Monday, August 20, 2018

My Music Routine: Home Free Vocal Band

Akhirnya gw ada waktu yang cukup senggang pagi ini untuk seenggaknya nulis sesuatu.

Akhir-akhir ini gw bener-bener ketagihan dengerin lagu-lagunya Home Free. Home Free ini adalah grup acapella yang mengkhususkan diri nyanyi lagu-lagu genre country. Grup ini adalah pemenang kompetisi Sing Off tahun 2014, setahun setelah Pentatonix memenangkan kompetisi yang sama.

Yang gw paling suka dari grup ini adalah their sense of humor. Dari awal mereka muncul di Sing Off sampai sekarang ini tahun 2014, mereka ngga takut sama sekali nunjukkin sisi konyol mereka. Mulai dari skit di atas panggung sampai video klip, sampai lirik lagu original mereka, ada aja yang bisa bikin gw ketawa terbahak-bahak.

Gw juga suka dengan personil-personil mereka yang masing-masing punya karakteristik yang unik.


Tim Foust, penyanyi bass mereka, mungkin bisa nembak nada-nada yang bener-bener rendah banget live, tapi juga bisa loncat nyanyiin bagian tenor di lagu yang sama. Agak sengau, tapi untuk genre country menurut gw masih oke lah tone sengau dan tarikan-tarikan dia di range atas.

Austin Brown, penyanyi high tenor, selama Sing Off terus-terusan dipuji suaranya oleh Shawn Stockman, salah satu jurinya. Terutama kalau dia mulai nge-riff, suaranya khas.

Rob Lundquist, penyanyi tenor, adalah penyanyi favorit gw di grup ini. Suaranya ya ampuuuuuuun... Smooth like butter. Bener-bener nyaman untuk didengerin, dan bikin meleleh.

Adam Chance, penyanyi "baritone", adalah member terbaru grup ini. Gw bilang "baritone", karena menurut Tim Foust, dia bisa nyanyi not-not bawah, not-not atas, and everything in-between. Sekarang ini dia sering jadi lead singer-nya. Dibanding penyanyi-penyanyi lainnya di grup ini, suara dia memang sedikit lebih rich, jadi memang cocok banget dijadiin lead singer.

Adam Rupp, voice percussionist alias beatboxer, menurut gw on par, atau mungkin lebih bagus dari Kevin Olusola, beatboxer di Pentatonix (tapi mungkin juga karena gw belum pernah liat Kevin Olusola solo beatbox di mana dia keluarin semua amunisinya, kalau Adam Rupp gw pernah liat itu).

Chris Rupp, adalah ex-member dan co-founder grup ini bareng dengan Adam Rupp dan beberapa temannya dulu (yang juga sudah keluar dari Home Free). Walaupun selama dia gabung di Home Free, keliatannya dia jarang di-highlight, tapi setahu gw dia salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam aransemen-aransemennya Home Free. Dan dia sekarang adalah member grup 7th Ave sambil bersolo karir.

Gw udah ketagihan dengerin Home Free beberapa minggu terakhir, dan melihat trend selera musik gw, kayaknya bakal berkelanjutan sampai.... entah kapan. They're definitely worth listening to. Terutama lagu Colder Weather, When You Walk In, Yours, All on Me, dan of course... Hunter Hayes Medley yang di bawah ini... :)

Hunter Hayes Medley dari Home Free

Tuesday, July 10, 2018

Song of the Day: Obsolete, by Regina Spektor

"Useless part
This useless heart
Useless art
What am I?
Why am I incomplete?Obsolete"

ob·so·lete
1  a : no longer in use or no longer useful
    b : of a kind or style no longer current : old-fashioned
2 of a plant or animal part : indistinct or imperfect as compared with a corresponding part in related organisms : vestigial
(Sumber: https://www.merriam-webster.com/dictionary/obsolete, dikutip tanggal 11 Juli 2018)

Pagi ini di perjalanan menuju kantor, gw dengerin lagu ini dalam keadaan ngantuk, kecapean karena kurang tidur akibat sakit beberapa hari terakhir, dan dengan keadaan otak yang kosong. Dan mendadak, gw akhirnya paham isi dari lagu ini.

Pernah ngga kita merasa kosong? Kita merasa ngga berguna?
Gw rasa, semua orang pernah ngerasain itu. Dan bagi gw, ketika gw lagi merasa ngga berguna, lagi ngerasa kosong dan hampa, ada satu perasaan lain yang juga dominan, yaitu rasa kesendirian.
 
Loneliness.

Dan dalam lagu ini, gw sangat takjub dengan cara Regina Spektor mengolah rasa kesendirian dan kesepian menjadi sesuatu yang audible. Padahal ngga seperti lagu lain yang menggambarkan kesendirian dengan aransemen lagu yang minimal, aransemen lagu ini terdengar full, dengan berbagai macam instrumen yang terlibat dan rhythm lagu yang cukup padat di background-nya.
 
It's like we're alone in a very loud and noisy place.
We're drowning, and lonely, and useless, and confused, and HURT... HURT... HURT...
but everything around us just keep going and keep moving. And we're obsolete.
 

Obsolete by Regina Spektor

Wednesday, March 14, 2018

Song of the Day: Show Me, by Audrey Assad

"Bind up these broken bones
Mercy bend and bring me back to life
But not before You show me how to die
Lord, not before You show me how to die"
Show Me, by Audrey Assad


Untuk pertama kalinya tahun ini, gw terlibat secara langsung dengan acara tablo di paroki gereja. Kalau ada yang belum tahu, tablo adalah visualisasi atau dramatisasi kisah sengsara Tuhan Yesus. Gw ngga tahu kalau di paroki lain, tapi kalau di paroki gw biasanya tablo ini dilakukan sambil ibadah jalan salib. Jadi setelah adegan yang mendramatisasi satu perhentian selesai, biasanya kami akan berhenti untuk berdoa sebentar, lalu melanjutkan dramatisasi sambil berarak dan berdoa ke perhentian berikutnya.

Bagi gw, pengalaman ini memberikan kesan yang sangat dalam bagi gw. Terutama di penutup perhentian ke-12, biasanya dinyanyikan,
"Biji mati menghasilkan
buah yang berkelimpahan
Wafat-Mu menghidupkan"
dan rasanya sediiiiih banget setiap sampai di sini.


Lagu Show Me dari Audrey Assad memberikan kesan yang sama bagi gw seperti lagu yang dinyanyikan di tablo dan jalan salib.

Gw percaya, bahwa untuk masuk dalam kehidupan yang baru, terlebih dahulu kita harus "mati". Setiap kali latihan tablo, gw merasa seperti Tuhan sedang menunjukkan langsung di hadapan mata gw sendiri, beginilah cara untuk "mati". Dengan berkorban, dengan menyangkal diri, dengan memikul "salib", dan dengan menyerahkan semua diri kita kepada Tuhan. Setelah kita "mati" itulah, rahmat Tuhan akan membawa kita ke kehidupan yang baru.


Tablo jalan salib di paroki gw saat ini tentunya masih dalam tahap latihan dan persiapan. Gw berharap dan berdoa kalau tablo tahun ini bisa memberikan rahmat dan berkat bagi orang-orang yang mengikuti tablo nanti, baik yang ikut hadir sebagai umat, maupun bagi semua pemain dan panitia tablo. Amin.


 Show Me
by Audrey Assad

Tuesday, January 9, 2018

Songs of the Season: "New Year" by Regina Spektor" dan "New Year's Day" by Pentatonix

"She shuffles around, turning the lights on
Goes to the kitchen, gets the champagne
Opens the window and wrapped in a blanket
Begins to count and wait
Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one
Happy new year, happy new year
"
~New Year, by Regina Spektor

"We could be kings of the world
On top of the nation
It's a celebration of the moments to come
The city's on fire
We're holding up lighters
Raising them higher and we've only begun
"
~New Year's Day, by Pentatonix


Lagu New Year adalah salah satu lagu favorit gw dari album terbaru Regina Spektor, Remember Us to Life. Lagu ini sangat tenang, menggambarkan seseorang yang merayakan tahun baru sendirian di rumahnya. Kalau gw pribadi, gw menginterpretasikan lagu ini sebagai perasaan seorang yang sedang sakit kronis pada perayaan tahun baru. "She's just glad she got to be around to see another spring comes to this town." Bisa merayakan tahun baru sekali lagi saja, dia sudah bahagia. Rasanya sangat bittersweet.

Yang gw suka dari lagu ini adalah bagaimana menggambarkan suasana cerita, bukan hanya dari liriknya, tapi juga dari aransemennya. Setiap kali gw mendengar countdown ten to one di lagu ini, diikuti dengan "Happy new year, happy new year," yang tergambar di kepala gw adalah seseorang yang sambil menikmati coklat panas, menyaksikan kembang api dari kejauhan.


Kebalikannya, lagu New Year's Day dari Pentatonix sangat hidup, dan menggambarkan riuhnya perayaan di kota pada saat perayaan Tahun Baru. Aransemennya yang full, upbeat, dan dilihat dari liriknya, sangat digambarkan kegembiraan kota tersebut menyambut tahun yang baru. "Tomorrow morning when we wake, this town will be a different place. The past will wash away like coffee stains."


Kedengarannya dua lagu ini sangat bertolak belakang, tapi entah kenapa, gw selalu membayangkan kedua lagu ini sebagai sebuah kesatuan cerita. Menjelang tahun baru, New York City pasti mulai mengadakan berbagai perayaan. Banyak orang berkumpul untuk merayakan tahun baru bersama-sama. Tapi di pinggir kota, ada sebuah rumah yang hanya berisi seorang saja, merayakan tahun baru sendirian sambil berjuang melawan sakitnya.

It's like two sides of the same coin, dan gw rasa ini sangat menarik. Kenapa? Because it's exactly like the real life. Hal yang sama juga terjadi di dunia nyata. Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda dalam melihat sebuah cerita. Masing-masing cerita itu indah, ekspresif, impactful, dan penting bagi masing-masing orang. Akan tetapi, bagi gw cerita itu akan lebih indah, jika kita melihat dari perspektif orang lain juga. Setelah itulah, semua perspektif itu terjalin menjadi sebuah cerita yang utuh dan kompleks, ada keindahan, ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada kemarahan, ada ketenangan, semuanya terjalin menjadi satu.

Di tahun yang baru ini, semoga kita semua bisa belajar untuk sedikit melepas ego kita, dan mulai melihat sebuah masalah dari berbagai perspektif. Karena dari situlah, kita bisa mendapat solusi yang lebih baik atas berbagai masalah yang kita hadapi.

Happy belated New Year!

New Year dari Regina Spektor
New Year's Day dari Pentatonix
She shuffles around

Turning the lights on

Goes to the kitchen

Gets the champagne

Opens the window

And wrapped in a blanket

Begins to count and wait

Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one



Happy New Year, happy New Year

Weiterlesen: https://www.songtexte-lyrics.de/new-year-lyrics-regina-spektor/
She shuffles around

Turning the lights on

Goes to the kitchen

Gets the champagne

Opens the window

And wrapped in a blanket

Begins to count and wait

Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one



Happy New Year, happy New Year

Weiterlesen: https://www.songtexte-lyrics.de/new-year-lyrics-regina-spektor/

Monday, October 30, 2017

Watch List: Thor Ragnarok (2017) [NON SPOILER]

Gw paham kalau film ini baru banget rilisnya, jadi gw mengusahakan untuk tidak spoiler ke kalian mengenai jalan ceritanya.

Overall, menurut gw film ini entertaining. Marvel never disappoint me in that aspect. Secara visual, film ini (seperti film-film Marvel lainnya) sangat memanjakan mata. Untuk tone-nya, baik secara visual, setting, dan humor, film ini jauh lebih mirip dengan film Guardians of the Galaxy (2014) dan sekuelnya (2017) dibandingkan dengan film the Avengers (2011) dan kedua film Thor sebelumnya (2011 dan 2013).

Tapi menurut gw, masalahnya adalah film ini terlalu banyak bercanda. I think this is quite a problem, soalnya gw adalah salah satu orang yang selama ini ngga terlalu masalah dengan hujan jokes di film-film Marvel selama ini. Jadi waktu gw bilang film ini terlalu banyak bercanda, maksud gw adalah film ini bener-bener kebanyakan bercanda. Ini sudah bukan hujan jokes lagi, tapi sudah jadi banjir bandang.

Menurut gw ini sayang banget, karena sebenernya banyak banget hal yang menurut gw bagus dalam film ini. Mulai dari hubungan kakak-adik Thor dan Loki yang digali cukup dalam di film ini, hubungan pertemanan antara Banner - Thor - Hulk (Thor's not a being a great friend to either of them in this movie), juga ada tentang moral dan pengorbanan. Gw bahkan bisa belajar sesuatu dari salah satu karakter sampingan one-off di film ini. Tapi masalahnya, semua itu tertutup dengan jokes yang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Salah satu kekecewaan gw di bagian story telling adalah adanya setback dari karakter Thor yang sudah berkembang selama ini. Gw ngga baca komiknya, jadi gw ngga tahu apa ini karena mereka mau ikutin komiknya atau gimana, tapi karakter Thor yang di film pertama mengalami reform dari egotistical dan sombong jadi noble dan humble, lalu dikembangkan lagi di film-film Marvel setelahnya ke arah yang cukup konsisten, entah kenapa di film ini karakternya kayak mulai berbalik arah lagi. Ini cuma opini gw, mungkin akan ada yang ngga setuju, but I'm getting that vibe dari keputusan-keputusan dan perilaku Thor dalam film ini. Mungkin juga ini karena becandaan yang tidak pada tempatnya.

Akhirnya, buat gw, walaupun film ini judulnya Thor, gw ngga ngerasa karakter Thor menjadi tokoh yang paling berkesan buat gw. Sayang banget kan? Padahal Thor adalah salah satu karakter favorit gw di Marvel... :(
Tapi film ini tetap sangat menghibur sih. Gw ngga berhenti ketawa waktu nonton filmnya.

Mungkin sampai sini aja ceritanya. Soalnya filmnya baru rilis, kalau dilanjutin nanti malah jadi spoiler. Selain itu gw juga masih harus cicil review Merlin yang baru keluar part 1 dan belum sempat dilanjutin karena kerjaan kantor lagi penuh akhir-akhir ini. Akhir kata, di bawah ini gw attach salah satu klip yang dirilis early oleh Marvel sebelum filmnya rilis, dan jadi salah satu adegan favorit gw dalam film ini.


Thor: Ragnarok clip - Get Help

Sunday, July 16, 2017

Watch List: Merlin (2008-2012) part 1

Wah, pakai part 1 segala. Kenapa nih?
Jadi, gw mencoba menulis post ini sudah lamaaaaaa banget, tapi bingung banget karena cerita panjang, dan banyak yang bisa diangkat. Selain itu, kalau mau bahas lengkap bakal banyak spoiler di mana-mana...
Setelah tulis-hapus-tulis-hapus berkali-kali akhirnya gw putuskan, baiknya gw pecah jadi beberapa part aja... Part 1 ini adalah review keseluruhan yang NON SPOILER, the other parts lebih mengangkat topik-topik dan karakter-karakter secara spesifik, dan bagian itulah yang akan hujan spoiler. Jadi langsung lanjut yah ke bagian intinya... :D


PART 1: OVERVIEW (NON-SPOILER)

Merlin, atau judul lengkapnya the Adventures of Merlin, adalah serial TV BBC yang tayang tahun 2008 sampai 2012. Saat ini ceritanya sudah tamat, dengan total 65 episode, 5 series (kalau di Amerika disebut seasons) masing-masing 13 episode. Cerita ini adalah salah satu inkarnasi cerita King Arthur yang terbaru. Bedanya, cerita ini tidak menjadikan King Arthur sebagai tokoh paling utama seperti sebagian besar cerita mengenai King Arthur, tetapi malah menyorot kehidupan Merlin.

Cerita yang diangkat serial ini tergolong ringan, dengan banyak komedi dan jokes yang ditebar di mana-mana, kalimat-kalimat yang kadang terdengar cheesy (terutama dari para tokoh antagonisnya), dan CGI yang sebenarnya sub-standard. Kedengarannya seperti serial TV yang asal-asalan yah?

Secara visual memang kelihatannya serial ini bukan serial yang big-budget, dan gw rasa pasti banyak juga orang yang langsung malas nonton ketika muncul karakter naga yang CGI-nya, jujur aja, jelek menurut gw. Tapi ada sesuatu hal di serial ini yang membuat gw bener-bener jatuh hati.

Apa itu?
Penulisan dan pengembangan karakternya.

Karakter yang diangkat dalam serial ini tidak digambarkan hitam-putih. Sepanjang gw nonton serial ini, gw ngerasa paham kenapa para tokoh antagonis mengambil peran itu. At some level, gw bahkan bisa bersimpati dengan mereka. Di sisi lain, gw juga bisa melihat ketidaksempurnaan dari tokoh-tokoh protagonis. Ketidaksempurnaan ini juga cukup kompleks. Those are REAL flaws, not just clumsy or simply 'they're too nice'.

Semua kecacatan tersebut membuat karakter-karakter ini terasa real. Karena seperti kita manusia di kehidupan nyata, baik dan jahat adalah masalah perspektif. Orang yang kita anggap jahat, mungkin melakukan hal-hal yang dianggap jahat itu karena ia merasa terdesak atau terpaksa. Atau mungkin juga orang tersebut menjadi seperti itu karena pola asuh dan ajaran yang salah dari orang tuanya. Di sisi lain, diri kita sendiri, yang menjadi tokoh protagonis dalam cerita kehidupan kita masing-masing, juga tidak sempurna kan? Kita juga sering membuat keputusan yang salah, atau pertimbangan yang salah.

In the end, orang yang kita anggap jahat, bisa jadi adalah tokoh penolong dalam sudut pandang orang lain. Sementara itu, kita bisa jadi adalah tokoh antagonis dalam cerita kehidupan orang lain. Ini salah satu yang gw suka dari penulisan karakter-karakter dalam cerita ini.

Kedua, mengenai pengembangan karakter. Salah satu isu utama yang diangkat dalam serial ini adalah apakah Pangeran Arthur dapat tumbuh menjadi raja yang baik dan bijak. Sedikit spoiler, di awal cerita, kita akan bertemu dengan Pangeran Arthur yang ternyata adalah seorang tukang bully. Di sisi lain, kita juga diberitakan mengenai adanya ramalan yang mengatakan bahwa Arthur akan menjadi raja besar yang bijak dan membawa Kerajaan Camelot ke puncak kejayaannya. Pertanyaannya, apakah Arthur bisa tumbuh menjadi seperti itu?

Kalau gw lanjutin bahasan ini, bisa jadi malah banyak spoiler akan mulai bertebaran (walaupun sebenarnya siapapun yang tahu tentang legenda Raja Arthur juga pasti tahu jawabannya). Pada intinya, sepanjang perjalanan cerita kita bisa melihat perkembangan dari karakter Arthur dan berbagai kejadian yang membentuk pribadi Arthur di kemudian hari.

Bukan cuma karakter Arthur, karakter-karakter lainnya juga berkembang dengan sangat baik, menurut gw. Kalau kita asal lihat sifat karakter di awal cerita, lalu skip langsung lihat sifat karakter di akhir cerita, sebagian besar karakter utama mengalami perubahan dan perkembangan yang cukup drastis di permukaannya. Akan tetapi, jika kita melihat lebih ke dalam, inti dari sifat setiap karakter tetap konsisten.

Bingung? Yah, nonton deh serialnya. Atau kalau malas nonton serialnya, tunggu yah post bagian-bagian berikutnya yang membahas mengenai karakter, dan hubungan antar karakter. Untuk sementara, sampai di sini dulu post bagian pertama.



Trailer BBC's Merlin.
Kalau liat tangal uploadnya 8 tahun lalu, jadi kangen nostalgia...


PS: Maaf yah lama ngga nge-post... Ini cari waktunya susah.. Hahaha... Ini post satu aja ada kali beberapa minggu mengendap di draft...

Monday, May 29, 2017

Song of the Day: Quarter Past Four, by Avriel & the Sequoias

"And I have troubles everyday
But it turns out fine
It turns out fine
And I fight to keep them all away
But it turns out fine
It turns out fine"

Lagu ini adalah salah satu lagu dari EP berjudul Sage and Stone yang akan rilis Juni nanti.

Avriel & the Sequoias? Itu band apa yah? Baru dengar...

Sejauh yang gw pahami, Avriel & the Sequoias sebenarnya bukan band. Itu bisa dibilang adalah "nama panggung" yang dipakai oleh Avi Kaplan, the soon-to-be-ex Pentatonix. (Buat yang belum tahu, Avi Kaplan berencana untuk mundur dari Pentatonix setelah semua jadwal tur selesai.) Sejauh ini, dari dua lagu yang di-upload di akun Youtube Avi Kaplan, gw menangkap style musik Avi yang tenang, ringan, dan menghanyutkan, tapi di saat yang bersamaan sangat heartfelt. Kalau kata Kevin Olusola, you can hear Avi's heart in these songs.

Yang gw sangat suka dari lagu Quarter Past Four, selain melodinya dan iringan gitarnya (yang setahu gw dimainkan oleh Avi Kaplan sendiri), adalah liriknya. Lirik lagu ini tidak perlu analisa yang dalam untuk dicerna, tapi tetap sangat bermakna.

I have troubles everyday - Setiap hari aku menghadapi masalah
I fight to keep them all away - Aku berjuang agar masalah itu tidak menggangguku
But it turns out fine - Tapi ternyata semuanya berakhir baik
It turns out fine - Semuanya berakhir baik

Semuanya akan baik-baik saja.

Gw rasa itu yang Avi Kaplan mau sampaikan dalam lagu ini. Walaupun masalah yang kita hadapi terus menghadang hingga menjadi sebuah pergumulan, tetaplah yakin bahwa semuanya akan berakhir baik.

Banyak yang mengaitkan dua single yang dirilis Avi Kaplan akhir-akhir ini dengan keputusan Avi mundur dari Pentatonix. Lagu Fields and Pier katanya adalah seperti lagu perpisahan, sementara Quarter Past Four adalah pesan Avi untuk para penggemarnya dan penggemar Pentatonix bahwa everything is gonna be alright.
Tapi menurut gw, lebih dari itu, lagu-lagu ini menceritakan pengalaman dan pergumulan Avi Kaplan sendiri. Oleh karena itulah, lagu-lagu ini terasa sangat heartfelt. This EP really is Avi's heart.

Mungkin segitu aja yang bisa gw ceritakan mengenai lagu ini. Seperti biasanya, gw attach video klip dari lagu ini di bawah. Enjoy!

PS. This video is visually appealing. Konsep videonya dan pemandangannya bagus banget. Coba deh tonton! :) 

Quarter Past Four, by Avi Kaplan

Tuesday, May 16, 2017

This year is beating the crap out of me already

Ini bulan apa sih?
Masih bulan Mei kan?
Kayaknya berita terus-terusan menggempur gw...

Kondisi politik bikin gw down...
Pak Ahok dipenjara...
(Iya gw dukung Pak Ahok dan masih dukung Pak Ahok sampai sekarang. Bagi yang beda pendapat, let's just agree to disagree.)
Isu makar...
Isu rusuh...
Sekarang isu ransomware wannacry bikin was-was juga di kantor...

Dan hari ini, the cherry on top, gw baru dapat kabar kalau Avi Kaplan akan mundur dari Pentatonix... Kalau kata Kevin Olusola sih cuma hiatus, jadi suatu hari mungkin akan balik lagi... Tapi cukup sedih juga buat gw waktu kepikir, for just a little while, ngga akan ada Avi dalam musiknya Pentatonix...

Yah gw juga cuma bisa kasih support, baik untuk Avi maupun anggota Pentatonix yang lain. Semoga proyek dan kehidupan mereka masing-masing terus lancar, sukses, dan bahagia.

Ini curhat aja sih... Pengen sebenernya gw nulis lebih panjang lagi, tapi sementara ini susah, karena internet kantor lagi dimatikan sementara (sebagai respon pencegahan ransomware wannacry). Jadi ini ditulis juga pakai hape... Harapan gw, semoga dari sekarang sampai akhir tahun, dan tahun-tahun depan, hantamannya bisa mereda...

Thursday, May 4, 2017

Song of the Day: In A Crowd of Thousands by Christy Altomare and Derek Klena

"The parade travelled on
With the sun in my eyes
You were gone
But I knew even then
In a crowd of thousands
I'd find you
Again"

Sebenernya, menurut jadwal gw, post berikutnya adalah tentang lagu the Light atau New Year dari album terbarunya Regina Spektor, tergantung dari yang mana yang selesai duluan direnungkan. Tapi tiba-tiba lagu ini muncul di hadapan gw dan terngiang-ngiang sepanjang hari.

Lagu ini adalah salah satu lagu dalam stage musical adaptation dari cerita Anastasia. Buat yang belum tahu, atau yang lahirnya tahun 2000-an, Anastasia adalah film animasi musikal yang disutradarai Don Bluth dan Gary Goldman, rilis tahun 1997. Film ini menceritakan pencarian putri Tsar Nicholas II yang menurut rumor berhasil lolos dari eksekusi keluarganya ketika terjadi Revolusi Bolshevik di Rusia, sekitar tahun 1916. Cerita ini kemudian diadaptasi menjadi lebih realistis (tokoh antagonis Rasputin si penyihir dalam film diganti menjadi Gleb Vaganov, jenderal rezim Bolshevik yang bertugas untuk membunuh Anastasia) dan diangkat menjadi stage musical.

Seiring proses perubahan cerita ini, lagu-lagu yang mengiringi cerita pun ada yang dihilangkan dan ditambahkan. Tapi bagi penggemar film Anastasia, tidak perlu takut, karena yang menggarap lirik dan musik untuk stage musical ini adalah Lynn Ahrens dan Stephen Flaherty, orang-orang yang sama yang telah menggarap lirik dan musik film Anastasia. Rest assured, suasana dan spirit dari lagu-lagu baru di pentas ini pasti sama bagusnya dengan lagu-lagu lama yang kita nikmati di film Anastasia. Gw sendiri pengen banget nontonnya, tapi mereka pentasnya di Broadway. Berat di ongkos, sodara sodarahhhh....

Lagu In A Crowd of Thousands ini adalah salah satu lagu baru dalam stage musical ini, dan dengan cepat lagu ini jadi salah satu lagu favorit di antara semua lagu yang sempat gw curi dengar dari musikal ini. Lagu ini dinyanyikan oleh karakter Anya (Anastasia yang hilang ingatan) dan Dmitry, saat ini diperankan oleh Christy Altomare dan Derek Klena, respectively. Keduanya bernyanyi dengan sangat baik dan penuh penghayatan, sampai semua emosi dan perubahannya bisa terbaca dengan baik ketika mendengar, dan menonton mereka bernyanyi.

Mendengar mereka nyanyi lagu ini membuat gw ngiler berat untuk mencari rekaman soundtrack untuk pentas ini, yang kabarnya akan rilis antara Juni atau Juli ini, gw lupa. Apalagi ketika mendengar Ramin Karimloo juga ikut dalam pentas ini menjadi Gleb Vaganov. Jujur gw juga termasuk newbie soal ngikutin drama-drama musikal seperti ini, dan mereka bilang masih banyak aktor aktris musikal legendaris yang ikut dalam pentas ini. Tapi kalau Ramin Karimloo, gw pernah dengar. Dia adalah salah satu pemeran the Phantom untuk pentas Phantom of the Opera di beberapa tahun terakhir. I quite like his performance and his voice as the Phantom, jadi gw cukup berharap banyak akan rekaman soundtrack ini.

Cukup sekian dari saya. Sekarang waktunya saya kerja lagi, dan semoga uangnya bisa dipakai untuk beli rekaman soundtrack-nya nanti, kalau misalkan rilis di Indonesia juga. Hehehe...

Rekaman Christy Altomare dan Derek Klena menyanyikan lagu My Petersburg, Once Upon a December, dan In A Crowd of Thousands.

Monday, April 24, 2017

Song of the Day: The One Who Stayed and the One Who Left, by Regina Spektor

"I'm just another drop in a bucket
I'm just another song on the jukebox
I'm just another face in the crowd
Another fish in the sea
Something to being one of the many
Something to being one in the masses
Something to being surrounded by others
And not alone by yourself"
The One Who Stayed ---

"Something to being one of the many
Who get to sing the songs on the jukebox
Who get to stay awake all night
And dream half of the day
Something to waking up in a town
Something to singing songs to a new crowd
Something to being surrounded by others
And not alone by yourself"
--- and the One Who Left, by Regina Spektor

Sesuai dengan judulnya yang dua bagian, rasanya ngga cukup kalau gw cuma kutip satu bagian lagunya. Kali ini gw kutip dua bagian, satu bagian untuk "The One Who Stayed" dan satu bagian untuk "The One Who Left".

Lagu ini adalah bagian dari album terbaru Regina Spektor yang rilis September 2016, yaitu Remember Us to Life. Dalam album tersebut banyak lagu bagus, dan mungkin nanti satu per satu judulnya akan muncul di sini, kalau ada waktu. Selain lagu ini gw suka juga lagu Black and White yang sekarang sudah ada music video-nya, lagu Sellers of Flowers yang maknanya dalam banget, lagu Grand Hotel yang isinya nyentrik, The Trapper and the Furrier yang maknanya kritik sosial, Tornadoland yang gw suka banget aransemen interlude-nya, New Year yang ceritanya mengharukan, the Light yang ceritanya menurut gw agak sedih, dan masih ada beberapa lagi yang bagus.

Wow, that's almost the whole album! Actually, seluruh lagu dalam albumnya unik dan mirip dengan gaya lagu Regina yang lama (waktu album awal-awal), dengan production yang lebih bagus dan apik. Bener-bener worth checking out menurut gw.

Ada dua hal yang sangat gw suka dari lagu ini. Yang pertama, tentu aja dari keindahan lagunya. Lagu ini terdengar sederhana, ngga banyak alat musik yang terdengar terlibat dalam lagu ini. Paling hanya piano, strings, dan sedikit bunyi gitar akustik kalau kuping gw masih bagus. Kesederhanaan aransemen lagu ini tidak hanya cocok untuk isi lagunya yang bermakna dalam.

Hal kedua yang gw suka dari lagu ini, tentu saja isinya. Menurut gw, lagu ini sangat menonjolkan keberagaman kepribadian manusia. Ada dua orang yang berasal dari tempat yang sama, bermain bersama, akan tetapi mereka memiliki passion dan jalan hidup yang berbeda. Ada yang memiliki passion di bidang musik, ingin berkeliling dunia, bernyanyi di depan sebanyak mungkin orang, dan ada juga yang lebih memilih menjalani hidup yang sederhana dan tenang, tidak menonjol, tidak menarik perhatian. Akan tetapi, walaupun berbeda kepribadian, passion, dan jalan hidup, kedua orang ini dapat tetap berteman baik meskipun harus terpisah lama karena mengejar mimpi dan kebahagian masing-masing.

Ini adalah pelajaran yang sangat baik bagi kita. Kepribadian dan passion orang memang berbeda-beda, unik satu sama lain. Namun jangan sampai perbedaan ini menjadi jurang pemisah di antara kita. Bagaimana agar kita tidak terpisah karena perbedaan? Berdasarkan pengalaman gw sendiri, yaitu pertama dengan mengakui adanya perbedaan itu, lalu dengan saling menghargai dan memaklumi. Sebagai contohnya aja ketika introvert berteman dengan ekstrovert, maka satu sama lain perlu paham dan memaklumi kebutuhan satu sama lain. Introvert akan perlu waktu recharge dengan menyendiri, sementara ekstrovert me-recharge dengan bersosialisasi, hangout, atau berpesta. Kalau yang dari gw baca-baca, itu ada hubungannya dengan cara kerja otak, ada yang bilang perbedaan alur stimulus dalam otak, ada yang bilang lain lagi, tapi karena gw bukan ahlinya, mungkin ada baiknya gw ngga bahas terlalu panjang di sini. Tapi intinya, kalau satu sama lain paham dan memaklumi kebutuhan masing-masing, tentunya tidak akan ada pertengkaran yang bunyinya begini:
"Kok lo ngga pernah mau ikut jalan-jalan sih?"
"Lo ngga paham yah gw butuh istirahat?"
"Lo egois! Ngga pernah mau pahami gw!"

In the end, gw tahu akhir-akhir ini banyak banget perpecahan di antara kita yang disebabkan oleh perbedaan. Di lingkup kecil, lingkup pertemanan, mungkin perbedaan kepribadian seperti contoh di atas. Gw rasa ini jenis perbedaan yang lebih mudah untuk dipahami. Yang jadi masalah adalah di lingkup yang lebih luas, perbedaan pandangan politik, agama, suku, dan ras.

Menurut gw, berhentilah mengangkat perbedaan itu menjadi sumber perpecahan. Jangan lupa guys, slogan kita di Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa kalau orang yang berbeda dengan kita itu juga manusia, dan harus diperlakukan dengan pantas, sebagai manusia. Jangan sampai keluar makian kebun binatang hanya karena perbedaan. Jangan sampai kita memperlakukan orang lain seperti hewan, hanya karena perbedaan. Jangan sampai kita menganggap kita lebih hebat dan mulia dari orang lain, karena perbedaan itu. Jangan sampai kita kehilangan kemanusiaan dan keberadaban kita, hanya karena perbedaan. Gw bersyukur masih banyak orang yang saling menghargai, tanpa ada kotak-kotak perbedaan, tapi di sisi lain gw juga ngga bisa mengingkari kalau masih banyak orang yang sibuk membangun dinding pemisah karena perbedaan. Jadi sedih gw setiap kali kepikiran perpecahan ini.

Udahan sedih-sedihnya, dan ini post udah ngalor-ngidul juga, dari perbedaan kepribadian sampai keadaan yang lagi kacau sekarang. Langsung aja deh, di bawah ini gw attach video lagunya, seperti biasa. Enjoy!

The One Who Stayed and the One Who Left, by Regina Spektor

Thursday, April 6, 2017

Song of the Day: Musicbox by Regina Spektor

"Life inside the music box ain't easy
The mallets hit, the gears are always turning
And everyone inside the mechanism is yearning to get out
And sing another melody completely
So different from the one they're always singing
I close my eyes and think that I have found me
But then I feel mortality surround me
I wanna sing another melody, so different from the one I always sing"


Lama ngga ngeblog... Rasanya kangen, tapi apa daya kerjaan di kantor lagi bejibun dan job nyanyi juga kemarin ini cukup banyak. Akibatnya susah nyolong waktu, dan ada waktu pun biasa dipakai untuk urus daftar lagu untuk job nyanyi. (Ini aja nulis post nya kemarin sepotong, hari ini sepotong... Ngga kerasa udah seminggu kayaknya, tapi belum selesai juga... Ahahaha...)

Kali ini gw mau bahas lagu Musicbox dari Regina Spektor.

Ada beberapa hal yang menarik dari lagu ini. Pertama, isi liriknya secara sekilas. Sebenernya kalau kita baca lirik satu lagu, lagu ini cukup morbid. Bagian tengah lagunya berupa cerita tentang orang yang sangat bosan, sampai-sampai dia "menyicipi" sabun cuci piring. Ini bukan pertama kali dan bukan terakhir kalinya Regina Spektor menulis lagu dengan struktur sebuah cerita. Contohnya, dari album pertamanya, 11:11 sudah ada lagu Braille yang bicara tentang aborsi dalam bentuk cerita.

Kedua, strukturnya. Struktur lagu ini sebenernya seperti sandwich, biskuit, ataupun burger. Yang gw tulis liriknya di atas itu adalah bagian pembuka, paling atas. Lalu bagian tengah adalah isi cerita seperti yang gw bilang sebelumnya. Yang menarik, bagian terakhirnya, (kayak bagian roti paling bawah di burger), adalah kebalikan dari bagian pembuka di atas.

"I feel mortality surround me
I close my eyes and think that I have found me
But life inside a music box ain't easy
The mallets hit, the gears are always turning
And everyone inside the mechanism is yearning to get out
And sing another melody completely, is yearning to get out
Is yearning to get out, is yearning to get out"

Bisa dilihat kan, strukturnya seperti mirrored. This structure truly amuse me to no end. Setiap kali denger lagu ini, rasanya bisa senyum-senyum sendiri ketika mengikuti struktur yang mirrored ini.

Ketiga, gw sangat suka perumpamaan yang dibuat Regina dalam lagu ini. Lagu ini mengibaratkan kehidupan kita seperti dalam sebuah musicbox. Kalian tahu kan cara kerja musicbox? Dalam kotak musik, ada banyak pin metal yang dipasang di sebuah roll. Ketika roll itu diputar, maka pin-pin tersebut akan memukul lempengan-lempengan metal sehingga mengeluarkan nada dengan frekuensi tertentu. Di sisi lain dalam musicbox, seringkali ada figurine kecil, biasanya berupa balerina atau sepasang orang yang sedang berdansa, yang akan keluar ketika musicbox mulai bermain.

Well, that's what life is like when you're a performer of some sort.

 Di permukaan, yang orang lihat, hanya balerinanya yang menari dengan indah diiringi musik yang indah. Tapi di dalamnya, ternyata banyak persiapan yang dilakukan dan menyakitkan. Banyaknya problem dan persiapan yang bertubi-tubi, sementara waktu terus berjalan.

Mengutip kata-kata Merlin dalam BBC's Merlin (salah satu serial TV favorit gw, by the way):
"I'm like a swan. It seems like I'm not doing anything, but there's a lot of work going on underneath."
(Aku seperti angsa. Kelihatannya tidak melakukan apa-apa, padahal sebenarnya banyak yang dilakukan [di bawah air].)

Sedikit di luar konteks sebenarnya, tapi seperti itulah seorang performer. Di atas panggung harus terlihat effortless walaupun sebenarnya mati-matian latihannya. Bagian ini sangat ngena di gw yang akhir-akhir ini sering perform nyanyi untuk wedding. Hehehe...

Tumben gw ngga bicara makna lagu, karena sebenarnya ngga banyak yang gw bisa simpulkan dalam makna lagu keseluruhan. Jadi gw ambil aja bagian perumpamaan ini yang bener-bener paling menarik buat gw.

Hmmm... Gw sendiri sampai ngga tahu mau ngomong apa lagi, karena sebenarnya post ini sudah ditulis dari lama sedikit-sedikit, tapi baru bisa finishing hari ini... Hehehe... Jadi langsung aja berikut ini lagunya yah... Enjoy!

Musicbox by Regina Spektor

Tuesday, October 18, 2016

Watch List: The Conjuring 2

Kayaknya semua orang sudah tahu yah mengenai fanchise film horor yang satu ini. Seenggaknya pernah dengar lah kalau film ini pernah rilis. Tapi baiknya tetap di-attach aja trailer-nya supaya lebih jelas lagi.

Trailer the Conjuring 2

Karena filmnya udah turun dari bioskop sejak... yah lumayan lama juga, jadi gw ngga terlalu merasa bersalah kalau ada sedikit spoiler di post ini. Yah, ngga terlalu spoiling juga sih, karena karakter yang mau gw bahas ini sebenernya juga udah keliatan di trailer di atas. Jadi, kalau ada yang ngerasa ke-spoiler gara-gara post ini, gw cuma bisa bilang, "I'm sorry. I'm so sorry." (I wonder how many people get that reference. Haha.)

Karakter yang mau gw bahas, tidak lain dan tidak bukan, adalah main villain dalam film ini, yaitu Valak.

Ada banyak gambar Valak di mana-mana saat ini karena kepopuleran the Conjuring, jadi rasanya ngga perlu yah membuat post ini tambah mengerikan dengan memasang fotonya Valak. Ahahaha...

Ketika pertama menonton film ini (dulu ngga terlalu perhatiin trailer-nya), gw sempat mikir, sebagai seorang Katolik, "Should I be offended?" Untuk catatan, gw ngga offended sih, karena gw punya pemikiran, kita positive thinking aja, ketika mereka memutuskan untuk pakai desain kostum ini, tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan Gereja Katolik, ataupun biarawan-biarawati pada umumnya. They just thought it's cool. Bukan berarti ini bener juga, tapi menurut gw itu artinya mereka ngga paham aja, dan ini bukan sesuatu yang pantas untuk diributkan dan dibesar-besarkan.

Kembali ke topik, gw sempat mikir waktu menikmati film ini, "Should I be offended?" Karena mereka mengambil sebuah simbol yang bisa dibilang exclusively Katolik, yaitu pakaian biarawati, lalu digunakan untuk karakter iblis.

Pikiran itu berlalu (atau lebih tepatnya tenggelam) dan mendadak teringat lagi baru-baru ini. Should I be offended? Tapi kali ini, ada lanjutan yang muncul di kepala gw. "Kalau serigala bisa berbulu domba, iblis juga bisa pakai pakaian orang suci untuk mengelabui manusia."

Gw rasa ini penting untuk kita sadari. Ada banyak orang dalam Gereja yang berpakaian suci, tapi berkelakuan tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Contohnya, kasus pelecehan seksual oleh pastor. Bukan cuma dalam Gereja Katolik, gw rasa juga banyak orang-orang di semua agama yang mengaku sebagai pemimpin agama, tapi ternyata kehidupannya jauh dari Tuhan. Kita sebagai awam beragama, harus dapat mencermati ajaran-ajaran dan perilaku para pemimpin agama kita. Apakah sesuai dengan ajaran agama yang kita percayai? Apakah pantas untuk menjadi contoh perilaku kita?

Gw ngga bermaksud mengajak kita semua untuk menjadi sok tahu akan ajaran agama masing-masing. Terutama sebagai seorang Katolik, ini bukan ajakan untuk kita semua mulai menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab sendiri-sendiri. Biar bagaimana juga, kita sebagai awam kan tidak belajar teologi secara khusus. Bahkan orang yang belajar teologi menurut ajaran Gereja Katolik juga paham bahwa otoritas mereka tidak sampai menginterpretasikan ayat atau bahkan membuat ajaran. Coba aja lihat dalam situs katolisitas.org, jawaban-jawaban yang diberikan para teolog di sana selalu didukung oleh kutipan-kutipan dokumen Gereja, ayat Alkitab, atau tulisan dari orang kudus. Ini artinya mereka mengakui, bahwa mereka hanya perpanjangan tangan Gereja.

Gw ingin mengajak kita semua untuk bijak dan mencoba mempelajari ajaran agama masing-masing dengan kerendahan hati. Bukan supaya kita menjadi hebat, tapi supaya kita dapat memahami, mana perilaku yang sesuai dengan ajaran Gereja, dan mana perilaku yang tidak sesuai ajaran Gereja, siapa pun pelakunya, baik awam, biarawan-biarawati, imam, uskup, atau bahkan Bapa Suci kita di Vatikan. Dan tentu saja terutama, supaya kita tahu bagaimana kita harus bersikap sebagai orang beriman dan menjadi semakin dekat dengan Tuhan.

Akhir kata, Venerable Fulton Sheen pernah berkata, "Judge the Catholic Church not by those who barely live by its spirit, but by the example of those who live closest to it." Hanya orang yang hidup sesuai dengan semangat dan ajaran sebuah agama lah yang dapat menjadi cerminan dari agama tersebut.

Mungkin tulisan ini bisa menjadi refleksi aja bagi kita yang beriman dan beragama. Untuk mereka yang ateis dan agnostik, yah... Mungkin bisa lupakan saja semua curhatan dalam post ini, dan hiduplah berdasarkan moral yang kalian percayai benar.

Tuesday, October 4, 2016

Song of the Day: Crazy by Simple Plan

"Tell me what's wrong with society
When everywhere I look I see
Rich guys driving big SUVs
While kids are starving in the streets
No one cares
No one likes to share
I guess life's unfair


Is everybody going crazy?
Is anybody gonna save me?
Can anybody tell me what's going on?
Tell me what's going on?
If you open your eyes
You'll see that something, something is wrong
"


Lagu ini udah tua sebenarnya, katanya albumnya release tahun 2004. Tapi gw yang katrok dan ketinggalan zaman ini baru denger lagu ini baru-baru ini. Hahahahaha...

Kemarin ini pas gw dengerin lagu ini dan bener-bener perhatiin liriknya, gw ngerasa lagu ini pantas dapat shoutout, karena apa yang dipertanyakan dalam lagu ini memang bener terjadi di masyarakat kita, dan kadang kita masih sering menutup mata akan kejadian-kejadian ini.

Keluarga broken home.
Perang.
Kesenjangan ekonomi.
Obsesi akan beauty dan uang.
Itu semua memang ada di masyarakat kita, bahkan kadang dianggap normal.

Kenapa sih bisa sampai masyarakat kita jadi begini? Kita jadi sebegini kebal dan berkulit badak sama masalah-masalah yang ada di sekitar kita. Dari mana sebenarnya kita bisa mulai memperbaiki kondisi ini?

Sejujurnya, gw juga ngga tahu harus mulai dari mana kecuali mulai dari diri kita sendiri. Masalahnya, sulit banget untuk satu orang berusaha membawa perubahan positif. Kita bisa lihat sendiri contohnya di perpolitikan sekarang. Muncul nama-nama yang mati-matian berusaha membersihkan pemerintahan kita, tapi mereka malah sering dijegal kanan-kiri. Bukan cuma dijegal orang-orang yang takut kehilangan harta dan kuasa, banyak juga orang-orang terlalu nyaman "hidup dalam kubangan lumpur", sampai-sampai ketika mereka dikasih kesempatan untuk hidup lebih layak, mereka memandang tangan yang kasih mereka kunci itu dengan kecurigaan dan penolakan.

Itu baru contoh di dunia politik. Di dunia entertainment, banyak banget tayangan-tayangan yang ngga jelas dan ngga bermutu. Sepertinya ngga ada niat dan upaya untuk coba belajar dari tayangan-tayangan luar negeri yang sukses dan laris manis di dunia internasional. Contoh yang paling gampang, kita bandingin aja serial TV yang sukses di luar negeri dan sinetron dalam negeri. Serial TV luar negeri yang sukses kebanyakan hanya sedikit episodenya per season, tayang mingguan, dengan jeda tayang per tahun atau per semester yang cukup lama. Dengan begitu, mereka bisa memproduksi tayangan yang memang benar-benar bermutu, baik secara visual, maupun secara produksi. Tapi di sini? Yah kita bisa lihat sendiri yah di TV keadaannya bagaimana. Kapan bisa berubah? Mungkin butuh satu orang nekad dan gila yang berani rogoh kocek untuk memulai trend baru.

Jadi agak ngelantur nih ke mana-mana, tapi intinya ini:
Kenapa yah, kita ngerasa nyaman hidup di kekacauan ini? Hmmm...

Crazy by Simple Plan

Tuesday, September 27, 2016

Song of the Day: "Wish That You Were Here" by Florence + the Machine

"I never minded being on my own
Then something broke in me and I wanted to go home
To be where you are
But even closer to you, you seem so very far
And now I'm reaching out with every note I sing
And I hope it gets to you on some pacific wind
Wraps itself around you and whispers in you ear
Tells you that I miss you and I wish that you were here"

Gw udah kecanduan lagu ini sejak beberapa hari yang lalu, sampai-sampai gw yang tadinya mau nulis tentang lagu Somedays dari Regina Spektor memutuskan untuk tunda lagi bahas lagu itu.

Ada dua hal yang bikin gw suka banget dengan lagu ini. Pertama, liriknya yang puitis banget. Kedua, dari aransemennya yang menurut gw bagus.

Ingat ngga, gw pernah bilang kalau gw suka lagu Open dari Regina Spektor karena aransemennya bisa benar-benar menunjukkan kelegaan. Kali ini juga begitu. Waktu dengar lagu ini, rasanya seakan bisa membayangkan pantai yang berbatu-batu, lalu ada ombak yang menerpa batu-batu tersebut. Kita seakan mendengar sebuah lagu yang lagi dinyanyikan di pantai tersebut, dan setiap not lagunya terasa seperti terbawa angin di pantai tersebut.

Florence + the Machine memang udah lumayan lama masuk daftar favourite female Western singer gw, tapi karena masih kalah "ranking"-nya dari Regina Spektor di daftar gw, jadinya agak jarang gw bahas di mana-mana. Lagu-lagunya heartfelt dan puitis banget.

Nah, lagu ini, Wish That You Were Here adalah lagu barunya yang dijadikan soundtrack untuk film Miss Peregrine's Home for Peculiar Children, yang masih belum gw tonton (tapi sebenernya pengen banget nonton). Selain lagu ini, gw suka juga dengerin lagu Dog Days Are Over, Too Much is Never Enough, dan Never Let Me Go. Sangat recommended untuk orang-orang yang suka lagu-lagu yang lebih heartfelt dan ngga sekadar catchy aja.

Enjoy!

Wish That You Were Here, by Florence + the Machine

Thursday, August 25, 2016

Song of the Day: Perfect by Simple Plan

"Nothing's gonna change the things that you said
Nothing's gonna make this right again
Please don't turn your back
I can't believe it's hard just to talk to you
And you don't understand

'Cause we've lost it all
Nothing last forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late
And we can't go back
I'm sorry I can't be perfect"

Gw sempat bingung tadi, bait mana yang mau ditampilin sebagai pembuka post ini, karena sebenarnya semua bagian dari lagu ini seperti satu rangkaian surat yang saling berkaitan. Tapi akhirnya, gw settle dengan bagian bridge dan refrain dari lagu ini aja.

Gw sebenarnya tadinya ngga merencanakan nulis tentang lagu ini. Tadinya gw mau nulis tentang lagu Buildings atau Somedays dari Regina Spektor yang akhir-akhir ini sering gw dengerin. Tapi mendadak pagi ini, lagu Perfect dari Simple Plan ini hit me like a ton of bricks.

Lagu ini secara keseluruhan berbicara mengenai kekecewaan seorang anak akan hubungannya dengan ayahnya yang merenggang karena perbedaan sifat dan pandangan. Si anak ingin menekuni hal-hal yang dia sukai, tetapi sang ayah tidak merestui. One thing leads to another, ada pertengkaran hebat, dan akhirnya mereka putus hubungan.

Yang membuat lagu ini benar-benar ngena hari ini, adalah ketika otak gw mendadak menarik garis merah antara lagu ini dengan beberapa film yang gw tonton akhir-akhir ini, yaitu Alice Through the Looking Glass dan Facing the Giants. (Kalau ada yang belum nonton Alice Through the Looking Glass, minor spoiler warning ahead.)

Dalam Alice Through the Looking Glass, kita bisa melihat bahwa hubungan Mad Hatter dengan ayahnya persis seperti di lagu ini. Mereka berbeda jauh. Hatter ingin membuat topi-topi yang fun dan unik, sementara ayahnya merasa profesi pembuat topi harus ditekuni dengan serius dan tidak main-main.

Lalu dalam Facing the Giants, ada seorang supporting character (namanya Matt) yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya, persis juga seperti lagu ini. Dia merasa ayahnya terlalu otoriter dan tidak supportive akan pilihan-pilihan hidupnya. Dia merasa tidak didengarkan oleh ayahnya.

Tapi yang menarik adalah, dalam kedua film ini, pada akhirnya mereka bisa saling akur. Bagaimana bisa?

Kita lihat dalam Alice Through the Looking Glass, seberapa pun berbedanya filosofi Mad Hatter dan ayahnya mengenai profesi topi, ayah Mad Hatter ternyata sangat bangga akan hasil karya anaknya. [minor spoiler] Ia memang bertengkar dengan Mad Hatter kecil dan membuang topi pertama yang dibuat Mad Hatter, tapi ketika semua orang sudah pergi, diam-diam ia mengambil topi kecil itu dari tong sampah dan menyimpannya [minor spoiler].

Di film Facing the Giants, hubungan Matt dan ayahnya membaik drastis ketika Matt akhirnya berkata kepada ayahnya, "I'm sorry. [...] Whatever you say goes." Maaf. Mulai sekarang, aku akan ikuti kata ayah. Ketika mendengar itu, ayah Matt tertegun dan hubungan mereka membaik. Bahkan akhirnya, ayah Matt pun mulai mencoba untuk mendengarkan dan mendukung Matt, baik di sekolah, di pertandingan football (ini American football yah), maupun di kehidupan sehari-hari.

Dalam kedua cerita di atas, kita bisa melihat, bahwa betapa pun buruknya hubungan antara orang tua dan anak, rasa kasih itu tetap ada. Yang seringkali menghalangi kita berelasi dengan baik dengan orang tua adalah keras kepala dan tidak mau mendengar, baik dari pihak orang tua maupun pihak anak. Ayah Mad Hatter akhirnya memutuskan untuk mulai mendengar dan menghargai aspirasi Mad Hatter dalam membuat topi. Matt akhirnya memutuskan untuk mulai mendengarkan apa kata ayahnya.

Komunikasi yang ideal adalah komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah yang ideal adalah ketika yang satu memberikan informasi dan yang satu mendengar, secara bergantian. Inilah yang perlu kita ingat dalam hubungan kita dengan orang tua. No, scratch that. Inilah yang perlu kita ingat dalam hubungan kita dengan semua orang di sekitar kita. Sekali-kali, cobalah untuk diam, mendengar, dan memahami terlebih dahulu, sebelum kita ingin dipahami. Maka komunikasi akan menjadi lebih baik.

Perfect by Simple Plan, versi akustik

Sedikit curhat, hari ini gw senang banget karena waktu shuffle playlist di handphone, ternyata dapat lagu-lagu yang bagus bertubi-tubi, dari lagunya Lee Jin Ah, lagunya Yuzu, lagunya Regina Spektor, soundtrack-soundtrack Hunter x Hunter dan Corrector Yui, bahkan gw sempat ngintip, lagu berikutnya setelah gw stop playlist adalah salah satu lagu favorit gw dari film Anastasia, If I can learn to do it. Semoga hari ini bisa sebagus playlist gw pagi ini. Amin.

Thursday, August 4, 2016

My Music Routine: The Various "Genres"

Sudah lama gw ngga nge-post di blog ini. Rasanya kangen, tapi agak susah cari waktu untuk nge-post di sela-sela kesibukan.

Ada banyak banget sebenarnya lagu-lagu yang mau gw ulas selama ini: Brave (Sara Bareilles), Laughing With (Regina Spektor), the A Team (Ed Sheeran), Moshimo Kono Sekai de Kimi to Boku ga Deae Nakatta Nara (Sunflower's Garden), dan masih banyak lagi... Saking bingungnya mana yang mau ditulis dulu, akhirnya gw memutuskan untuk nge-post soal hal lain dulu, yaitu cerita-cerita dikit mengenai beragamnya lagu yang gw dengerin setiap harinya.

Belum lama ini gw ganti handphone. Handphone Sony Xperia Go gw yang udah usang dan lemot diganti dengan handphone Sony Xperia Z5 yang jauh lebih baru dan cepat (dan jauh lebih besar juga). Oleh karena itu, akhirnya gw bisa lebih bebas memasukkan lagu-lagu ke dalam handphone untuk didengarkan sehari-hari. Dari yang tadinya at most cuma ada 150 lagu, sekarang jumlah lagu di handphone gw bisa sampai 300.

Gara-gara meningkatnya kapasitas, lagu yang bisa gw dengar sekarang semakin beragam. Dulu gw harus seleksi lagu-lagu yang mau masuk ke handphone. Akibatnya, ada genre tertentu yang ngga bisa masuk ke dalam handphone akibat kapasitas yang penuh. Sekarang, lagu-lagu di handphone gw jadi sangat beragam genrenya. Gw mau bahas beberapa "genre" yang gw sering dengerin akhir-akhir ini.

J-Pop
Gw sudah pernah cerita kalau akhir-akhir ini gw banyak dengerin lagu-lagu Yuzu dan Chihiro Onitsuka. Semakin lama, perbendaharaan lagu J-Pop gw semakin bertambah nih, tapi bertambah ke arah yang spesifik, yaitu: soundtrack anime lama.
Contohnya aja lagu yang sempat mau gw bahas kemarin ini tapi belum sempat dibahas, yang judulnya panjang banget dan udah gw sebut di atas. Lagu dari Sunflower's Garden itu adalah soundtrack dari anime Hunter x Hunter (1999). [Tadinya gw salah sebut, bilangnya lagu itu soundtrack Yu Yu Hakusho. Maaf yah, yang lagunya Yu Yu Hakusho itu judulnya Smile Bomb, yang sering gw dengar juga akhir-akhir ini.] Lalu ada juga Requiem dari Satsuki, soundtrack anime Corrector Yui. Dan my personal favourite, Taiyou wa Yoru mo Kagayaku dari Wino, soundtrack Hunter x Hunter versi 1999 pas Yorknew Arc.
Taiyou wa Yoru mo Kagayaku, by Wino

Gw senang dengerin soundtrack anime lama karena dua alasan: satu, nostalgia, dan dua, karena liriknya yang kayaknya punya dua setting aja, antara nyeleneh atau sangat warm.
Dan tentunya faktor interest gw akan bahasa asing, termasuk bahasa Jepang, membuat penilaian gw agak bias yah dalam kasus ini. Hehehe...

Rock
Yap, gw akhir-akhir ini senang dengerin musik rock juga. Contohnya seperti lagu-lagunya Avril Lavigne dan Simple Plan.
Yang menarik dari lagu-lagu rock dari beberapa tahun yang lalu (gw ngga terlalu ngikutin lagu rock yang baru) adalah liriknya yang malah lebih puitis daripada lagu-lagu pop yang katanya lebih mellow.
Contohnya, Leave Out All the Rest dari Linkin Park.
"When my time comes, forget the wrong that I've done. Help me leave behind some reasons to be missed. Don't resent me and when you're feeling empty keep me in your memories, leave out all the rest, leave out all the rest."
Leave Out All the Rest, by Linkin Park
Bandingkan dengan, misalnya, the worst of the worst, lagunya Justin Bieber yang paling iconic: Baby. Beda banget rasanya.
Bukan berarti lagu pop saat ini ngga ada yang bagus. Ada Adele, Meghan Trainor, Ed Sheeran, Sara Bareilles, dan gw yakin dari musician yang ada dalam "blacklist" gw juga pasti ada satu-dua yang punya satu-dua lagu bagus. Tapi to be honest, kondisi lagu-lagu pop yang paling terkenal saat ini membuat gw agak malas berburu lagu pop bagus.

Scottish Gaelic
Gw sudah pernah sedikit cerita mengenai salah satu lagu Scottish Gaelic yang gw dengerin. Kali ini gw mau cerita mengenai "genre"-nya. Sebenarnya ini bukan genre sih. Hanya saja, gw ngga tahu genre apa ini termasuknya. Hehehe...
Lagu-lagu Scottish Gaelic yang gw dengerin hampir semua datangnya dari Julie Fowlis. Kenapa? Karena gw suka dengan suaranya yang bersih, jernih, dan ringan.
Lagu-lagu Scottish Gaelic seringkali membuat gw merasa bebas dan lepas. Dengan mendengarkan aja, gw bisa membayangkan gimana rasanya berdiri di tengah padang rumput luas, dengan sinar matahari yang hangat dan angin yang sejuk. Lalu di kejauhan ada reruntuhan bekas kastil yang membuat gw pengen banget lari ke sana untuk melihat reruntuhan itu sambil menikmati bebasnya lari-larian di padang itu.
Di sisi lain, ada juga lagu-lagu Scottish Gaelic yang membuat gw merasa kayak sedang merayakan sesuatu di sekitar api unggun. Iramanya ringan, cepat, dan sederhana. Membuat gw pengen bergoyang-goyang mengikuti iramanya, atau bahkan menari jig. Atau membuat gw pengen lompat-lompat aja (gw suka banget lompat-lompat).
Hùg Air A' Bhonaid Mhòir, by Julie Fowlis

Ini daya tarik utama yang membuat gw suka dengan lagu-lagu Scottish Gaelic, yaitu suasana yang unik yang nggak gw dapat dari lagu-lagu lain.

Regina Spektor
Nah loh, tadi bukan genre, yang ini malah nama... Ini maunya apaaaaa.......... Hahahahaha...
Menurut gw, Regina Spektor itu ngga bisa dikelompokkan dalam sebuah genre. She has her own style yang ngga gw temukan dalam lagu-lagu dari penyanyi lain.
Yang menarik dari Regina Spektor adalah lirik lagu yang beragam dan dalam. Lirik lagunya ada yang humanis, ada yang religious, ada yang sarkastis, dan on the other end of the spectrum, ada yang sekilas terdengar mundane, tapi sebenarnya agak deep.
Regina Spektor juga ngga membatasi dirinya dalam satu genre. Kadang lagunya terdengar sangat folk, kadang terdengar pop, kadang rock, kadang jazz, kadang.... Just simply eccentric.
You've Got Time, by Regina Spektor
(lagu ini sempat dinominasikan Grammy, walaupun nggak menang)

Gw sebenarnya pengen bahas Regina Spektor dalam post "Girl Power" yang gw pernah rencanain (dan belum ditulis), bersama dengan Julie Fowlis, Lee Jin Ah, dan beberapa penyanyi dan musisi wanita yang sangat berpengaruh dalam selera musik gw. Mungkin gw akan bahas style Regina lebih jauh dalam post itu nanti.


Sebenarnya bukan cuma empat genre ini yang gw suka dengerin sehari-hari. Masih ada lagu-lagu musical theatre, seperti lagu-lagu dari Phantom of the Opera, Les Miserables, dan yang paling eksentrik, dari Sweeney Todd (yang kayaknya gw pernah ulas filmnya di blog ini). Masih ada juga lagu-lagu lawas, beberapa lagu pop yang menurut gw lumayan bagus, lalu ada lagu-lagu K-Pop, dan beberapa soundtrack film dan TV series. Kapan-kapan mungkin akan gw bahas, but this post is already long enough. Semoga gw bisa segera cerita-cerita hal-hal lainnya dalam post yang lain. :)

Tuesday, June 14, 2016

Song of the Day: No by Meghan Trainor

"My name is... No.
My sign is... No.
My number is... No.
You need to let it go."

Gw ngga biasanya dengerin lagu pop. Apalagi lagu pop masa kini, karena banyak banget trashy pop saat ini. Tapi ngga semua lagu pop saat ini trashy pop, dan Meghan Trainor adalah salah satu penyanyi pop saat ini yang lagu-lagunya ngga trashy. Lagu-lagu Meghan Trainor menurut gw cukup smart. Ngga banyak penyanyi saat ini yang makna lagunya semenarik lagu-lagu Meghan Trainor (dan Regina Spektor. Ehem.)

Makna lagu ini cukup ngena di keseharian kita saat ini, terutama untuk para cewek.

Kenapa cewek harus selalu kasih alasan untuk bilang 'nggak'?

Sebel nggak sih, kalau kita udah bilang 'nggak', tapi tetaaaaap aja dikejar-kejar terus dan ditanya, 'kenapa?'. Kadang kala, kita sampai dipaksa-paksa untuk ikutin maunya orang lain sampai kita bilang kenapa kita bilang 'nggak'. Padahal, setiap orang punya alasan sendiri untuk bilang 'nggak', dan mungkin alasan itu bukan alasan yang mau diumbar ke orang-orang. Mungkin juga, ada orang yang ngga mau bilang alasan kenapa mereka menolak karena mereka mau orang itu belajar sendiri kenapa permintaannya ditolak.

Gw jadi teringat video buzzfeed berikut:

Persis seperti pesan video buzzfeed di atas: WHY ISN'T NO ENOUGH?

Dalam lagu Meghan Trainor, kasus yang diangkat adalah ketika ada cowok yang ngejar cewek, dan cewek tersebut bilang nggak. Tapi sebenarnya, ini berlaku juga untuk semua orang dalam banyak kesempatan.

Misalnya, ketika diajak jalan-jalan, siapapun, baik cewek maupun cowok, berhak bilang nggak ikutan karena alasannya sendiri. Kadang kita memang lagi ngga mau keluar rumah. Kadang kita lagi ngga bisa keluar rumah karena ada sesuatu yang harus diurus di rumah. Kadang kita ngga bisa keluar rumah karena ngga dikasih izin. Kadang karena semua hal tersebut sekaligus. So what? Apakah cuma karena kita harus kasih alasan, kita harus berbohong dan bilang kita lagi sakit, karena ini alasan yang paling gampang diterima orang.

Kalau menurut gw, kita harus hormati keputusan seseorang untuk bilang 'nggak'. Tanya kenapa sekali boleh lah, tapi kalau orang itu ngga mau kasih alasannya, menurut gw ya sudah, jangan dipaksa dan jangan ditekan untuk kasih alasannya. Dari awal kan kita bertanya kepada orang itu, bukan menyuruh orang itu. Itu artinya dari awal kita memberi dia hak untuk menolak. Hargai privasi dan hak dia untuk bilang 'nggak'.

Seperti biasa, gw akan attach video lagu No, tapi kali ini, gw akan attach lagu cover versi Pentatonix. Entah kenapa, gw lebih enjoy dengerin cover versi Pentatonix. Mungkin karena Avi Kaplan dan Kevin Olusola? They did a very great job on the bass and percussion in this song. As usual. Haha. Tapi biar gimana juga, versi originalnya Meghan Trainor juga luar biasa. Go check that one out too!

No - Pentatonix (Meghan Trainor cover)

Monday, June 6, 2016

Song of the Day: Consequence of Sounds by Regina Spektor

"Did you know that the gravedigger's still getting stuck in the machine even though it's a whole other daydream
It's another town, it's another world, where the kids are asleep, where the loans are paid, and the lawns are mowed
Whad'ya think? All the gravediggers are gone? Just 'cause one song is done there's always another one
Waiting right around the bend till this one ends then it begins squeaky clean and it starts all over again
The weather report keeps on tossing and turning, predicting and warning, and warning, and warning of
Possible leakage from news publications and, possible leakage from news TV stations
That very same morning right next to her coffee she noticed some bleeding and heard hollow coughing and
National Geographic was being too graphic when all she had wanted to know was the traffic
'The world's got a nosebleed', it said, 'and we're flooding but we keep on cutting the trees and the forest'
And we keep on paying those freaks on the TV who claim they will save us but want to enslave us
And sweating like demons they scream through our speakers but we leave the sound on 'cause silence is harder
And no one's the killer and no one's the martyr, the world that has made us can no longer contain us
And profits are silent then rotting away 'cause

The consonants and vowels, the consequence of sounds"

Yang di atas itu adalah apa yang terjadi kalau Regina Spektor nyanyi rap.
It's like a barrage of big words raining down on us, and I don't think a single word of it is just there for decoration.

Sama seperti judul lagu ini, yang gw pelajari dari lagu ini adalah bahwa setiap suara yang kita keluarkan itu bermakna. Setiap konsonan, setiap vokal, setiap bunyi, itu bermakna. Pertama-tama kita lihat dari pemilihan genre, lalu kita lihat dari pemilihan kata-kata di lagu ini.

Menurut gw, yang menarik dari lagu rap adalah dengan tidak banyak bermain melodi, permainan rhythm dan kata-kata menjadi fokus utama dari lagu tersebut, dan ketika kita tidak berfokus pada melodi, maka makna lagu menjadi lebih stand out, terutama pada lagu ini. "The consonants and vowels, the consequence of sounds". Demikian lirik reff lagu ini. Seperti pada lagu rap, setiap konsonan dan vokal membentu kata-kata yang memberikan impact, dan impact inilah yang menjadi permainan dalam lagu rap.

Banyaknya big words yang dipakai di lagu ini menurut gw menarik. Ada impression yang berbeda antara ketika kita menggunakan kata-kata yang rumit dengan ketika kita menggunakan kata-kata sederhana. Kata-kata yang sederhana memiliki makna yang lebih umum dan cenderung membuat kita terdengar lebih down to earth. Sementara itu, kata-kata rumit cenderung memiliki makna yang spesifik. Kata-kata rumit membuat kita terdengar lebih intelligent.
Sebagian besar lagu rap yang beredar saat ini menggunakan kata-kata yang sederhana dan menceritakan hal-hal yang ada di sekitar kita, tapi Regina Spektor memilih menggunakan kata-kata yang rumit, dan itu langsung membuat perbedaan yang besar pada impact yang dibawa oleh lagu ini.

Dari lagu ini gw belajar, kita harus belajar untuk mengendalikan makna apa yang kita sampaikan lewat kata-kata yang kita keluarkan. Setiap kata itu bermakna dan memiliki impact. Kita harus memilih, apakah kita mau membawa impact yang membangun, atau kita mau membawa impact yang merusak.

Apakah kita memilih untuk menyampaikan sukacita, atau kita mau menyampaikan gosip saja?

Menurut gw inilah poin utama dari lagu ini.

Tentu saja masih ada hal lain yang bisa kita pelajari dari lagu ini. Setiap baris dari lagu ini seakan-akan mau menyampaikan hal-hal yang berbeda-beda. Ada baris yang menurut gw menyampaikan bahwa masalah kita tidak akan pernah habis. Kita harus selalu siap menghadapi masalah yang sebentar lagi juga akan muncul. Sementara di bagian lain, seakan-akan berbentuk kritik akan ketergantungan kita pada media. Tapi sepertinya malah cocok dengan lagu ini, karena Regina seperti berusaha untuk menyampaikan sebanyak-banyaknya hal lewat kombinasi konsonan dan vokal dalam lagu ini. Hehehe...

Kali ini gw post video lagu ini yang ada liriknya. Enjoy! :D

Wednesday, May 18, 2016

Song of the Day: Call Them Brothers by Regina Spektor and Only Son

"That's it, it's split, it won't recover
Just frame the halves, and call them brothers
Find your fathers and your mothers
If you remember who they are"

Gw punya kebiasaan membuat playlist yang isinya bisa sampai 80-100 lagu, lalu setiap hari gw shuffle aja playlist itu, dan untung-untungan lagu apa yang hari itu kebagian gw denger. Kebiasaan ini baru gw lakukan lagi beberapa hari terakhir, sejak gw mulai pakai jam tangan, dan kebiasaan inilah yang mengantar gw pada post hari ini.

Beberapa hari lalu, gw shuffle playlist gw lagi, dan lagu ini diputar lagi setelah sekian lama ngga gw dengerin. Dan efeknya instan, gw langsung senyum karena kangen, diikuti dengan senyum pahit karena memang makna lagunya pahit banget. Seenggaknya interpretasi gw akan lagu ini bener-bener pahit.

Setiap gw dengerin lagu ini, yang kebayang di kepala gw adalah perang dan efek dari perang itu, terutama Perang Dunia II. Di akhir Perang Dunia II, Jerman dibagi menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, lalu dibuat Tembok Berlin untuk memisahkan kedua negara itu. Gw ngga kebayang, gimana perasaan orang-orang yang mungkin terpisah dari keluarganya karena tembok itu. Dan lebih lagi, gimana perasaan orang-orang ketika tembok itu diruntuhkan.

Saat ini, dalam hidup kita juga sering membuat "perang" dan "tembok pemisah". Yang paling bahaya adalah ketika kita membuat "perang" dan "tembok pemisah" dari diri kita sendiri. Ini adalah perang yang paling berat yang kita mulai dan kita alami dalam hidup kita, dan efeknya pasti akan terlihat dalam hubungan kita dengan orang lain.

Bagaimana kita bisa berdamai dengan orang lain, kalau kita masih berperang dengan diri kita sendiri?
Bagaimana kita bisa bersatu dan menerima orang lain, kalau kita masih membangun tembok pemisah antara hati dan pikiran kita?
Bukankah kita punya hati dan pikiran, dengan tujuan agar keduanya bersinergi, bergantian mengambil keputusan untuk mencapai kondisi terbaik?

Haaaahhh... Waktu mulai nulis post ini, gw ngga duga gw akan menyentuh sedikit dari masalah yang gw sendiri alami dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perang dengan diri kita sendiri. Mungkin sudah waktunya kita mulai menyadari bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Video klip Call Them Brothers

NB: Sedikit latar belakang aja, baik Regina Spektor maupun suaminya, Jack Dishel (Only Son), sama-sama berasal dari Moscow, namun pindah ke Amerika sejak kecil karena diskriminasi akan kaum Yahudi di Soviet waktu itu. Rasanya bagian lirik yang menceritakan "We'll be out in the streets before anyone knows that we're gone" jadi lebih dalam ketika tahu bahwa mereka memang benar-benar mengalami hal itu.

Monday, May 9, 2016

Song of the Day: the Call (No Need to Say Goodbye) by Regina Spektor

"Just because everything's changing doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are as you head off to the war
Pick a star on the dark horizon and follow the light
You'll come back when it's over, no need to say goodbye"

Aaaaahhh... Sudah lama ngga nulis di blog ini... Ada banyak banget lagu yang pengen gw bahas, tapi belum sempat gw tulis karena belum bisa curi-curi waktu. Ada Wonderful World dari Yuzu, ada As you please dari Lee Jin Ah, ada Blue Lips dari Regina Spektor... Tapi akhirnya, ketika gw ada waktu untuk nulis, gw milih untuk pilih lagu yang lebih ringan: the Call (No Need to Say Goodbye), dari Regina Spektor.

Sebenarnya yang bikin lagu ini nyantol banget di hati gw, faktor yang paling besar adalah nilai sentimental. Gw pernah bilang kalau Eet dan Fidelity adalah lagu-lagu pertama yang gw denger dari Regina Spektor. Tapi lagu inilah yang memperkenalkan gw kepada Regina Spektor. Buat yang belum tahu atau belum sadar, lagu the Call ini adalah soundtrack film Chronicles of Narnia: Prince Caspian, dimainkan waktu scene para Pevensie kembali dari Narnia ke dunia nyata.

Tapi walaupun yang berperan besar adalah nilai sentimental, bukan berarti lagu ini cuma ear candy buat gw. Gw suka lagu ini, karena lagu yang dibuat untuk film Prince Caspian ini memang benar-benar isinya cocok untuk film itu. "You'll come back when they call you" mengingatkan gw bahwa kembalinya para Pevensie ke Narnia kali ini adalah karena mereka dipanggil oleh Caspian, dan mereka akan kembali lagi ke Narnia ketika mereka dibutuhkan lagi.

Selain itu, dalam konteks terpisah dari filmnya, isi lagu ini sangat hopeful. Bisa dibayangkan kalau lagu ini menggambarkan kata-kata perpisahan antara dua orang yang masih berharap bisa bertemu kembali. "No need to say goodbye", tidak perlu mengucapkan salam perpisahan, karena mereka yakin mereka akan bertemu lagi. Gw suka banget perasaan yang yakin dan penuh harap yang bisa gw rasakan ketika gw dengerin lagu ini. Kayaknya tenang dan menguatkan.

Mungkin kali ini tulisan gw ngga terlalu dalam, atau ngga penuh dengan "makna kehidupan". Tapi sebenarnya menyenangkan juga sekali-kali membahas lagu yang ringan. Istilahnya, kalau setiap hari kita makan makanan yang bumbunya kuat, lama-lama kita eneg juga kan? Hehehe...