world's got a nosebleed', it said, 'and we're flooding but we keep on cutting the trees and the forest' And we keep on paying those freaks on the TV who claim they will save us but want to enslave us And sweating like demons they scream through our speakers but we leave the sound on 'cause silence is harder
And no one's the killer and no one's the martyr, the world that has made us can no longer contain us
And profits are silent then rotting away 'cause The consonants and vowels, the consequence of sounds"
Yang di atas itu adalah apa yang terjadi kalau Regina Spektor nyanyi rap. It's like a barrage of big words raining down on us, and I don't think a single word of it is just there for decoration.
Sama seperti judul lagu ini, yang gw pelajari dari lagu ini adalah bahwa setiap suara yang kita keluarkan itu bermakna. Setiap konsonan, setiap vokal, setiap bunyi, itu bermakna. Pertama-tama kita lihat dari pemilihan genre, lalu kita lihat dari pemilihan kata-kata di lagu ini.
Menurut gw, yang menarik dari lagu rap adalah dengan tidak banyak bermain melodi, permainan rhythm dan kata-kata menjadi fokus utama dari lagu tersebut, dan ketika kita tidak berfokus pada melodi, maka makna lagu menjadi lebih stand out, terutama pada lagu ini. "The consonants and vowels, the consequence of sounds". Demikian lirik reff lagu ini. Seperti pada lagu rap, setiap konsonan dan vokal membentu kata-kata yang memberikan impact, dan impact inilah yang menjadi permainan dalam lagu rap.
Banyaknya big words yang dipakai di lagu ini menurut gw menarik. Ada impression yang berbeda antara ketika kita menggunakan kata-kata yang rumit dengan ketika kita menggunakan kata-kata sederhana. Kata-kata yang sederhana memiliki makna yang lebih umum dan cenderung membuat kita terdengar lebih down to earth. Sementara itu, kata-kata rumit cenderung memiliki makna yang spesifik. Kata-kata rumit membuat kita terdengar lebih intelligent.
Sebagian besar lagu rap yang beredar saat ini menggunakan kata-kata yang sederhana dan menceritakan hal-hal yang ada di sekitar kita, tapi Regina Spektor memilih menggunakan kata-kata yang rumit, dan itu langsung membuat perbedaan yang besar pada impact yang dibawa oleh lagu ini.
Dari lagu ini gw belajar, kita harus belajar untuk mengendalikan makna apa yang kita sampaikan lewat kata-kata yang kita keluarkan. Setiap kata itu bermakna dan memiliki impact. Kita harus memilih, apakah kita mau membawa impact yang membangun, atau kita mau membawa impact yang merusak.
Apakah kita memilih untuk menyampaikan sukacita, atau kita mau menyampaikan gosip saja?
Menurut gw inilah poin utama dari lagu ini.
Tentu saja masih ada hal lain yang bisa kita pelajari dari lagu ini. Setiap baris dari lagu ini seakan-akan mau menyampaikan hal-hal yang berbeda-beda. Ada baris yang menurut gw menyampaikan bahwa masalah kita tidak akan pernah habis. Kita harus selalu siap menghadapi masalah yang sebentar lagi juga akan muncul. Sementara di bagian lain, seakan-akan berbentuk kritik akan ketergantungan kita pada media. Tapi sepertinya malah cocok dengan lagu ini, karena Regina seperti berusaha untuk menyampaikan sebanyak-banyaknya hal lewat kombinasi konsonan dan vokal dalam lagu ini. Hehehe...
Kali ini gw post video lagu ini yang ada liriknya. Enjoy! :D
"That's it, it's split, it won't recover Just frame the halves, and call them brothers Find your fathers and your mothers If you remember who they are"
Gw punya kebiasaan membuat playlist yang isinya bisa sampai 80-100 lagu, lalu setiap hari gw shuffle aja playlist itu, dan untung-untungan lagu apa yang hari itu kebagian gw denger. Kebiasaan ini baru gw lakukan lagi beberapa hari terakhir, sejak gw mulai pakai jam tangan, dan kebiasaan inilah yang mengantar gw pada post hari ini.
Beberapa hari lalu, gw shuffleplaylist gw lagi, dan lagu ini diputar lagi setelah sekian lama ngga gw dengerin. Dan efeknya instan, gw langsung senyum karena kangen, diikuti dengan senyum pahit karena memang makna lagunya pahit banget. Seenggaknya interpretasi gw akan lagu ini bener-bener pahit.
Setiap gw dengerin lagu ini, yang kebayang di kepala gw adalah perang dan efek dari perang itu, terutama Perang Dunia II. Di akhir Perang Dunia II, Jerman dibagi menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, lalu dibuat Tembok Berlin untuk memisahkan kedua negara itu. Gw ngga kebayang, gimana perasaan orang-orang yang mungkin terpisah dari keluarganya karena tembok itu. Dan lebih lagi, gimana perasaan orang-orang ketika tembok itu diruntuhkan.
Saat ini, dalam hidup kita juga sering membuat "perang" dan "tembok pemisah". Yang paling bahaya adalah ketika kita membuat "perang" dan "tembok pemisah" dari diri kita sendiri. Ini adalah perang yang paling berat yang kita mulai dan kita alami dalam hidup kita, dan efeknya pasti akan terlihat dalam hubungan kita dengan orang lain.
Bagaimana kita bisa berdamai dengan orang lain, kalau kita masih berperang dengan diri kita sendiri?
Bagaimana kita bisa bersatu dan menerima orang lain, kalau kita masih membangun tembok pemisah antara hati dan pikiran kita?
Bukankah kita punya hati dan pikiran, dengan tujuan agar keduanya bersinergi, bergantian mengambil keputusan untuk mencapai kondisi terbaik?
Haaaahhh... Waktu mulai nulis post ini, gw ngga duga gw akan menyentuh sedikit dari masalah yang gw sendiri alami dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perang dengan diri kita sendiri. Mungkin sudah waktunya kita mulai menyadari bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Video klip Call Them Brothers
NB: Sedikit latar belakang aja, baik Regina Spektor maupun suaminya, Jack Dishel (Only Son), sama-sama berasal dari Moscow, namun pindah ke Amerika sejak kecil karena diskriminasi akan kaum Yahudi di Soviet waktu itu. Rasanya bagian lirik yang menceritakan "We'll be out in the streets before anyone knows that we're gone" jadi lebih dalam ketika tahu bahwa mereka memang benar-benar mengalami hal itu.
"Just because everything's changing doesn't mean it's never been this way before All you can do is try to know who your friends are as you head off to the war Pick a star on the dark horizon and follow the light You'll come back when it's over, no need to say goodbye"
Aaaaahhh... Sudah lama ngga nulis di blog ini... Ada banyak banget lagu yang pengen gw bahas, tapi belum sempat gw tulis karena belum bisa curi-curi waktu. Ada Wonderful World dari Yuzu, ada As you please dari Lee Jin Ah, ada Blue Lips dari Regina Spektor... Tapi akhirnya, ketika gw ada waktu untuk nulis, gw milih untuk pilih lagu yang lebih ringan: the Call (No Need to Say Goodbye), dari Regina Spektor.
Sebenarnya yang bikin lagu ini nyantol banget di hati gw, faktor yang paling besar adalah nilai sentimental. Gw pernah bilang kalau Eet dan Fidelity adalah lagu-lagu pertama yang gw denger dari Regina Spektor. Tapi lagu inilah yang memperkenalkan gw kepada Regina Spektor. Buat yang belum tahu atau belum sadar, lagu the Call ini adalah soundtrack film Chronicles of Narnia: Prince Caspian, dimainkan waktu scene para Pevensie kembali dari Narnia ke dunia nyata.
Tapi walaupun yang berperan besar adalah nilai sentimental, bukan berarti lagu ini cuma ear candy buat gw. Gw suka lagu ini, karena lagu yang dibuat untuk film Prince Caspian ini memang benar-benar isinya cocok untuk film itu. "You'll come back when they call you" mengingatkan gw bahwa kembalinya para Pevensie ke Narnia kali ini adalah karena mereka dipanggil oleh Caspian, dan mereka akan kembali lagi ke Narnia ketika mereka dibutuhkan lagi.
Selain itu, dalam konteks terpisah dari filmnya, isi lagu ini sangat hopeful. Bisa dibayangkan kalau lagu ini menggambarkan kata-kata perpisahan antara dua orang yang masih berharap bisa bertemu kembali. "No need to say goodbye", tidak perlu mengucapkan salam perpisahan, karena mereka yakin mereka akan bertemu lagi. Gw suka banget perasaan yang yakin dan penuh harap yang bisa gw rasakan ketika gw dengerin lagu ini. Kayaknya tenang dan menguatkan.
Mungkin kali ini tulisan gw ngga terlalu dalam, atau ngga penuh dengan "makna kehidupan". Tapi sebenarnya menyenangkan juga sekali-kali membahas lagu yang ringan. Istilahnya, kalau setiap hari kita makan makanan yang bumbunya kuat, lama-lama kita eneg juga kan? Hehehe...
"In the night, I sit down
As if I'm dead
[...]
When, I wonder,
did I become this weak?" Lirik lengkap dari jpopasia.com
(Go ahead and click it! The meaning of this song doesn't disappoint.)
Mungkin seminggu-dua minggu yang lalu gw menemukan (kembali) Chihiro Onitsuka. Dan kemarin ini gw sempat mikir mau buat post tentang lagu Gekkou (Chihiro Onitsuka). Tapi beberapa hari yang lalu gw nemuin lagu Infection ini, dan akhirnya malah lagu ini yang lebih nempel di kepala gw daripada Gekkou.
Lagu Infection ini sejauh yang gw pahami, isinya mengungkapkan rasa frustasi seseorang akan kelemahan yang munculnya tiba-tiba. Kelemahan ini bisa diartikan berbagai macam: bisa jadi sebuah penyakit (kalau kita ambil makna lagu ini secara harfiah), bisa jadi kecelakaan, bisa.... macam-macam. Bahkan ada yang berpendapat juga, kalau lagu Infection ini bisa jadi tentang perasaan seseorang yang frustasi karena orang yang disukainya tidak merasakan hal yang sama, dan begitu kuatnya rasa frustasi itu hingga "menggerogoti" dirinya.
Yang menarik dari lagu ini (secara makna) ada di bagian bridge-nya.
"Growing more and more to fear
Every little fever that comes along I may have little chance
But, still, I must wake up"
Gw sengaja bold italic bagian lirik yang menarik.
"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi tetap, aku harus bangkit"
Lebih kurang itu terjemahan bagian yang gw highlight. Bagian-bagian lain menceritakan seberapa hancur hatinya, tapi bagian itu menunjukkan bahwa dia masih mau berusaha bangkit. Walaupun mungkin kemungkinan dia bisa kembali seperti semula sangat kecil, dia tetap harus berusaha bangkit.
Kembali kita kaitkan dengan makna lagu keseluruhan yang agak buram tadi, kita bisa ambil banyak makna:
Untuk yang sakit: Walaupun kemungkinan sembuh kecil, aku harus tetap semangat
Untuk yang kecelakaan: Walaupun kemungkinan aku kembali seperti dulu, aku harus tatap masa depan
Untuk yang patah hati: Walaupun hatiku hancur berkeping-keping, aku harus move on
Banyak makna yang bisa kita tarik, tergantung apa yang kita sedang alami sebagai seorang pendengar. Tapi intinya tetap: Berusahalah untuk tetap bersemangat dan bangkit.
Gw sejauh ini baru dengar beberapa lagu dari Chihiro Onitsuka. Ada Infection (yang kali ini gw bahas), Gekkou (yang tadinya mau gw bahas), Rasen (lagu Chihiro Onitsuka yang pertama gw dengar beberapa tahun lalu), dan Memai (yang baru kemarin gw dengar). So far, gw suka lagu-lagunya. Makna lagu-lagunya mungkin nggak se-puitis Regina Spektor, tapi ada sesuatu yang khas dari Chihiro Onitsuka yang bikin gw sangat tenang kalau lagi dengerin lagu-lagu tadi. Mungkin suatu hari gw akan bahas lagu-lagu Chihiro Onitsuka lagi. Mungkin Gekkou.
(Ya. Gw tahu gw udah keseringan bilang "Mungkin lain kali akan bahas ......", tapi karena ngga bisa post tiap hari, jadinya agak susah untuk keep up dengan perbendaharaan lagu gw yang lagi expand lagi, jadi... yah... beginilah... Wkwkwk...)
"I am in a room I built myself Four straight walls, one floor, one ceiling, And day after day I wake up feeling, And day after day I wake up feeling, feeling, Potentially lovely, Perpetually human, Suspended in open, Open, open, open"
Salah satu hal yang gw suka dari Regina Spektor adalah keberagaman topik yang bisa diangkat dalam lagu-lagunya. Kadang Regina bicara tentang waktu, tentang cinta, tentang kemanusiaan, tentang agama, dan ada kalanya dia bicara tentang nemuin dompet di pinggir jalan. (?) (-__-)
(Trust me, lagu tentang nemu dompet itu lebih bagus dan lebih bermakna dari kedengarannya.)
Dari pertama gw dengar lagu Open, hal pertama yang ada di kepala gw adalah tentang kamp konsentrasi Nazi. Dan memang banyak juga orang yang bilang kalau lagu ini menurut mereka adalah tentang kamp konsentrasi Nazi itu. Dengan pemahaman ini, maka bridge lagu ini menjadi sangat indah.
"Di malam hari, salju mulai turun Dan semua orang menatap lampu jalan Lewat jendela kamar mereka Terlalu indah untuk dilihat"
Bayangkan orang yang sedang dikurung dalam penjara. Mungkin jendela mereka kecil sulit diraih. Tapi suatu hari mereka semua melihat pemandangan musim dingin lewat jendela sel mereka yang kecil itu, dan menurut mereka itu sangat indah. Sesuatu yang biasanya saja menurut orang kebanyakan, yaitu lampu jalan di musim dingin, jadi sangat indah, terlalu indah, untuk mereka, karena mereka jarang melihat itu.
Tentunya di sisi lain, ada juga yang bilang kalau ini cerita tentang ketika tentara Nazi meninggalkan semua tahanan dalam kamp waktu musim dingin tanpa peduli kalau mereka akan mati kedinginan atau kelaparan. (-__-)
Anyway, gw juga suka banget lagu ini karena seakan-akan lagu ini didesain dengan sebegitu rupa sehingga seruan "Open, open, OPEN" benar-benar terasa... open. Terasa lega, luas. Sementara itu, untuk bagian bridge lagu, yang menceritakan tentang keindahan pemandangan malam di musim dingin, membuat gw otomatis membayangkan pemandangan salju yang berkilauan turun pelan-pelan di malam hari. Bener-bener membuat gw hanyut dalam makna lagu ini.
Menurut gw, ini luar biasa. Manusia itu makhluk visual. Artinya, kita lebih mudah menangkap sesuatu yang kita lihat dibanding yang kita dengar. Jadi ketika ada orang yang bisa benar-benar menggambarkan sesuatu ke kita hanya lewat audio aja, menurut gw itu luar biasa banget. Ngga banyak lagu yang bisa begini. Ngga banyak lagu yang notasi, komposisi, dan aransemennya bisa dengan sempurna menggambarkan isi lagu itu.
Masih banyak sebenarnya yang bisa digali dari lagu ini selain bridge dan komposisinya. Tentang lirik "Potentially lovely, perpetually human" misalnya. Ini lirik yang ngga umum kita jumpai dalam lagu-lagu pop saat ini kan? Tapi, mungkin sementara ini gw bahas tentang ini dulu aja. Mungkin suatu hari nanti, gw akan buat lagi tulisan berjudul "Open by Regina Spektor (part 2)". Hehehe... :D
Akhir kata, ini gw attach lagu Open dari Regina Spektor yang direkam untuk the Live Room. Enjoy!
NB: Versi studio recording lagu ini menggunakan orkestra yang lebih full, dan membuat bagian Open menjadi terkesan lebih mengena daripada versi the Live Room. Go check it out! :D
Udah lama gw ngga ngepost.
Ada banyak banget yang gw harus lakukan akhir-akhir ini, dan kadang kalau ada waktu kosong, akhir-akhir ini gw sering pakai untuk nonton anime lama sambil cari lagu baru untuk didengar.
Ceritanya gw nemuin lagu ini sebenernya ngga sengaja. Gw suka nonton anime Hunter x Hunter, dan kebetulan ada soundtrack Hunter x Hunter yang gw suka. (Ngga. Soundtrack itu bukan lagu ini.) Jadi gw browse di youtube tentang penyanyi lagu itu. Dan asal play aja playlist lagu-lagu band Yuzu ini. Ternyata ada lagu ini di antara daftar lagu itu.
Mengenai lagu ini, tahu ngga apa yang lucu?Gw suka banget sama lagu ini, tapi di antara lagu-lagu Yuzu yang gw dengerin, lagu ini salah satu yang paling jarang gw dengerin. Nah loh? Kenapa?
Karena lagu ini bisa bikin gw nangis.
Lagu ini sekilas kita dengar biasa aja. Secara irama dan komposisi, ngga kayak lagu-lagu Regina Spektor yang nyeleneh deh. Tapi yang bikin gw nangis pertama adalah video klipnya (nanti gw attach di bawah) yang seperti mini-movie. Video klipnya menceritakan tentang seorang perempuan yang miskin, mungkin yatim piatu juga, dengan boneka beruangnya.
Video klip ini sangat connect banget sama gw, karena gw juga punya satu boneka beruang kesayangan yang selalu jadi teman gw setiap gw lagi sedih atau dalam masalah. Gw orangnya tertutup, jadi seringkali ketika gw ada masalah, atau lagi nangis, yang menemani gw yah boneka beruang itu. Karena itulah lagu ini bisa bikin gw nangis. Setiap gw denger, gw jadi ingat video klipnya... Hehehe...
Arti lagu ini juga bagus banget.
Di tengah trend lagu (di luar lagu rohani) yang isinya kalau ngga bertema rebellious, tentang patah hati, atau tentang "You're so perfect, I love you so much", gw nemuin sebuah lagu yang malah isinya "Aku ingin melindungimu."
Kalau dipikir-pikir, kebanyakan lagu sekarang isinya self-centric, lebih bercerita tentang "gw mau have fun", "gw sakit hati", "lo nyakitin gw". Kadang ada lagu yang "You're so perfect, I love you so much", tapi entah kenapa ada banyak yang gw denger liriknya terdengar kayak gombal. (Yes, I'm talking about you: One Direction and Bruno Mars) Opini pribadi sih, tapi opini pribadi ini cukup untuk membuat gw jauh-jauh dari lagu "That's What Makes You Beautiful" dan "Just the Way You Are". (Eh sebut merek deh)
Tapi lagu inientah kenapa beda.Mungkin banyak yang akan bilang, kalau lirik lagu ini sama gombalnya dengan lagu-lagu yang disebut di atas. Tapi entah kenapa, ketika gw baca lirik ini, yang ada di pikiran gw pertama-tama bukan kata "gombal", tapi "devotion".
Aku ingin melindungimu. Aku selalu ada di sampingmu. Ketika kamu sedang sedih, sedang dalam masalah yang berat, jangan lupa kalau aku selalu siap. Aku ingin mewujudkan impianmu, agar kamu bisa tersenyum dan bersinar. Dengan segenap kekuatanku, aku ingin selalu melindungimu.
Lagu ini ngga bicara tentang betapa sempurnanya orang itu sehingga si penyanyi jatuh cinta, seakan-akan itu ngga penting. Itu makna mendalam yang gw tangkap. Itu makna yang menurut gw ngga membuat lagu ini jadi gombal.
Selain lagu ini, banyak juga ternyata lagu-lagu Yuzu yang bagus. Baik secara komposisi yang kreatif, berani mix genre dengan (misalnya) folk atau (mungkin) salsa (gw ngga terlalu paham genre-genre lagu), atau maknanya yang bagus. Yuzu sangat worth listening. Untuk kalian yang belum pernah denger lagu Yuzu, gw sangat recommend lagu-lagu mereka, selain lagu "Mamotte Agetai" ini. Gw terutama suka lagu "Reason" dan "Nagareboshi Kirari" (soundtrack Hunter x Hunter), dan juga "Ame Nochi Haleluya". Mungkin kapan-kapan kalau ada waktu gw cerita lagi tentang lagu Yuzu, kalau lagu Regina Spektor lagi ngga nyantol di kepala. Hehehe...
Video klip Mamotte Agetai dari official account Yuzu
"In the wind, smile
Even if it's hard, smile
Even if just once, smile"
Lagi-lagi song of yesterday sebenernya... Hehehe...
Sebenarnya tulisan di bawah gw post di facebook kemarin malam, tapi lagi malas copy-paste ke blognya, karena mobile device di rumah suka error ketika mau coba ngetik di blog, harus pakai laptop, dan laptop gw itu... Ehm.. Udah ada error di hardware-nya kayaknya, jadi susah untuk connect ke Internet.
Hari ini pun agak malas juga untuk edit isi post ini, jadi yah, anggap aja tulisan di bawah di-post jam 12 malam kemarin yah. Hehehe...
(Bener-bener blogger yang buruk, udah lama ngga nge-post, giliran nge-post malah malas... Ckckck...)
Lagu ini adalah soundtrack anime lintah air mata yang pernah gw tonton
duluuuuu banget, judulnya "Akachan to Boku", diterjemahkan jadi "Baby
and I".
Jujur gw lupa sama anime
ini sampai tadi siang. Begitu gw ingat, gw langsung coba cari lagu ini
pas senggang dikit di kantor untuk gw taruh di playlist. Alhasil, gw
hampir nangis di kantor.
Gimana ngga berasa mau nangis? Lagunya
sendu banget, bikin gw langsung ingat sama Takuya (yes gw ingat namanya hari ini, kemarin lupa) dalam cerita ini yang
begitu sayang sama adiknya, Minoru, dan ngerawat adiknya itu sejak
kecil karena Mamanya udah meninggal dan Papanya harus kerja. Dan in
return, Minoru juga sayang banget sama si Kokonya ini.
Dan bomnya, gw coba cari arti lirik lagu ini tadi
barusan, dan artinya bangus dan dalam banget. Gw bisa bayangkan seorang
kakak yang sayang sama adiknya mencoba nenangin adiknya yang lagi nangis
pakai lagu ini.
Bisa dibilang, ini adalah Song of the Day gw.
Lagu ini punya nilai sentimental, nilai makna, dan cocok sama selera
musik gw yang lebih prefer lagu-lagu slow dan sendu. Sangat recommended
untuk dengerin lagu ini. Daripada dengerin lagu galau tentang putus cinta tanpa alasan yang jelas, lebih baik lagu ini deh. Hehehe...
Kali ini gw ngga bisa posting liriknya. Hehehe... Jadi langsung taruh videonya aja dulu di atas.
Gw seneng banget dengerin lagu-lagu Julie Fowlis. Ada energi yang berbeda dari lagu ini yang membuat gw asik nari-nari kayak faerie aneh di kamar gw sendiri... Wkwkwkwk...
Mungkin ngga ada nilai moral tertentu yang akan gw bahas dari lagu ini. Makna lagunya aja masih dalam proses mencerna. Tapi seenggaknya, gw sangat mengapresiasi nilai budayanya.
Setiap kita harus bisa mencoba untuk membawa nilai budaya kita. Kita ngga harus jadi total sukanya dangdut yang NB adalah produk asli Indonesia, atau nari tradisional masing-masing daerah. Menurut gw pribadi, yang penting kita berusaha untuk membawa salah satu atau lebih dari nilai budaya kita ke dalam identitas kita masing-masing. Ini kembali ke kemampuan dan selera kita masing-masing.
Gw sendiri, contohnya, mencoba untuk mempelajari dan menekuni bermain angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat. Adik gw, dulu belajar kolintang, dan sekarang arumba. Ada orang lain yang memilih sasando. Orang lain lagi belajar pencak silat. Pringkilan budaya inilah yang kemudian suatu hari nanti bisa kita bawa untuk mengenalkan orang lain pada budaya Indonesia.
"The piano is not firewood yet
But the cold does get cold, so it soon might be that
.......
Love what you have, and you'll have more love
You're not dying
Everyone knows you're going to love
Though there's still no cure for crying"
Piano ini masih belum dibakar. Tapi karena dingin, mungkin sebentar lagi piano ini akan jadi kayu bakar.
Begitu kata Regina Spektor. Emang siapa yang mau bakar piano?
Sebenarnya ini adalah cara Regina untuk bilang, nasi belum jadi bubur.
Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Tapi waktu berlalu dengan cepat, jadi jangan buang waktu.
Keseluruhan lagu ini berbicara tentang hal yang sama: waktu.
Jangan buang waktu untuk bermalas-malasan.
Jangan buang waktumu, waktu bisa segera habis.
Jangan buang waktumu, nanti kamu akan menyesal ketika kamu sadar bahwa kamu kehabisan waktu.
Jangan buang waktumu untuk menyayangi sesuatu yang tidak menyayangimu.
Cintai apa yang kamu punya, dan kamu akan semakin dicintai.
Ini bagian lain yang gw suka renungkan dari lagu ini.
Kita sering mengeluh karena harus melakukan sesuatu yang tidak kita suka. Padahal, semakin banyak kita mengeluh, semakin kita benci dengan hal itu, semakin kita menderita. Sebaliknya, jika kita berusaha menyukai hal itu, berusaha melewati semuanya dengan suka hati, hidup kita akan semakin berbahagia.
Ada pengalaman pribadi yang gw alami sendiri tentang ini.
Gw pernah nangis-nangis minta pindah jurusan kuliah. Waktu itu gw sepet banget sama desain interior, dan pengen pindah ke jurusan bahasa aja. Tapi akhirnya karena ngga tega sama Mami n Papa yang jadi stress gara-gara itu, gw ngalah. Gw tetap di desain interior, berjuang untuk bisa melibatkan hati di bidang ini. Dan ngga diduga, justru desain gw semakin membaik (menurut standar gw) sejak gw mencoba sepenuh hati di bidang desain ini.
I tried to love what I have, and I surely feel more love now.
Coba deh kalian renungkan, mungkin hal serupa pernah terjadi untuk kalian. Atau mungkin kalian memakai dari sudut pandang lain (tentang cowok, misalnya *ehem*). Tapi rasanya prinsip live what you have ini akan tetap berlaku.
On another side, gw suka lagu ini secara artistik. Apa lagi interlude solo pianonya. Regina oh Regina. Dan kita belum ngomongin Braille yang solo pianonya lebih menghanyutkan lagi...