Akhirnya gw ada waktu yang cukup senggang pagi ini untuk seenggaknya nulis sesuatu.
Akhir-akhir ini gw bener-bener ketagihan dengerin lagu-lagunya Home Free. Home Free ini adalah grup acapella yang mengkhususkan diri nyanyi lagu-lagu genre country. Grup ini adalah pemenang kompetisi Sing Off tahun 2014, setahun setelah Pentatonix memenangkan kompetisi yang sama.
Yang gw paling suka dari grup ini adalah their sense of humor. Dari awal mereka muncul di Sing Off sampai sekarang ini tahun 2014, mereka ngga takut sama sekali nunjukkin sisi konyol mereka. Mulai dari skit di atas panggung sampai video klip, sampai lirik lagu original mereka, ada aja yang bisa bikin gw ketawa terbahak-bahak.
Gw juga suka dengan personil-personil mereka yang masing-masing punya karakteristik yang unik.
Tim Foust, penyanyi bass mereka, mungkin bisa nembak nada-nada yang bener-bener rendah banget live, tapi juga bisa loncat nyanyiin bagian tenor di lagu yang sama. Agak sengau, tapi untuk genre country menurut gw masih oke lah tone sengau dan tarikan-tarikan dia di range atas.
Austin Brown, penyanyi high tenor, selama Sing Off terus-terusan dipuji suaranya oleh Shawn Stockman, salah satu jurinya. Terutama kalau dia mulai nge-riff, suaranya khas.
Rob Lundquist, penyanyi tenor, adalah penyanyi favorit gw di grup ini. Suaranya ya ampuuuuuuun... Smooth like butter. Bener-bener nyaman untuk didengerin, dan bikin meleleh.
Adam Chance, penyanyi "baritone", adalah member terbaru grup ini. Gw bilang "baritone", karena menurut Tim Foust, dia bisa nyanyi not-not bawah, not-not atas, and everything in-between. Sekarang ini dia sering jadi lead singer-nya. Dibanding penyanyi-penyanyi lainnya di grup ini, suara dia memang sedikit lebih rich, jadi memang cocok banget dijadiin lead singer.
Adam Rupp, voice percussionist alias beatboxer, menurut gw on par, atau mungkin lebih bagus dari Kevin Olusola, beatboxer di Pentatonix (tapi mungkin juga karena gw belum pernah liat Kevin Olusola solo beatbox di mana dia keluarin semua amunisinya, kalau Adam Rupp gw pernah liat itu).
Chris Rupp, adalah ex-member dan co-founder grup ini bareng dengan Adam Rupp dan beberapa temannya dulu (yang juga sudah keluar dari Home Free). Walaupun selama dia gabung di Home Free, keliatannya dia jarang di-highlight, tapi setahu gw dia salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam aransemen-aransemennya Home Free. Dan dia sekarang adalah member grup 7th Ave sambil bersolo karir.
Gw udah ketagihan dengerin Home Free beberapa minggu terakhir, dan melihat trend selera musik gw, kayaknya bakal berkelanjutan sampai.... entah kapan. They're definitely worth listening to. Terutama lagu Colder Weather, When You Walk In, Yours, All on Me, dan of course... Hunter Hayes Medley yang di bawah ini... :)
Sudah lama gw ngga nge-post di blog ini. Rasanya kangen, tapi agak susah cari waktu untuk nge-post di sela-sela kesibukan.
Ada banyak banget sebenarnya lagu-lagu yang mau gw ulas selama ini: Brave (Sara Bareilles), Laughing With (Regina Spektor), the A Team (Ed Sheeran), Moshimo Kono Sekai de Kimi to Boku ga Deae Nakatta Nara (Sunflower's Garden), dan masih banyak lagi... Saking bingungnya mana yang mau ditulis dulu, akhirnya gw memutuskan untuk nge-post soal hal lain dulu, yaitu cerita-cerita dikit mengenai beragamnya lagu yang gw dengerin setiap harinya.
Belum lama ini gw ganti handphone. Handphone Sony Xperia Go gw yang udah usang dan lemot diganti dengan handphone Sony Xperia Z5 yang jauh lebih baru dan cepat (dan jauh lebih besar juga). Oleh karena itu, akhirnya gw bisa lebih bebas memasukkan lagu-lagu ke dalam handphone untuk didengarkan sehari-hari. Dari yang tadinya at most cuma ada 150 lagu, sekarang jumlah lagu di handphone gw bisa sampai 300.
Gara-gara meningkatnya kapasitas, lagu yang bisa gw dengar sekarang semakin beragam. Dulu gw harus seleksi lagu-lagu yang mau masuk ke handphone. Akibatnya, ada genre tertentu yang ngga bisa masuk ke dalam handphone akibat kapasitas yang penuh. Sekarang, lagu-lagu di handphone gw jadi sangat beragam genrenya. Gw mau bahas beberapa "genre" yang gw sering dengerin akhir-akhir ini. J-Pop
Gw sudah pernah cerita kalau akhir-akhir ini gw banyak dengerin lagu-lagu Yuzu dan Chihiro Onitsuka. Semakin lama, perbendaharaan lagu J-Pop gw semakin bertambah nih, tapi bertambah ke arah yang spesifik, yaitu: soundtrack anime lama.
Contohnya aja lagu yang sempat mau gw bahas kemarin ini tapi belum sempat dibahas, yang judulnya panjang banget dan udah gw sebut di atas. Lagu dari Sunflower's Garden itu adalah soundtrack dari anime Hunter x Hunter (1999). [Tadinya gw salah sebut, bilangnya lagu itu soundtrack Yu Yu Hakusho. Maaf yah, yang lagunya Yu Yu Hakusho itu judulnya Smile Bomb, yang sering gw dengar juga akhir-akhir ini.] Lalu ada juga Requiem dari Satsuki, soundtrack anime Corrector Yui. Dan my personal favourite, Taiyou wa Yoru mo Kagayaku dari Wino, soundtrack Hunter x Hunter versi 1999 pas Yorknew Arc.
Taiyou wa Yoru mo Kagayaku, by Wino
Gw senang dengerin soundtrack anime lama karena dua alasan: satu, nostalgia, dan dua, karena liriknya yang kayaknya punya dua setting aja, antara nyeleneh atau sangat warm.
Dan tentunya faktor interest gw akan bahasa asing, termasuk bahasa Jepang, membuat penilaian gw agak bias yah dalam kasus ini. Hehehe...
Rock
Yap, gw akhir-akhir ini senang dengerin musik rock juga. Contohnya seperti lagu-lagunya Avril Lavigne dan Simple Plan.
Yang menarik dari lagu-lagu rock dari beberapa tahun yang lalu (gw ngga terlalu ngikutin lagu rock yang baru) adalah liriknya yang malah lebih puitis daripada lagu-lagu pop yang katanya lebih mellow.
Contohnya, Leave Out All the Rest dari Linkin Park.
"When my time comes, forget the wrong that I've done. Help me leave behind some reasons to be missed. Don't resent me and when you're feeling empty keep me in your memories, leave out all the rest, leave out all the rest."
Leave Out All the Rest, by Linkin Park
Bandingkan dengan, misalnya, the worst of the worst, lagunya Justin Bieber yang paling iconic: Baby. Beda banget rasanya.
Bukan berarti lagu pop saat ini ngga ada yang bagus. Ada Adele, Meghan Trainor, Ed Sheeran, Sara Bareilles, dan gw yakin dari musician yang ada dalam "blacklist" gw juga pasti ada satu-dua yang punya satu-dua lagu bagus. Tapi to be honest, kondisi lagu-lagu pop yang paling terkenal saat ini membuat gw agak malas berburu lagu pop bagus.
Scottish Gaelic
Gw sudah pernah sedikit cerita mengenai salah satu lagu Scottish Gaelic yang gw dengerin. Kali ini gw mau cerita mengenai "genre"-nya. Sebenarnya ini bukan genre sih. Hanya saja, gw ngga tahu genre apa ini termasuknya. Hehehe...
Lagu-lagu Scottish Gaelic yang gw dengerin hampir semua datangnya dari Julie Fowlis. Kenapa? Karena gw suka dengan suaranya yang bersih, jernih, dan ringan.
Lagu-lagu Scottish Gaelic seringkali membuat gw merasa bebas dan lepas. Dengan mendengarkan aja, gw bisa membayangkan gimana rasanya berdiri di tengah padang rumput luas, dengan sinar matahari yang hangat dan angin yang sejuk. Lalu di kejauhan ada reruntuhan bekas kastil yang membuat gw pengen banget lari ke sana untuk melihat reruntuhan itu sambil menikmati bebasnya lari-larian di padang itu.
Di sisi lain, ada juga lagu-lagu Scottish Gaelic yang membuat gw merasa kayak sedang merayakan sesuatu di sekitar api unggun. Iramanya ringan, cepat, dan sederhana. Membuat gw pengen bergoyang-goyang mengikuti iramanya, atau bahkan menari jig. Atau membuat gw pengen lompat-lompat aja (gw suka banget lompat-lompat).
Hùg Air A' Bhonaid Mhòir, by Julie Fowlis
Ini daya tarik utama yang membuat gw suka dengan lagu-lagu Scottish Gaelic, yaitu suasana yang unik yang nggak gw dapat dari lagu-lagu lain.
Regina Spektor
Nah loh, tadi bukan genre, yang ini malah nama... Ini maunya apaaaaa.......... Hahahahaha...
Menurut gw, Regina Spektor itu ngga bisa dikelompokkan dalam sebuah genre. She has her own style yang ngga gw temukan dalam lagu-lagu dari penyanyi lain.
Yang menarik dari Regina Spektor adalah lirik lagu yang beragam dan dalam. Lirik lagunya ada yang humanis, ada yang religious, ada yang sarkastis, dan on the other end of the spectrum, ada yang sekilas terdengar mundane, tapi sebenarnya agak deep.
Regina Spektor juga ngga membatasi dirinya dalam satu genre. Kadang lagunya terdengar sangat folk, kadang terdengar pop, kadang rock, kadang jazz, kadang.... Just simply eccentric.
You've Got Time, by Regina Spektor
(lagu ini sempat dinominasikan Grammy, walaupun nggak menang)
Gw sebenarnya pengen bahas Regina Spektor dalam post "Girl Power" yang gw pernah rencanain (dan belum ditulis), bersama dengan Julie Fowlis, Lee Jin Ah, dan beberapa penyanyi dan musisi wanita yang sangat berpengaruh dalam selera musik gw. Mungkin gw akan bahas style Regina lebih jauh dalam post itu nanti.
Sebenarnya bukan cuma empat genre ini yang gw suka dengerin sehari-hari. Masih ada lagu-lagu musical theatre, seperti lagu-lagu dari Phantom of the Opera, Les Miserables, dan yang paling eksentrik, dari Sweeney Todd (yang kayaknya gw pernah ulas filmnya di blog ini). Masih ada juga lagu-lagu lawas, beberapa lagu pop yang menurut gw lumayan bagus, lalu ada lagu-lagu K-Pop, dan beberapa soundtrack film dan TV series. Kapan-kapan mungkin akan gw bahas, but this post is already long enough. Semoga gw bisa segera cerita-cerita hal-hal lainnya dalam post yang lain. :)
Sekali-kali, gw mau nulis sesuatu yang lain daripada Song of the Day. Kali ini, gw mau bahas beberapa penyanyi atau grup yang akhir-akhir ini jadi bagian wajib dari daily playlist gw. Gw ngga akan bahas semua, cukup dua atau tiga aja setiap kali rubrik ini gw bahas. Kali ini gw akan bahas tiga: Pentatonix, Ed Sheeran, dan Yuzu. Karena gw mau save the best for the last, Pentatonix akan gw bahas terakhir.
Ed Sheeran
Gw belum pernah bahas tentang lagu-lagu Ed Sheeran yah di blog ini? Hehehe... Tapi sebenernya gw cukup enjoy dengerin lagu-lagu Ed Sheeran.
Lagu Ed Sheeran yang gw suka di antaranya Even My Dad Does Sometime, the A Team, One, Photograph... Cukup banyak sih, tapi seperti biasa, gw mostly dengerin lagu-lagu yang lembutnya. (Walaupun gw lumayan suka juga Drunk)
Ada teman gw yang bilang kalau lagu-lagu Ed Sheeran agak eksperimental. Dan kalau gw dengar-dengar, memang lagu Ed Sheeran lumayan variatif sih. Misalnya, lagu You Need Me, I Don't Need You, kalau kita dengar jauh bedanya dengan I See Fire yang dijadikan soundtrack film the Hobbit, kan?
Cukup membantu juga bahwa gw lumayan suka dengan style lagunya, dan gw paling suka kalau dia nyanyi diiringi gitar (misalnya pas acoustic session).
One by Ed Sheeran
Yuzu
Gw udah pernah bahas lagu Yuzu sebelumnya, yaitu Mamotte Agetai. Di situ gw pernah bahas bahwa gw suka Yuzu karena aransemennya cukup unik dan variatif. Ada lagu Ame Nochi Haleluya yang cukup kuat pengaruh folk-nya, tapi di sisi lain lagu Hyōri Ittai lebih berasa pengaruh rock-nya. Lain lagi lagu Reason yang aransemennya seperti bermetamorfosis dari bait ke bait. (Ngomong apaan sih gw -__-')
Yuzu adalah grup duo bergitar dari Jepang. Kedua personilnya, Yūjin Kitagawa dan Kōji Iwasawa, gw denger sudah saling kenal sejak masa sekolah, dan duo ini sudah berkarya sejak tahun 1997. Cukup lama yah?
Awalnya gw ngga bisa ngebedain suara kedua personil Yuzu ini. Tapi lama-lama, gw bisa bedakan keduanya. Suara Yūjin Kitagawa lebih jernih, sementara suara Kōji Iwasawa lebih "bertekstur". Gw ngga ngerti gimana cara menjelaskan timbre suara mereka, tapi ketika suara mereka cocok banget ketika dipadu.
Selain itu, live performance mereka juga bagus. Suara mereka stabil dan kuat. Contohnya ketika mereka menyanyikan cover bahasa Jepang untuk lagu Imagine dari the Beatles, atau Going Home dalam salah satu konser mereka.
Reason by Yuzu (Hunter x Hunter (2011) ending)
Pentatonix
Seperti gw bilang, save the best for the last. Gw fans berat Pentatonix. Pentatonix adalah grup vokal a cappella yang dibentuk untuk mengikuti kompetisi the Sing Off tahun 2011. Saat itu, grup ini masih muda dan baru dibanding kompetitor mereka, tapi mereka berhasil memenangkan kompetisi itu. Dan sekarang, grup mereka sudah merilis beberapa album, dan album yang terakhir yang mereka rilis adalah album yang berisi lagu-lagu original mereka.
Gw sangat takjub akan Pentatonix ini. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan sering membuat gw lupa kalau mereka menyanyikan lagu itu a cappella (atau kadang hanya dengan iringan cello atau biola). Benar-benar terasa seperti full band. Ini berkat bakat yang dimiliki setiap anggota mereka. Tiap-tiap anggota memiliki peran yang unik dan penting dalam setiap aransemen. Mitch Grassi, Scott Hoying, dan Kirstin Maldonado menyanyikan harmoni lagu. Avi Kaplan (bass) dan Kevin Olusola (perkusi dan celloboxing) membentuk ritme lagu. Mereka berlima bergantian mengambil peran lead vocal.
Di antara lagu-lagu cover mereka, gw sangat suka cover Say Something, Radioactive (kolaborasi dengan Lindsey Stirling), dan Papaoutai. Sementara itu, di antara lagu-lagu original mereka, gw sangat suka Standing By (Avi Kaplan sebagai lead vocal dalam lagu ini), That's Christmas to Me (lagu sekuler Natal), dan Misbehavin' (salah satu lagu dari album original mereka, yaitu Pentatonix).
Radioactive by Pentatonix ft. Lindsey Stirling (atau Lindsey Stirling ft. Pentatonix?
Biar gimana juga, Lindsey Stirling dan Pentatonix luar biasa di lagu ini)